Logika

December 31, 2014

Kalau ada orang yang berpikir bahwa Agama nggak menyelesaikan masalah, dan lebih baik mengandalkan Hak Asasi Manusia;

Darimana kita tau, mana hitam, abu-abu, putih?

Darimana asalnya hitam, abu-abu, putih itu?

Darimana kita tau kalau manusia yang beradab adalah manusia yang memakai pakaian?

Darimana asalnya kewajiban menutup tubuh itu?

-

Katakan sama saya, karena saya bingung,

Kalau benar agama dan Tuhan tidak ada,

Kenapa kita bisa tau kalau telanjang di publik adalah hal yang salah, dan memakai pakaian adalah hal yang benar?

Kenapa kita bisa yakin kalau mencuri itu tercela, dan menghormati yang lebih tua adalah hal terpuji?

Darimana asal hukumnya?

HAM?

--

Maaf, ya. Logika saya kadang salah, jadi saya butuh yang cerah-cerah.

Pencerahan maksudnya.

Tapi senyum kamu juga boleh.

Ini Postingan Berisik

December 25, 2014

Jadi di tengah-tengah kesibukan yang melanda ini (iya, orang lain udah libur), kemaren-kemaren saya sempet nonton berdua sama ibu ke bioskop. 

Kita nonton film yang beda. Ibu nonton The Hobbit, saya nonton Supernova. Sebenernya saya pengen nonton The Hobbit tapi saya nggak ngikutin dari seri yang pertama. Bahkan saya belum nonton The Lord of the Rings sampe sekarang. Wakaka cupu. Pernah sih dulu niat pengen nonton, tapi gila aja di scene pertamanya ada makhluk yang serem itu tuh apa namanya, terus dishoot dari danau gitu, ADOOOH nggak deh ntaran aja.

Yak. Jadi kan kita berpisah nontonnya. Pas saya ngasih tiket ke mbaknya dan masuk studio, saya langsung disambut sama sound effect dari trailer film hantu coba. Kampret kan. Terus ya udah, saya ngintip aja kali-kali ada beberapa yang udah duduk. Taunya saya yang pertama dateng. Ah elah kesel banget. Jadi... saya balik lagi. Hhw, jadi malu.

Ternyata di pintu masuknya ada ibu-ibu lagi ngasih tiket gitu. Ya udah nggak jadi keluar. Saya pura-pura benerin tas biar jalannya pelan-pelan dan barengan sama ibu-ibu itu. Bahkan waktu naik tangganya saya sempet teriak, "Monyet, monyet." gara-gara sound effect trailer film hantu tadi yang ngagetin banget. KESEL. KENAPA. KENAPA HARUS ADA FILM HANTU DI DUNIA INI.

Ya udah cuma mau cerita itu aja.

Oh ya, film Supernovanya gimana, Ca?

Saya jatuh cinta sama videografinya! SUNGGUHAAN. Selama film diputer saya nggak berhenti mikir lho kenapa produksi Indonesia bisa sebagus itu. I mean, mereka ngetake laut dari atas tuh kayak di scene-scene film Harry Potter gitu! Ngetake jalan tol, perumahan, skyscrapers, laut, kota Washington DC, semuanya nggak mengecewakan dari sisi videografi. Kayaknya banyak banget make helikopter deh. Terus, terus, animasinya! Ah udah deh gak paham lagi. Animasinya tuh nggak sebatas animasi Upin Ipin gitu ngerti gak siiiih dbsjdfhajsgdhj. Dan ini film Indonesia dnsajkhdksfydtsy. Dari segi teknis (yha yang direview pertama adalah teknis, tidak melupakan background saya sebagai mantan anak broadcasting), hampir semuanya oke. Suka banget. Nggak kalah sama film-film hollywood. Tapi jangan dibandingin sama The Lord of the Rings juga ya, saya kan cuma memuji berlebihan di sini.

Ceritanya? Wah. Ini film adaptasi yang bener-bener diadaptasi dari novelnya deh kayaknya. Kayak nggak banyak dialog dan skrip yang berubah dari bukunya. Bukunya emang bikin pusing (in a good way). Sehabis baca kayak disoriented gitu. Saya kasihan sama yang nonton tapi belum baca novelnya. Mau ngerti apaan coba. Saya aja sampe sekarang kalo disuruh ngerangkum keseluruhan cerita masih tetep nggak bisa.

