Bukan Cuma Buat Kita

October 04, 2014

Ngeliat kelebihan orang lain terus itu sehat atau nggak sih? Menyalahkan diri sendiri dengan alibi evaluasi tuh salah atau nggak sih? Menunda pekerjaan karena takut hasilnya nggak sempurna tuh bego atau nggak sih?

Iya. Iya, nggak sehat, salah, dan bego--kalau kebanyakan. Kayak makan MSG.

Anyways, intro-nya sangat terdengar depresi. Saya juga heran sih kenapa tiap posting bawaannya pengen ngeluh mulu? Dan yes, you can see them posts clearly unhealthy. Kenapa ya? Loh, balik nanya. Mungkin karena...what. I don't even know.

Saya pernah nanya Zaky gini, "Zak, capek nggak sih kamu ikut kepanitiaan banyak gitu? Capek banget."

Terus Zaky bilang, "Loh kan kita masih hidup. Kalau mau santai ya kayak orang mati." Kurang lebih gitu.

Terus abis itu saya langsung tertohok. From tons of people I asked, cuma omongan Zaky yang bikin saya mikir dan bikin saya nyesel karena banyak ngeluh ini-itu. Padahal kerjaan saya cuma 'gitu-gitu doang' kalo dibandingin sama aktivis-aktivis kampus yang lain.

Iya, sih. Sebenernya kita hidup mau ngapain sih? Mau santai terus-terusan, atau mau memaknai rasa syukur kita lewat keikutsertaan kita dalam banyak kegiatan? Sebenernya dua-duanya nggak salah kalau seimbang.

Tapi menurut saya gini, hidup kita nggak cuma tentang memilih banyak pilihan. Bukan cuma tentang mengejar ini dan mengejar itu. Tapi, untuk siapa dan untuk apa. Kalau boleh saya sama-samain, bahwa segala hal yang kita lakukan ini harus punya dasar, or in another word, niat.

Saya nggak akan bilang kalau segala hal yang seseorang lakukan diperuntukan untuk diri sendiri itu tergolong selfish, enggak. Kenapa? Karena saya juga nggak tau esensi sebenernya dari hidup itu apa. Apa coba, ada yang tau nggak?

Saya kagum sama Zaky. Sama temen-temen saya yang lain. Kadang saya juga suka soteng sendiri sih, ni anak kayaknya hidupnya ikhlas banget. Padahal saya juga tau kalo mereka juga punya masalah masing-masing. Tapi saya selalu mikir, berulang-ulang, apa yang bikin mereka terlihat ikhlas dalam menjalankan setiap kegiatannya?

Semua kemungkinan yang saya pikir selalu bermuara ke satu kesimpulan (yang bersifat sotoy); kegiatan mereka diniatkan untuk ibadah. Semuanya karena Allah. Dan saya percaya kalau semua udah ditujukan untuk-Nya, manfaat dari kegiatan kita bisa menyebar ke banyak titik yang bahkan nggak kita niati awalnya.

Ih saya jadi ngerasa banyak dosa dan ngerasa jadi orang yang paling nggak bersyukur di dunia.

Jadi sebenernya, kita berkegiatan dan berjuang buat tetep survive di dunia tuh buat apa sih? Buat siapa? Saya sering bego karena melakukan sesuatu cuma atas dasar kewajiban dan nggak tau arahnya kemana dan tujuannya apa. Terus selain hasil dari kegiatan itu, outputnya apa lagi dong? Nggak ada. Nggak bakal ada kecuali kita punya tujuan dan peruntukan yang jelas.

Kita udah dikasih banyak nikmat sama Allah tiap hari, tapi kurang ajar nggak sih kalo tiap kegiatan kita nggak didasari atas rasa syukur kita sama Dia?

Pak Asep, dosen Agama saya, pernah bilang bahwa Allah tuh nggak butuh apa-apa dari kita. Kita shalat, Allah nggak dapet untung apa-apa. Kita nggak shalat, juga Allah nggak rugi apa-apa. Semua hal yang kita lakukan atas dasar ibadah dan niat karena Allah, ujung-ujungnya buat kita juga kok.

Wah jadi recap matkul Agama, ya. Gakpapa deh sekalian bagi-bagi  (PSSTTT! Pak Asep ini keren banget, nggak boong).

Jadi kesimpulannya, at least buat saya sendiri sih, saya bakal berusaha untuk nggak banyak mengeluh dan meniatkan segala sesuatunya karena Yang Di Atas. Bukan karena pengen sok iyeh, tapi wouldn't it be nice if we have a destination to go? Destinasi yang nggak abstrak dan nggak samar. Destinasi yang udah sepatutnya kita yakini dan destinasi yang pasti.

Wahah kenapa jadi gini ya atmosfirnya. Ya udah deh. Selamat menjalankan aktivitas, ya, semuanya. Semoga aktivitasnya selalu membawa berkah.

Oh, dan...

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA!

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs