Romantisme di ITB

November 29, 2015

(Bukan essay Pemira)

Saya nggak tahu gimana kampus lain, tetapi di ITB sering banget diadakan acara. Mulai dari pagelaran seni dan budaya, festival himpunan, pertunjukan teater dan film-film misbar, banyak deh. Saya yang notabenenya jarang ke tempat-tempat jauh cuma buat nyari hiburan, merasa lumayan tercukupi dengan acara-acara di kampus. Menyenangkan ketika melihat unit-unit dan himpunan-himpunan kampus aktif mengadakan acara untuk massa kampus dan masyarakat umum, apalagi gratis ehehe.

Tadi malam saya datang dan menonton pertunjukan yang dibawakan oleh teman-teman Loedroek ITB, namanya Main Gedhe. Lucu! Saya ngakak banget, kayak udah bodo amat yang di kanan-kiri depan-belakang ada siapa. Yang paling bikin ketawa dan memancing tepuk tangan penonton justru adalah sindiran-sindiran internal kampusnya, seperti politik dan birokrasi misalnya.

Hal yang paling romantis dari pertunjukan tadi malam adalah penontonnya yang duduk ngemper di atas karpet, sambil minum teh manis anget dan makanan ringan cimpi seperti keripik singkong dan kacang kulit (jadi inget belum bayar utang teh manis). I mean, dimana lagi kamu bisa menemukan hal-hal seperti ini sekarang?

Kata 'romantis' memang relatif, sih. Setiap orang bisa memaknainya dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa orang menganggap romantis adalah berdiri di tengah kerumunan manusia ketika menonton konser musik. Beberapa lagi menganggap romantis adalah makan keripik singkong sambil nonton orang kidungan, seperti saya misalnya. Nggak masalah, yang penting tujuannya sama, untuk bahagia.

Saya senang karena kampus ini masih hidup, masih belum mau mati ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, bahkan sebelas malam, bahkan tiga pagi. Saya jadi inget pertanyaan mamang Gojek, begini bunyinya, "Teh, anak ITB kapan tidurnya ya? Kok jam dua, jam tiga pagi masih aja ada yang pesan Gojek."

Tujuan postingan ini sebenernya cuma dalam rangka mengisi entri blog dengan hal sederhana tapi penuh makna (setidaknya untuk saya). Biar nanti kalau saya udah jadi wanita karir lalu menikah lalu punya anak (hahaha), saya bisa mampir ke sini lagi dan ingat bahwa saya dulu pernah bahagia karena ngakak sama temen-temen nonton loedroek sampe teh manisnya tumpah ke karpet (maaf ya).

Terima kasih ya, Loedroek ITB! Semoga makin banyak lagi pertunjukan-pertunjukan yang tujuannya memang untuk menghibur massa. Saya rindu pada hal-hal yang belum pernah saya tahu. Saya rindu pada kesederhanaan berpuluh tahun lalu. Saya rindu pada suara tawa teman-teman saya di pertunjukan selanjutnya.

-

Kepada ciwi-ciwi yang namanya-nggak-usah-disebut-di-sini-karena-biarlah-semua-ini-cuma-kita-yang-rasa, terima kasih ya sudah menambah memori romantis dalam hidup q. Maaf agak klise da kalo aku ngomong langsung mah nggak berani.

Melancholia & A Mind That Cannot Sleep

November 27, 2015

Sometimes I wish I could tell my feelings clearly, exactly what I feel because of course that would be easier for some cases. I could tell a person 'you know what, I'm immune to your talking it doesn't affect me anymore so you can stop now', or 'do you know it is fun to talk to you and I want more of this', or 'look, I'm boring, change the topic, please?', or even just... 'I like you a lot'.

Yeah, no. Because guess what. No. Because people have feelings too. And however we firmly believe that 'a person doesn't have any responsibility for another person's feelings', we still care. No, it's not personal boundaries. It is just simply rude to blurt out your feelings, however sweet the sentence is.

Yes, rude. Once you blurted it out, things will fall into pieces of thoughts and possibilities. Maybe not on your side, but his/her side. And the next episode that might include unpredictable feedback, is still your responsibility. A risk? Can we call it a risk and responsibility? Can we call it both?

Maybe we care about people's feelings, or maybe we don't. Maybe we just care about possibilities that will come around to our selves. Maybe we're just selfish, or maybe we're just a coward. Maybe we just don't want to feel lonely, and there is a fear of losing.

Maybe we're just humans.




Unplanned Plan

November 21, 2015


Just right after I realised I'm currently leading a boring life, universe hits me right in the face. Now I suddenly have something to bear, something to take care of, something that is big and life changing.

I am worried, but I'm excited, though. I mean now I can hear the sound of my heart beating, and life is scarier, and I am very, very worried about what is going to happen next, but I finally feel alive. I'm living.

This is the point when you turn back into those past times and you were like, wow I've changed so much I didn't plan this to happen.

Here's to more of raging hearts, sleepless nights, uncountable gratitude, and Allah's beautiful plans. Bismillah.

