Hak Asasi Manusia, Katanya

December 19, 2014

Lucu rasanya kalau lihat pertanyaan-pertanyaan di ask.fm (orang). Lebih lucu lagi kalau baca jawaban-jawabannya, ya atau enggak?

Jadi tadi sore saya habis ujian matkul Agama. Di sana saya dikasih pertanyaan tentang undang-undang Indonesia yang melarang pernikahan beda agama, dan usaha dari pihak lain untuk membuat basi undang-undang tersebut dengan alasan Hak Asasi Manusia. Setelah saya pulang, saya juga sempet baca jawaban orang di ask.fm tentang pacaran beda agama. Tangan saya gatel buat nanya balik, karena saya nggak setuju dengan opininya tentang menghalalkan pasangan beda agama. Tapi apalah saya ini, belum banyak baca literatur, kalau dibaca orang banyak kan malu. Jadi saya pengen nulis di sini aja. Mumpung yang dateng ke sini cuma beberapa. Kadang itu juga yang nyasar gara-gara postingan saya soal SBMPTN.

Saya mencoba buat mengganti perspektif saya, dan mikirin ulang perihal nikah beda agama. Entah saya yang belum bisa cukup menjiwai, atau memang pernikahan beda agama itu nggak masuk akal?

Iya, pasangan kita nantinya adalah pribadi yang jauh beda sama kita. Mungkin dia nggak suka udang, sementara kita suka. Mungkin dia dari Jawa, kita dari Sunda. Mungkin dia suka Manchester United, sedangkan kita bahkan nggak tau arti dari istilah 'offside'. Perbedaan itu justru yang bikin asik. Kita jadi tau perspektif orang lain, kita jadi terbiasa untuk nggak menjadikan diri sendiri sebagai pemeran utama dalam kehidupan.

Tapi bagi saya, agama nggak punya kedudukan setara seperti tim sepakbola. Agama nggak sejajar dengan suku atau ras, usia, kondisi fisik, dan hal-hal terukur lainnya. Agama lebih dari itu. Adalah dia yang justru ada di setiap aspek-aspek kehidupan kita, baik urusan sepak bola, pilihan makanan, atau cara bersyukur dalam perayaan. Maka dari itu, buat saya, agama nggak hadir sebagai satu paket lengkap yang bisa dipisahkan dan disejajarkan dengan paket-paket lainnya. Bukannya dia yang punya banyak tangan buat mengatur keberjalanan paket-paket yang terpisah itu tadi?

Saya nggak setuju kalau konsep ketuhanan disetarakan dengan keputusan memilih tim sepakbola. Memilih Tuhan nggak semain-main itu.

Jadi, jelas sudah. Perbedaan-perbedaan yang hadir di antara kita memang bisa bikin hidup jadi lebih bervariasi. Tapi perbedaan keyakinan akan Tuhan yang kemudian disatukan dalam sebuah ikatan suci sangat nggak masuk akal buat saya. Tujuannya mungkin sama; surga. Tapi, surga yang mana dulu?

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs