Logika

December 31, 2014

Kalau ada orang yang berpikir bahwa Agama nggak menyelesaikan masalah, dan lebih baik mengandalkan Hak Asasi Manusia;

Darimana kita tau, mana hitam, abu-abu, putih?

Darimana asalnya hitam, abu-abu, putih itu?

Darimana kita tau kalau manusia yang beradab adalah manusia yang memakai pakaian?

Darimana asalnya kewajiban menutup tubuh itu?

-

Katakan sama saya, karena saya bingung,

Kalau benar agama dan Tuhan tidak ada,

Kenapa kita bisa tau kalau telanjang di publik adalah hal yang salah, dan memakai pakaian adalah hal yang benar?

Kenapa kita bisa yakin kalau mencuri itu tercela, dan menghormati yang lebih tua adalah hal terpuji?

Darimana asal hukumnya?

HAM?

--

Maaf, ya. Logika saya kadang salah, jadi saya butuh yang cerah-cerah.

Pencerahan maksudnya.

Tapi senyum kamu juga boleh.

Ini Postingan Berisik

December 25, 2014

Jadi di tengah-tengah kesibukan yang melanda ini (iya, orang lain udah libur), kemaren-kemaren saya sempet nonton berdua sama ibu ke bioskop. 

Kita nonton film yang beda. Ibu nonton The Hobbit, saya nonton Supernova. Sebenernya saya pengen nonton The Hobbit tapi saya nggak ngikutin dari seri yang pertama. Bahkan saya belum nonton The Lord of the Rings sampe sekarang. Wakaka cupu. Pernah sih dulu niat pengen nonton, tapi gila aja di scene pertamanya ada makhluk yang serem itu tuh apa namanya, terus dishoot dari danau gitu, ADOOOH nggak deh ntaran aja.

Yak. Jadi kan kita berpisah nontonnya. Pas saya ngasih tiket ke mbaknya dan masuk studio, saya langsung disambut sama sound effect dari trailer film hantu coba. Kampret kan. Terus ya udah, saya ngintip aja kali-kali ada beberapa yang udah duduk. Taunya saya yang pertama dateng. Ah elah kesel banget. Jadi... saya balik lagi. Hhw, jadi malu.

Ternyata di pintu masuknya ada ibu-ibu lagi ngasih tiket gitu. Ya udah nggak jadi keluar. Saya pura-pura benerin tas biar jalannya pelan-pelan dan barengan sama ibu-ibu itu. Bahkan waktu naik tangganya saya sempet teriak, "Monyet, monyet." gara-gara sound effect trailer film hantu tadi yang ngagetin banget. KESEL. KENAPA. KENAPA HARUS ADA FILM HANTU DI DUNIA INI.

Ya udah cuma mau cerita itu aja.

Oh ya, film Supernovanya gimana, Ca?

Saya jatuh cinta sama videografinya! SUNGGUHAAN. Selama film diputer saya nggak berhenti mikir lho kenapa produksi Indonesia bisa sebagus itu. I mean, mereka ngetake laut dari atas tuh kayak di scene-scene film Harry Potter gitu! Ngetake jalan tol, perumahan, skyscrapers, laut, kota Washington DC, semuanya nggak mengecewakan dari sisi videografi. Kayaknya banyak banget make helikopter deh. Terus, terus, animasinya! Ah udah deh gak paham lagi. Animasinya tuh nggak sebatas animasi Upin Ipin gitu ngerti gak siiiih dbsjdfhajsgdhj. Dan ini film Indonesia dnsajkhdksfydtsy. Dari segi teknis (yha yang direview pertama adalah teknis, tidak melupakan background saya sebagai mantan anak broadcasting), hampir semuanya oke. Suka banget. Nggak kalah sama film-film hollywood. Tapi jangan dibandingin sama The Lord of the Rings juga ya, saya kan cuma memuji berlebihan di sini.

Ceritanya? Wah. Ini film adaptasi yang bener-bener diadaptasi dari novelnya deh kayaknya. Kayak nggak banyak dialog dan skrip yang berubah dari bukunya. Bukunya emang bikin pusing (in a good way). Sehabis baca kayak disoriented gitu. Saya kasihan sama yang nonton tapi belum baca novelnya. Mau ngerti apaan coba. Saya aja sampe sekarang kalo disuruh ngerangkum keseluruhan cerita masih tetep nggak bisa.

Cast-nya? Wedeeh. Junot lagi, Junot lagi. Raline Shah lagi, Raline Shah lagi. Sepertinya mereka udah sering banget muncul di dunia perfilman ya akhir-akhir ini. Tapi bukan berarti nggak bagus, lho. Junot di sini udah merepresentasikan Ferre dengan baik, dan pas. Dan ganteng. Dan lucu. Dan romantis. Dan ganteng. Dan ganteng. Dan ganteng. Raline Shah juga oke. Tapi memang terlalu glamor untuk seukuran Rana yang kayaknya nggak se-sosialita itu di novelnya. Tapi chemistrynya mereka berdua udah bagus aaah gemas! Yang lainnya, Fedi Nuril juga oke. Tapi kok agak serem ya di filmnya. Mungkin gara-gara tatapan matanya? Paula Varhoeven...? Vanhoeven? Iya, itu mbak Paula cantik sekali. Kurus tinggi kayak lidi. Tapi di beberapa dialog kurang dapet feelnya, mungkin mbak Paula harus berlatih lagi di intonasinya. Nggak. Apalah saya nyuruh-nyuruh orang lain berlatih???? Nggak tau diri dasar.

All in all, errr... bagus. Tapi yang paling berkesan dari film ini adalah videografinya, sekali lagi. Semuanya udah oke, cuma mungkin belum meninggalkan kesan mendalam. Kalo waktu nonton Van Der Wijk kan aktingnya Junot waktu memunggungi Hayati terus abis itu jalan di lorong pake jas kan WADUH keinget mas sampe sekarang. Top. Kalo di Supernova ini belum sampai kayak gitu.

Udah. 

Berisik kan post yang ini. Maaf ya. Abis kemaren-kemaren kayak mellow banget gitu, suram rasanya atmosfer blog ini. See ya soon, people! Doain ya tugasnya cepet selesai.

xx

Malu

December 20, 2014

Aku adalah buih lautan,
atom yang tak bisa dibagi lagi,
makhluk mikroskopis dalam skala galaksi.

Tapi
Engkau
selalu
ada

Hak Asasi Manusia, Katanya

December 19, 2014

Lucu rasanya kalau lihat pertanyaan-pertanyaan di ask.fm (orang). Lebih lucu lagi kalau baca jawaban-jawabannya, ya atau enggak?

Jadi tadi sore saya habis ujian matkul Agama. Di sana saya dikasih pertanyaan tentang undang-undang Indonesia yang melarang pernikahan beda agama, dan usaha dari pihak lain untuk membuat basi undang-undang tersebut dengan alasan Hak Asasi Manusia. Setelah saya pulang, saya juga sempet baca jawaban orang di ask.fm tentang pacaran beda agama. Tangan saya gatel buat nanya balik, karena saya nggak setuju dengan opininya tentang menghalalkan pasangan beda agama. Tapi apalah saya ini, belum banyak baca literatur, kalau dibaca orang banyak kan malu. Jadi saya pengen nulis di sini aja. Mumpung yang dateng ke sini cuma beberapa. Kadang itu juga yang nyasar gara-gara postingan saya soal SBMPTN.

Saya mencoba buat mengganti perspektif saya, dan mikirin ulang perihal nikah beda agama. Entah saya yang belum bisa cukup menjiwai, atau memang pernikahan beda agama itu nggak masuk akal?

Iya, pasangan kita nantinya adalah pribadi yang jauh beda sama kita. Mungkin dia nggak suka udang, sementara kita suka. Mungkin dia dari Jawa, kita dari Sunda. Mungkin dia suka Manchester United, sedangkan kita bahkan nggak tau arti dari istilah 'offside'. Perbedaan itu justru yang bikin asik. Kita jadi tau perspektif orang lain, kita jadi terbiasa untuk nggak menjadikan diri sendiri sebagai pemeran utama dalam kehidupan.

Tapi bagi saya, agama nggak punya kedudukan setara seperti tim sepakbola. Agama nggak sejajar dengan suku atau ras, usia, kondisi fisik, dan hal-hal terukur lainnya. Agama lebih dari itu. Adalah dia yang justru ada di setiap aspek-aspek kehidupan kita, baik urusan sepak bola, pilihan makanan, atau cara bersyukur dalam perayaan. Maka dari itu, buat saya, agama nggak hadir sebagai satu paket lengkap yang bisa dipisahkan dan disejajarkan dengan paket-paket lainnya. Bukannya dia yang punya banyak tangan buat mengatur keberjalanan paket-paket yang terpisah itu tadi?

