August 23, 2017

Ini bukan postingan yang melibatkan banyak riset, jadi tolong jangan ditelan mentah-mentah ya. Penuh dengan opini.

Mau cerita tentang pikiran-pikiran yang muncul setelah nonton film Battleship Island yang baru saya tonton beberapa hari lalu bersama teman-teman. Kalau kamu belum nonton, nggak baca juga nggak apa-apa haha. Atau baca sinopsisnya dulu aja biar lebih jelas.

Film ini secara umum memperlihatkan perbudakan di zamannya Jepang menjajah Korea. Yang paling nempel dari awal sampai akhir film adalah kebiadaban Jepang ketika menjajah, sih. Dari situ saya jadi mulai membayangkan scenes waktu Indonesia dijajah Jepang. Nggak tega.

Masalahnya gini, saya, yang udah 22 tahun hidup di Indonesia, baru bener-bener kepikiran tentang kekejaman penjajah di Indonesia pada umur yang segini. Ironis, ya? Menurut saya hal-hal kayak gini yang bikin kebanyakan orang Indonesia nggak nasionalis. Karena nggak kenal sama sejarah bangsa sendiri.

Entah saya yang kurang effort, atau memang hal-hal krusial mengenai perjuangan Indonesia nggak ditanamkan dengan mendalam di negara kita. Nggak tau sih, ya, padahal patung-patung pahlawan banyak, museum sejarah di Indonesia juga sudah mulai direvitalisasi dan diperbanyak lagi, cerita tentang sejarah Indonesia juga nggak diumpetin di buku-buku pelajaran (mungkin ada beberapa yang diumpetin, tapi seenggaknya nggak seketat Jepang, sih).

Tapi dari film ini saya belajar bahwa edukasi mengenai sejarah bangsa sendiri itu penting, dan mungkin Indonesia perlu melibatkan media-media baru dalam mengedukasi masyarakatnya.

Tambahan:
This wiki article triggers my thoughts. Kamu bisa cobain baca, dan lihat kamu bakal kesel apa enggak hahaha. https://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_war_crimes

Things, Scattered

July 04, 2017

1. HAPPY EID.

I spent my eid week mostly with my family, went out for meals, outdoor picnics, and malls. Mostly malls, because it's Jakarta. Yet after almost a week I spent here I didn't think of any place, padahal bisa mengunjungi art galleries or museums. But I'm not sure if they're open, though. Anyway, spending time with family is priceless. My most favorite place of all is Gunung Pancar located in Sentul. THERE ARE LOTS AND LOTS OF PINES uh my favorite. Pine forest kind of remind me of fantasy books. Loving its calming vibes. Padahal di Sentul itu nggak calming-calming banget sih haha panaasss. But it's okay.



2. Being selfish while understanding others

THAT'S JUST one impossible task to comprehend. I used to see it as one paradoxical state of mind, because come on, you cannot possibly being selfish yet still manage to understand people. I think maybe it's because when I am with somebody I love I tend to place myself after them, and after I learned about myself it always naturally happens that way. By doing this I kind of overlook their traits, I thought I knew them but I actually don't. I mean, I think you wouldn't fully understand them when you haven't understand yourself first.

Also I was kind of researching about MBTI character types while ago, to finally found myself astonished at how people could be so, so different. And so I made peace with myself, this kind of a spiritual journey for me lol, but really. Forgiving yourself is never easy. Forgiving self leads to accepting self. Accepting self leads to understanding self. Understanding self leads to understanding others. And that, mate, leads to forgiving others. Really, guys. I'm still in the process of all that, but to make peace with yourself and make peace with whatever emotions people gave you, is such a huge step forward.

And that's what I mean by being selfish. To understand, to accept yourself first before others. And while doing that you will find yourself accepting others, and for me it kind of set clear boundaries, I guess?

I thought of writing a single post about this but naaaaaah so many things going on inside my brain I need to pour them all first.

3. Friends are getting engaged

Yeah, that. If you ask me about when I will reach that stage, I could really write a single post about it because I don't have any straight answer (actually I have. It's: IDK). To be honest, can't see me having that in the near future (but only God knows amirite). Anyway, we won't talk about that.

I want to talk about the feelings those moments gave me. Seeing friends getting engaged here and there makes me realized that in the end the right one will come to you in the right time. Whether you wait for him or not. And we will, I repeat, we will, finally come across someone who has the same lame jokes like us, who understands us, who sees us as we are. And that thought soothes me. These chasing games were so tiring, weren't they? I think we should stop (I'm still trying, pls don't judge me), and you know, just live life to the fullest. So when we meet him we can be a whole piece of bubbly human being, not trying to complete each other, but to both agree to live a life as a partner together. TSAH teorinya mah gitu sih.

Happy for them. I'd love to shop some pairs of baju kondangan.

4. Graduation is coming

I'm so excited yet scared.