Cast-nya? Wedeeh. Junot lagi, Junot lagi. Raline Shah lagi, Raline Shah lagi. Sepertinya mereka udah sering banget muncul di dunia perfilman ya akhir-akhir ini. Tapi bukan berarti nggak bagus, lho. Junot di sini udah merepresentasikan Ferre dengan baik, dan pas. Dan ganteng. Dan lucu. Dan romantis. Dan ganteng. Dan ganteng. Dan ganteng. Raline Shah juga oke. Tapi memang terlalu glamor untuk seukuran Rana yang kayaknya nggak se-sosialita itu di novelnya. Tapi chemistrynya mereka berdua udah bagus aaah gemas! Yang lainnya, Fedi Nuril juga oke. Tapi kok agak serem ya di filmnya. Mungkin gara-gara tatapan matanya? Paula Varhoeven...? Vanhoeven? Iya, itu mbak Paula cantik sekali. Kurus tinggi kayak lidi. Tapi di beberapa dialog kurang dapet feelnya, mungkin mbak Paula harus berlatih lagi di intonasinya. Nggak. Apalah saya nyuruh-nyuruh orang lain berlatih???? Nggak tau diri dasar.

All in all, errr... bagus. Tapi yang paling berkesan dari film ini adalah videografinya, sekali lagi. Semuanya udah oke, cuma mungkin belum meninggalkan kesan mendalam. Kalo waktu nonton Van Der Wijk kan aktingnya Junot waktu memunggungi Hayati terus abis itu jalan di lorong pake jas kan WADUH keinget mas sampe sekarang. Top. Kalo di Supernova ini belum sampai kayak gitu.

Udah. 

Berisik kan post yang ini. Maaf ya. Abis kemaren-kemaren kayak mellow banget gitu, suram rasanya atmosfer blog ini. See ya soon, people! Doain ya tugasnya cepet selesai.

xx

Malu

December 20, 2014

Aku adalah buih lautan,
atom yang tak bisa dibagi lagi,
makhluk mikroskopis dalam skala galaksi.

Tapi
Engkau
selalu
ada

Hak Asasi Manusia, Katanya

December 19, 2014

Lucu rasanya kalau lihat pertanyaan-pertanyaan di ask.fm (orang). Lebih lucu lagi kalau baca jawaban-jawabannya, ya atau enggak?

Jadi tadi sore saya habis ujian matkul Agama. Di sana saya dikasih pertanyaan tentang undang-undang Indonesia yang melarang pernikahan beda agama, dan usaha dari pihak lain untuk membuat basi undang-undang tersebut dengan alasan Hak Asasi Manusia. Setelah saya pulang, saya juga sempet baca jawaban orang di ask.fm tentang pacaran beda agama. Tangan saya gatel buat nanya balik, karena saya nggak setuju dengan opininya tentang menghalalkan pasangan beda agama. Tapi apalah saya ini, belum banyak baca literatur, kalau dibaca orang banyak kan malu. Jadi saya pengen nulis di sini aja. Mumpung yang dateng ke sini cuma beberapa. Kadang itu juga yang nyasar gara-gara postingan saya soal SBMPTN.

Saya mencoba buat mengganti perspektif saya, dan mikirin ulang perihal nikah beda agama. Entah saya yang belum bisa cukup menjiwai, atau memang pernikahan beda agama itu nggak masuk akal?

Iya, pasangan kita nantinya adalah pribadi yang jauh beda sama kita. Mungkin dia nggak suka udang, sementara kita suka. Mungkin dia dari Jawa, kita dari Sunda. Mungkin dia suka Manchester United, sedangkan kita bahkan nggak tau arti dari istilah 'offside'. Perbedaan itu justru yang bikin asik. Kita jadi tau perspektif orang lain, kita jadi terbiasa untuk nggak menjadikan diri sendiri sebagai pemeran utama dalam kehidupan.

Tapi bagi saya, agama nggak punya kedudukan setara seperti tim sepakbola. Agama nggak sejajar dengan suku atau ras, usia, kondisi fisik, dan hal-hal terukur lainnya. Agama lebih dari itu. Adalah dia yang justru ada di setiap aspek-aspek kehidupan kita, baik urusan sepak bola, pilihan makanan, atau cara bersyukur dalam perayaan. Maka dari itu, buat saya, agama nggak hadir sebagai satu paket lengkap yang bisa dipisahkan dan disejajarkan dengan paket-paket lainnya. Bukannya dia yang punya banyak tangan buat mengatur keberjalanan paket-paket yang terpisah itu tadi?

Saya nggak setuju kalau konsep ketuhanan disetarakan dengan keputusan memilih tim sepakbola. Memilih Tuhan nggak semain-main itu.