Saya nggak setuju kalau konsep ketuhanan disetarakan dengan keputusan memilih tim sepakbola. Memilih Tuhan nggak semain-main itu.

Jadi, jelas sudah. Perbedaan-perbedaan yang hadir di antara kita memang bisa bikin hidup jadi lebih bervariasi. Tapi perbedaan keyakinan akan Tuhan yang kemudian disatukan dalam sebuah ikatan suci sangat nggak masuk akal buat saya. Tujuannya mungkin sama; surga. Tapi, surga yang mana dulu?

Kertas-kertas Cantik

December 14, 2014

















//

Semua kata-kata ini akan dilupakan,
tetapi ia akan selalu tersimpan
di benang gigantis
yang merambat di bawah samudera.

Tak lupa juga lemari dalam otakmu
yang punya luas bermilimeter persegi,
tapi tetap bisa mencegah terjadinya
overdosis susunan kata-kata.

Jangan juga lupakan hatimu,
sebab sangkalan akan tulisanku
yang menurutmu tak sampai kemana-mana,
ternyata bermuara ke sana juga.

Kalimat-kalimat ini adalah gelombang suara, sayang.
Ia tidak menghilang begitu misinya selesai.
Ia terserap oleh pori-pori dinding,
mengubah dirinya sendiri menjadi energi yang lain.

Adalah aku yang menjelma
di tiap kata pada kalimatnya.
Adalah aku yang menyusup sangat dalam,
pada setiap inci benang gigantis,
pada setiap milimeter neuron otakmu,
pada setiap detak jantung hatimu,
pada setiap bisikan dinding-dinding imajimu.

Adalah aku yang bergerilya
menjadi kamu.

Berputar-putar

December 13, 2014

Kamu percaya nggak, saya bisa jatuh cinta dengan kata-kata?
Di halaman kamu yang itu, yang latarnya hitam-hitam.
Dia jadi saksi atas mata saya yang berbinar-binar, membesar.
Dia jadi saksi atas tarikan bibir saya,
senyum sendiri seperti nggak waras.

Boleh saya egois?
Boleh saya menganggap halaman itu harta karun sederhana,
dan cuma saya yang bisa lihat?
Ah, kamu terlalu pintar sih.
Pada akhirnya, halaman itu milik semuanya.

Tapi kamu nggak pernah tahu kan,
siapa yang setiap hari menunggu kata-kata baru dari jari-jari kamu?

Terima kasih saya pada jaring laba-laba.
Ia mempertemukan saya dan kamu,
tapi lagi-lagi, kamu tidak akan pernah tahu.
Siapa peduli?
Sejauh ini adalah otakmu dan kesepuluh jarimu,
serta ketidakpiawaianku menjaga hati.

Tentang Saya yang Bingung

December 07, 2014

Saya nggak pintar soal ilmu-ilmu sosial. Saya juga nggak peka sama lingkungan. Mungkin, saya juga nggak peka sama diri sendiri. Saya sering berada pada titik dimana saya berpikir bahwa saya ternyata setidakpeduli itu sama semuanya.

Saya mahasiswa. Saya juga sempat dikaderisasi. Bangsa, tanah air, bangsa, tanah air. Tahu apa saya tentang bangsa dan tanah air? Apa usaha saya untuk tahu tentang hal-hal lain selain saya sendiri, selain membaca selewat artikel-artikel perihal naiknya harga BBM?

Kamu tahu zona nyaman? Ya, saya selalu berada di sana. Omongan-omongan saya tentang 'keluar dari zona nyaman itu diperlukan' ternyata cuma sekecil tahi kuku kalau dibandingkan dengan skala yang lebih besar. Saya terlalu terbiasa dengan dunia. Saya selalu terbiasa dengan sistem yang sedang berjalan di negara ini, di bumi ini. Saya banyak memaklumi.

Lalu buat apa sebenernya saya hidup, bersusah payah mengerjakan tugas sebagai mahasiswa, ikut kegiatan ini-itu, tapi ujung-ujungnya cuma jadi penerus bangsa yang kapitalis, yang cuma mementingkan dirinya sendiri, dan bodo amat sama hal lainnya?

Saya tahu, nggak semua orang punya peran sebagai politikus. Nggak semua orang punya peran sebagai pengurus negara secara administratif. Semua punya perannya masing-masing. Tapi itukah yang selama ini saya jadikan excuse untuk hanya memikirkan masa depan diri sendiri? Untuk mewadahi keinginan saya buat jadi orang sukses dan bahagia?

Ah, nggak tahu. Awalnya saya mau ngebahas tentang analogi bulu kelinci yang ada di buku Dunia Sophie, malah mengerucut jadi skala negara. Pusing ya, ngomongin beginian. Nanti saya tulis lagi kalau pokok pikiran yang berpisah ini udah ada jembatannya di kepala saya.

PASAR SENI SEBENTAR LAGI!

November 16, 2014


Yuhuw, senang sekali! Selama ini saya jadi panitia di bagian Copywriting, bagian dari Publikasi juga. Kalo ditanya udah gawe apa aja? Lumayan banyak! Di tim copy saya sempet megang beberapa tanggung jawab, kayak tulisan yang ada di web Pasar Seni ITB 2014, tulisan yang ada di kartu permainan souvenirnya, ngisi konten zodiak di zine, dan lain-lain. Basicly kerjaan saya emang cuma di depan laptop dan bisa dikerjain dimana aja, jadi nggak keliatan gawenya! Padahal kalo yang lain begadang di kampus, saya juga begadang. Tapi di rumah (HEHE NGESELIN GAK NGESELIN GAK). Kalo ada anak-anak yang ngajak saya gawe karena keliatan nggak gawe biasanya saya suka senyum manis aja. Nggak deng, lupa biasanya ngapain. Tapi suka pengen bilang, "Aing juga gawe!" terus di belakangnya ditambahin "...walopun nggak sesering yang lain sih, hehe."

Iya, yang lain tuh rajin-rajin, sampe nginep-nginepan di kampus. Divisi artistik apalagi, karena emang nggak bisa dibawa pulang ke rumah kan. Yaiyalah. Eh, pokoknya semuanya juga kerja keras kok, dan tugasnya sama-sama berat. Tapi ngerjain di kampus emang lebih asik! Suasananya dapet banget dan bikin semua tugas nggak jadi beban. Seru!

Saya nggak akan ngejelasin Pasar Seni di sini, karena itu semua bisa ditemukan lebih lengkap di web dan akun sosial media Pasar Seni lainnya. Saya cuma pengen ngasih tau sama orang-orang kalau kami panitia semua bekerja hampir dua puluh empat jam untuk menyukseskan acara ini. Jadi, walaupun sebenernya nggak saya ajak untuk datang juga kalian tentu bakal datang, tapi... YUK DATANG! Ramaikan! Beli souvenirnya! Dukung acaranya!

Sampai jumpa tanggal dua tiga! Salam aku, kita, dan semesta.

Ecek-ecek

October 18, 2014

Kenapa ya, saya nggak seneng main? Padahal kata Pak Primadi kalo mau kreatif, ya dorongan bermainnya harus kuat. Atau konsep dari bermain milik saya beda sama konsep bermainnya orang lain? Atau gimana sih, sebenernya?

Suka sih karokean. Suka sih main bareng temen-temen banyakan. Suka sih ngobrol-ngobrol, bercanda-bercanda. Tapi nggak sesering itu. Itu main nggak sih? Main laptop juga main buat saya mah.

Atau gara-gara nggak ada kesempatan buat main?

Atau gara-gara nggak ada yang ngajak main?

Dih menjurus, hahaha.

Huft, manusia. Semuanya digeneralisasi, tapi semuanya juga dibikin beda. Harus ngikutin yang mana? Da bingung. 

Bukan Cuma Buat Kita

October 04, 2014

Ngeliat kelebihan orang lain terus itu sehat atau nggak sih? Menyalahkan diri sendiri dengan alibi evaluasi tuh salah atau nggak sih? Menunda pekerjaan karena takut hasilnya nggak sempurna tuh bego atau nggak sih?

Iya. Iya, nggak sehat, salah, dan bego--kalau kebanyakan. Kayak makan MSG.

Anyways, intro-nya sangat terdengar depresi. Saya juga heran sih kenapa tiap posting bawaannya pengen ngeluh mulu? Dan yes, you can see them posts clearly unhealthy. Kenapa ya? Loh, balik nanya. Mungkin karena...what. I don't even know.

Saya pernah nanya Zaky gini, "Zak, capek nggak sih kamu ikut kepanitiaan banyak gitu? Capek banget."

Terus Zaky bilang, "Loh kan kita masih hidup. Kalau mau santai ya kayak orang mati." Kurang lebih gitu.

Terus abis itu saya langsung tertohok. From tons of people I asked, cuma omongan Zaky yang bikin saya mikir dan bikin saya nyesel karena banyak ngeluh ini-itu. Padahal kerjaan saya cuma 'gitu-gitu doang' kalo dibandingin sama aktivis-aktivis kampus yang lain.

Iya, sih. Sebenernya kita hidup mau ngapain sih? Mau santai terus-terusan, atau mau memaknai rasa syukur kita lewat keikutsertaan kita dalam banyak kegiatan? Sebenernya dua-duanya nggak salah kalau seimbang.

Tapi menurut saya gini, hidup kita nggak cuma tentang memilih banyak pilihan. Bukan cuma tentang mengejar ini dan mengejar itu. Tapi, untuk siapa dan untuk apa. Kalau boleh saya sama-samain, bahwa segala hal yang kita lakukan ini harus punya dasar, or in another word, niat.

Saya nggak akan bilang kalau segala hal yang seseorang lakukan diperuntukan untuk diri sendiri itu tergolong selfish, enggak. Kenapa? Karena saya juga nggak tau esensi sebenernya dari hidup itu apa. Apa coba, ada yang tau nggak?

Saya kagum sama Zaky. Sama temen-temen saya yang lain. Kadang saya juga suka soteng sendiri sih, ni anak kayaknya hidupnya ikhlas banget. Padahal saya juga tau kalo mereka juga punya masalah masing-masing. Tapi saya selalu mikir, berulang-ulang, apa yang bikin mereka terlihat ikhlas dalam menjalankan setiap kegiatannya?

Semua kemungkinan yang saya pikir selalu bermuara ke satu kesimpulan (yang bersifat sotoy); kegiatan mereka diniatkan untuk ibadah. Semuanya karena Allah. Dan saya percaya kalau semua udah ditujukan untuk-Nya, manfaat dari kegiatan kita bisa menyebar ke banyak titik yang bahkan nggak kita niati awalnya.

Ih saya jadi ngerasa banyak dosa dan ngerasa jadi orang yang paling nggak bersyukur di dunia.

Jadi sebenernya, kita berkegiatan dan berjuang buat tetep survive di dunia tuh buat apa sih? Buat siapa? Saya sering bego karena melakukan sesuatu cuma atas dasar kewajiban dan nggak tau arahnya kemana dan tujuannya apa. Terus selain hasil dari kegiatan itu, outputnya apa lagi dong? Nggak ada. Nggak bakal ada kecuali kita punya tujuan dan peruntukan yang jelas.

Kita udah dikasih banyak nikmat sama Allah tiap hari, tapi kurang ajar nggak sih kalo tiap kegiatan kita nggak didasari atas rasa syukur kita sama Dia?

Pak Asep, dosen Agama saya, pernah bilang bahwa Allah tuh nggak butuh apa-apa dari kita. Kita shalat, Allah nggak dapet untung apa-apa. Kita nggak shalat, juga Allah nggak rugi apa-apa. Semua hal yang kita lakukan atas dasar ibadah dan niat karena Allah, ujung-ujungnya buat kita juga kok.

Wah jadi recap matkul Agama, ya. Gakpapa deh sekalian bagi-bagi  (PSSTTT! Pak Asep ini keren banget, nggak boong).

Jadi kesimpulannya, at least buat saya sendiri sih, saya bakal berusaha untuk nggak banyak mengeluh dan meniatkan segala sesuatunya karena Yang Di Atas. Bukan karena pengen sok iyeh, tapi wouldn't it be nice if we have a destination to go? Destinasi yang nggak abstrak dan nggak samar. Destinasi yang udah sepatutnya kita yakini dan destinasi yang pasti.