-

That's all for now. It's very scattered here inside my brain. Wishing you a wonderful days ahead.

Yours truly.

Defending A Cause or A Mere Internet Persona?

April 25, 2017


Sejujurnya saya udah dua kali bikin draft mengenai pandangan saya tentang perempuan dan perannya untuk pendidikan dan nikah muda. Ya, di antara banyak opini-opini yang bisa kita temukan dengan gampang di Line, saya masih gatel buat ngomongin itu di sini.

Sebenernya postingan ini nggak berkaitan dengan topik itu, karena justru lebih luas lagi.

Begini, sekarang gampang banget buat mengemukakan pendapat perihal apapun di internet, orang-orang juga gampang bacanya. Sejujurnya saya seneng sama fenomena tiba-tiba-banyak-self-made-article-di-Line karena seringkali lewat situ bisa membuka wawasan juga tentang perspektif orang di luar media-media mainstream yang sebenernya nggak kalah gampang buat diakses juga sih. Atau mungkin saya beruntung aja karena berada dalam circle dan lingkungan yang memudahkan akses akan pemikiran-pemikiran kritis orang-orang hebat. Ya, pokoknya saya bersyukur karena bisa berada di lingkungan yang mendorong saya untuk lebih terbuka lagi pikirannya.

Tapi, tapi, sebagaimana ujian dalam aspek kehidupan kita semua (sedhap), artikel yang memuat pemikiran kontroversial ini biasanya jumlah likes, comments, dan sharenya banyak (biasanya yha, kalo di Line kan begitu ya, How to gain an Internet Fame via Line 101). Dan sadar nggak teman-teman, kalau ini adalah juga berupa ujian terhadap ke-humble-an dan niat awal kita?

If you defending a cause, good! It's one of the good method to raise awareness, I must say. Line atau Instagram Story, yang sering kita anggap perannya 'yaudala ya cuma buat share doang' itu sebenernya powerful, lho, menurut saya. Target marketnya jelas, platformnya nggak seserius itu sehingga nggak bikin orang males buat baca. Powerful lah menurut saya mah. Saya juga suka sama orang-orang yang defending a cause, meskipun misalnya bertentangan sama pendapat saya, tapi saya selalu dapet perspektif baru dari situ.

Terus apa hubungannya sama humble dan ujian dari likes bejibun?

Saya sih selama ini mikirnya kalau orang bisa berpendapat sebijak itu sehingga dia bisa defending a cause, berarti dia juga punya kapabilitas untuk memilih dan mencerna konten yang baik atau kredibel, berarti dia open-minded dan siap untuk menerima feedback apapun dari konten yang dia bagi itu. Istilahnya tanggung jawab lah gitu sama kontennya. Misalnya ketika kamu defending a cause on animal abuse, konten yang kamu share juga harus kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan dong? Apa ini berarti kita nggak boleh salah? Padahal kan kita manusia, bisa banget salah kapanpun, mau segimanapun kita mengolah dan mencerna data dari luar.

Nah, itu dia maksud saya kenapa dalam berbagi pendapat dalam bentuk apapun, kita harus membarenginya dengan sikap humble. Sadar, kalau kita nggak selamanya benar, kita bisa aja salah, dan ilmu kita terbatas. Hal ini yang kemudian ngebawa kita pada sikap kita dalam menyikapi feedback dari orang-orang. Apa yang bakal kamu lakukan kalo ternyata ada orang lain yang menyodorkan ke kamu data-data yang lebih kredibel dan bertolakbelakang dengan konten yang kamu bagi? Marah? Bete? Ngehapus komen orangnya? Atau, bersikap humble, menerima perbedaan pendapat, dan mengakui kalau kita salah? Mana yang lebih bertanggungjawab?

Terus kenapa saya jadi bawa-bawa fenomena artikel self-made di Line? Karena likes, comments, shares, itu tuh ujian dan godaan buat orang-orang yang pengen kontennya dibaca. Dan sikap orang yang membagi konten dalam menyikapi likes, comments, shares dari orang lain itu tuh bisa nunjukin mana orang yang emang bener-bener pengen defending a cause to raise awareness, dan mana yang cuma pengen artikelnya dishare banyak orang so it can build her/his internet persona. Banyak, banyak banget orang yang ngakunya feminis, open-minded, tapi sekalinya ada komen yang perspektifnya bertentangan sama dia, nggak bisa nerima.

Ya, ini juga pendapat pribadi, dan bisa banget banyak salahnya. Cuma saya dan Tuhan yang tau niat saya bener apa enggak. Tapi saya nggak se-lepas-tanggung-jawab itu buat menghapus komentar feedback orang lain yang misalnya bertentangan atau lebih makes sense dari saya.

Saya mau berbagi, tapi saya juga mau belajar.

Theme by: Pish and Posh Designs