Jadi, jelas sudah. Perbedaan-perbedaan yang hadir di antara kita memang bisa bikin hidup jadi lebih bervariasi. Tapi perbedaan keyakinan akan Tuhan yang kemudian disatukan dalam sebuah ikatan suci sangat nggak masuk akal buat saya. Tujuannya mungkin sama; surga. Tapi, surga yang mana dulu?

Kertas-kertas Cantik

December 14, 2014

















//

Semua kata-kata ini akan dilupakan,
tetapi ia akan selalu tersimpan
di benang gigantis
yang merambat di bawah samudera.

Tak lupa juga lemari dalam otakmu
yang punya luas bermilimeter persegi,
tapi tetap bisa mencegah terjadinya
overdosis susunan kata-kata.

Jangan juga lupakan hatimu,
sebab sangkalan akan tulisanku
yang menurutmu tak sampai kemana-mana,
ternyata bermuara ke sana juga.

Kalimat-kalimat ini adalah gelombang suara, sayang.
Ia tidak menghilang begitu misinya selesai.
Ia terserap oleh pori-pori dinding,
mengubah dirinya sendiri menjadi energi yang lain.

Adalah aku yang menjelma
di tiap kata pada kalimatnya.
Adalah aku yang menyusup sangat dalam,
pada setiap inci benang gigantis,
pada setiap milimeter neuron otakmu,
pada setiap detak jantung hatimu,
pada setiap bisikan dinding-dinding imajimu.

Adalah aku yang bergerilya
menjadi kamu.

Berputar-putar

December 13, 2014

Kamu percaya nggak, saya bisa jatuh cinta dengan kata-kata?
Di halaman kamu yang itu, yang latarnya hitam-hitam.
Dia jadi saksi atas mata saya yang berbinar-binar, membesar.
Dia jadi saksi atas tarikan bibir saya,
senyum sendiri seperti nggak waras.

Boleh saya egois?
Boleh saya menganggap halaman itu harta karun sederhana,
dan cuma saya yang bisa lihat?
Ah, kamu terlalu pintar sih.
Pada akhirnya, halaman itu milik semuanya.

Tapi kamu nggak pernah tahu kan,
siapa yang setiap hari menunggu kata-kata baru dari jari-jari kamu?

Terima kasih saya pada jaring laba-laba.
Ia mempertemukan saya dan kamu,
tapi lagi-lagi, kamu tidak akan pernah tahu.
Siapa peduli?
Sejauh ini adalah otakmu dan kesepuluh jarimu,
serta ketidakpiawaianku menjaga hati.

Tentang Saya yang Bingung

December 07, 2014

Saya nggak pintar soal ilmu-ilmu sosial. Saya juga nggak peka sama lingkungan. Mungkin, saya juga nggak peka sama diri sendiri. Saya sering berada pada titik dimana saya berpikir bahwa saya ternyata setidakpeduli itu sama semuanya.

Saya mahasiswa. Saya juga sempat dikaderisasi. Bangsa, tanah air, bangsa, tanah air. Tahu apa saya tentang bangsa dan tanah air? Apa usaha saya untuk tahu tentang hal-hal lain selain saya sendiri, selain membaca selewat artikel-artikel perihal naiknya harga BBM?

Kamu tahu zona nyaman? Ya, saya selalu berada di sana. Omongan-omongan saya tentang 'keluar dari zona nyaman itu diperlukan' ternyata cuma sekecil tahi kuku kalau dibandingkan dengan skala yang lebih besar. Saya terlalu terbiasa dengan dunia. Saya selalu terbiasa dengan sistem yang sedang berjalan di negara ini, di bumi ini. Saya banyak memaklumi.

Lalu buat apa sebenernya saya hidup, bersusah payah mengerjakan tugas sebagai mahasiswa, ikut kegiatan ini-itu, tapi ujung-ujungnya cuma jadi penerus bangsa yang kapitalis, yang cuma mementingkan dirinya sendiri, dan bodo amat sama hal lainnya?

Saya tahu, nggak semua orang punya peran sebagai politikus. Nggak semua orang punya peran sebagai pengurus negara secara administratif. Semua punya perannya masing-masing. Tapi itukah yang selama ini saya jadikan excuse untuk hanya memikirkan masa depan diri sendiri? Untuk mewadahi keinginan saya buat jadi orang sukses dan bahagia?

Ah, nggak tahu. Awalnya saya mau ngebahas tentang analogi bulu kelinci yang ada di buku Dunia Sophie, malah mengerucut jadi skala negara. Pusing ya, ngomongin beginian. Nanti saya tulis lagi kalau pokok pikiran yang berpisah ini udah ada jembatannya di kepala saya.

Theme by: Pish and Posh Designs