Wahah kenapa jadi gini ya atmosfirnya. Ya udah deh. Selamat menjalankan aktivitas, ya, semuanya. Semoga aktivitasnya selalu membawa berkah.

Oh, dan...

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA!

Depressed, Exhausted, and Thankful.

October 03, 2014

Life.

Top Secret, Don't Tell Anyone

September 23, 2014

Seringkali kalau di lagi naik angkot, atau lagi di public space lainnya, saya nggak ngerti sama diri saya sendiri. Saya nggak kenal. Saya nggak tau umur saya berapa. Nggak jarang kalo liat orang-orang yang nggak dikenal, saya pikir mereka beberapa tahun di atas saya. Eh, taunya setelah nguping (kedengeran kok, nggak sengaja nguping) mereka seumuran sama saya, bahkan lebih muda satu-dua tahun.

I am not mentally ready for this. Adult life, university life, independency. I think I depend too much to my parents. I think I cling too much.

I wonder if I get a chance to travel alone, can I get my shit together? Can I even survive?

Blurrghhh.

Ketika Sudah Sampai

September 16, 2014

Mari berjalan bersamaku.
Melewati banyak tantangan berupa kegiatan membosankan.
Aku tidak menjanjikan padang rumput,
pula tidak menjanjikan hamparan bunga di sisi jalannya.

Mari berjalan bersamaku.
Tapaknya penuh batu dan berkelok-kelok.
Tapi aku selalu membawa botol minum,
serta sapu tangan yang siap mengusap keringatmu.

Mari, silakan ambil tempatnya.
Di sebelahku, agak ke depan sedikit.
Terkadang aku bingung mengambil arah,
terkadang aku butuh tempat merebahkan kepala.

Mari berjalan bersamaku.
Bertukar lagu seraya mengomentari cuaca.
Mengejek dan mencaci maki,
lalu bercantelan jemari lagi.

Ketika aku sudah sampai di ujung sana,
dan kau sudah sampai di ujung sana,
lalu kita bertemu di jalan yang sama arahnya,
mari berjalan bersamaku.

Dibuang Sayang










Tiba-tiba

August 14, 2014

Nanti kalau sudah sukses jadi lulusan Desain Interior, kalau sudah kerja di tempat yang mengasyikkan dan gajinya besar, kalau sudah punya toko dan brand furnitur sendiri, kalau sudah ada yang melamar (hah), kalau sudah punya uang banyak,

aku nggak mau punya rumah terlalu besar. Aku mau rumah yang cukup ditinggali satu keluarga dan beberapa keluarga saudara kalau ada yang mau menginap. Aku mau rumah yang nggak terlalu besar dan furniturnya lucu-lucu.

Kalau ada uang lebih? Kalau uangnya masih banyak?

Aku maunya uang itu bisa berguna buat orang lain.

Jangan, anak kami jangan sampai hidup mewah. Anak kami harus tahu bagaimana caranya bisa hidup bahagia, sukses, dan berguna buat orang banyak.

Nanti.

Sekarang aku sendiri harus berusaha terlebih dahulu, biar betul-betul sadar kalau tujuan utama dan sukses dalam kehidupan itu tidak melulu soal uang.

A Thank You Post

August 11, 2014



How do I feel, you say?

I don't know. I've never been this proud of myself before. I can feel my heart is now packed with random feeling I just can't describe, butterflies in my tummy, cold hands, trembling legs; I think I might explode.

I've never expected anything like this; even when I was attending the very same ceremony last year and watching those best students shaking hands with Professor Akhmaloka. I just went through the period of two semesters normally, procrastinating, deadlines, faculty events, just like everyone else and then crossed my fingers. Considering I came from a vocational high school, I think it is a VERY BIG blessing to only attending such the best campus in town, no, in the country. To be the best student? Don't ask me. It's like, are you kidding me? Are you sure?

Ugh I feel the urge to tell everyone I love, everyone I care about, but shizz let's just calm down.

Written in the caption of the photo I uploaded on social medias are the ones whose name I first thought about after I've received the announcement.

Buat ibu, ibu, ibu. Buat bapak, buat Lala. Buat almamaterku SMKN 1 Cimahi yang tadi disebutin pake mik di Sabuga.

No kidding, I mean the mention of my previous school's name is a. big. deal. At least for me. The ceremony was attended by approximately 5000 people, can you believe it! They need to notice these kids from Cimahi, these kids from vocational high school. We can make it too, you know *wink*.

I reallllly want to say thanks to everybody that has been supporting me until this very day. Thank you so much, I wouldn't make it till this place without all of you. The teachers and staffs on my previous school, my bestfriends, my high-school friends, my high-school classmates, FSRD 2013, people who cook the meals in the canteen, random people I've met who inspired me by only a glance, everyone, everyone I've met and I haven't met.

I feel like I'm winning an oscar. I'm sorry but I need to say my gratitude to all of you, but you deserve better than this crappy post so I'll just make du'as for you instead, okay?

Take care all of you, I love you, thank you for everything.

Senpai Noticed Me

July 03, 2014

Berawal dari sini,



Kemudian ke sini.



Lalu ini,


Kemudian...



Jangan bilang Bertie aku ngepost ginian di sini oke. Aku malu nanti keliatannya kayak kesenengan banget. Harus tetep elegan dan pertahankan "oh you reblogged my fanart thank you" image, biar nggak terkesan gimana gitu.

Ya.

Plis.

Plis.

I Don't Get It

July 01, 2014

I am now sitting beside my cousin who's watching You Who Came from the Stars for her second time. I'll tell you, she's not crazy or something. Ask people who have watched the drama, I bet they have at least a little bit intention to re-watch it all over again. For me? If I sit still beside her and put my eyes on her laptop monitor then it's my fifth time watching that freaking addictive face of handsome alien and that's definitely not going to happen. Yes, it's fifth time, you read it right.

But why. Why do we crazy over things? Why do we crazy over people's life? To make things even crazier, why do we crazy over fictional stories?

It's just not about korean drama or those kind of things, I mean I've met a lot of people that is at least a fan of one fandom and these people dig the whole 'fandom' thing deeper. It's not always fandom, I mean, you know, what should I call it?

A thing you can't get over with? Sounds fine, guys?

I believe all of us have this thing, you know what I'm saying.

But why we crazy over things? To live outside our life, or to live our life itself? I just don't get it.

Or is it just me?


Apa ya nih

June 13, 2014

Wah udah lama banget nggak nulis postingan. Saking seringnya kayak gini kayaknya tiap postingan udah pasti diawali dengan kalimat kayak gitu.

Sebenernya banyak hal-hal yang pengen saya ceritain, saya bagi sama orang-orang, atau seenggaknya saya curahkan demi kepentingan saya sendiri. Tapi gimana ya, tiap mau nulis jadi ragu-ragu gara-gara saya nggak tau darimana saya harus mulai, apa aja yang mau diceritain, dan hal apa yang mau ditaro sebagai ending.

Itu juga yang bikin saya jarang buka blog, karena merasa bersalah udah lama gak diurusin. Dan... barusan abis cek postingan tentang sbmptn tahun kemaren. Yang komen banyak. Terima kasih, tapi nggak aku bales abis udah kadaluarsa huhu maapin. Terus yang paling bikin sakit hati lagi ternyata ada yang komen dari Gogirl Magz buat nanya-nanya gitu. Yea. Kan. Kan. Nyesel kan ca. Kandas sudah kesempatan menjadi gadis majalah. YEA. YEAAAAA KESEL KAN.

Eniwe, balik lagi ke topik guys. Saya ini orangnya suka takut duluan. Takut di sini tuh lebih ke takut nggak bagus hasilnya dan ntar ujung-ujungnya mengecewakan orang. Saya sadar kok, kalo kayak gini terus kapan bisa bikin karya dan memulai sesuatu yang lebih besar. Tapi saya juga takut dan insecure, jadi semua rencana yang di otak bisa jadi blank seketika.

Saya juga pengen bisa bikin postingan yang bermutu dan produktif. Saya pengen traveling sendirian, dan sharing tentang itu di sini. Tapi gimana dah, kan saya orangnya juga insecure tiap mau ketemu orang.

Duh maaf ya postingannya nggak ada pesan moralnya.

Ada deng.

Moral of the story: jangan males ngapdet blog, siapa tau ada yang komen dari majalah dan mau wawancara.

Njir nyesel w. Akakakak.

Bhay, good people. Stay healthy.

Theme by: Pish and Posh Designs