21:43

November 16, 2015



Kamu tahu kita sedang berjalan kemana? Aku, ya. Aku tahu jejak-jejaknya akan mengarah kemana. Memikirkannya sudah seperti mau berkeliling dunia dengan daftar oleh-oleh yang lengkap. Tanya aku, sebab aku hafal di luar kepala.

Tapi di sini, di sepatu ini, tak hanya ada sepasang kaki. Ya, 'kan? Ada dua pasang! Entah bagaimana sepasang sepatu bisa dipakai dua orang. Atau aku salah lihat? Mungkin sebenarnya sepatunya ada empat, tapi berjalan beriringan.

Maka dari itu, bayanganku tentang jejak-jejak di depan sana tidak berarti sama sekali. Kamu juga tahu itu. Pula ketika aku mengintip imaji jejak yang mungkin pernah kamu simpan, otakmu seperti diselimuti mantra sehingga aku tidak bisa membacanya sama sekali. Menyenangkan, sih. Tapi bingung!

Lalu bertanya-tanyalah aku padaku sendiri (sebab aku tak tahu apakah kamu pernah bertanya-tanya). Bilakah aku berhenti, kamu pun akan berhenti? Perlukah kita tahu arah mana yang sedang kita tuju?

Mungkin kita tak perlu tahu. Mungkin yang kita perlukan cuma kopi dan gorengan. Mungkin tawamu sudah lebih, lebih, lebih dari cukup.  Karena bahagia yang tak sengaja kamu lempar ke atas kepalaku masih akan terus berada di situ.

Ih Gambarnya Nyolong dari Internet

November 14, 2015

Baru-baru ini ada satu kejadian yang terjadi pada saya, yang sebenarnya sepele, tapi terlalu esensial untuk nggak dipedulikan. Saya juga yakin hal ini terjadi sama sebagian orang, sadar atau tidak.

Saya pernah menggambar seorang fashion-blogger udah lama sekali (Mbak Indah Nada Puspita, she noticed it on instagram too), dengan hasil yang sederhana. Tapi entah kenapa gambar yang satu ini banyak yang nge-like dan reblog. Yea, sombong haha, bukan sombong ih ini mah, soalnya gambar yang lain like-nya nggak ada yang sebanyak itu juga. Tersebarlah itu gambar.



Lalu sekitar dua hari yang lalu saya menemukan sebuah poster acara kampus yang menggunakan gambar saya! Wow amazing. Layaknya manusia yang sok-sokan seperti artist terkenal, ya saya kaget lah karena perasaan nggak ada yang minta izin sama saya buat mencantumkan gambar saya sebagai bahan visual stock sebuah publikasi acara dari organisasi yang cukup besar.

Setelah dipikir lagi, actually I'm okay with that, apalagi gambarnya dipakai untuk acara bertujuan mulia (acara muslimah) dan bersifat non-profit. Lagian gambar yang saya bikin pun dibikinnya nggak sampai jungkir-balik. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya, yang bikin saya masih kekeuh mau ngobrol dengan orang di balik poster itu.

Pernah menggunakan gambar dari internet (perhaps google) tanpa tahu itu buatan siapa dan nggak minta izin? Yes, almost all of us have done that before and maybe we just don't know about the copyright thing or too ignorant to read the 'some images might be subject to copyright' sentence that already there on google. OR because it is the internet, duh! And when you own a thing on internet, everybody owns it too.

Tetot, salah.

Sebelum menggunakan sebuah gambar (atau tulisan, atau karya apapun) untuk suatu hal yang bersifat eksternal, coba luangkan waktu untuk tahu; milik siapa ya ini? Boleh dipakai nggak sih? Kalau mau pakai ini gimana ya caranya? Pembuatan karya nggak semudah ambil pensil dan corat-coret doang, lho. Dan walaupun pada karyanya terdapat watermark dari pembuatnya, bukan berarti kamu sudah diizinkan untuk memakai itu.

Internet luas banget, ya, saya tahu. Mungkin beberapa orang akan nyeletuk 'ya kalo nggak mau karyanya dibajak jangan dipost di internet lah'. Hello, you ignorant. That's not the problem we got here. Yang harus dibenahi tuh mental orang-orangnya, yang perlu diedukasi lebih lanjut tentang masalah hak cipta. Di Indonesia kesadaran akan hak cipta memang belum sebesar itu, makanya saya bikin postingan ini.

So these are the rules. Semua karya yang kita temukan di internet adalah buah pemikiran orang lain, yang nggak didapat cuma dengan garuk jidat. Semua karya punya hak cipta, tapi sebagian bisa kamu gunakan tanpa minta izin. Wah? Waw? So cool, kan? Ya, itu istilahnya royalty-free. Banyak website yang menyediakan, misalnya, royalty-free images yang bisa kamu pakai di poster kamu. Asik kan? Ya, internet memang asik kalau kita makenya bener.

Nah, mulai sekarang mari biasakan untuk tidak seenaknya mencomot gambar dari internet tanpa izin, apalagi untuk kegiatan profesional. Saya juga pernah khilaf kok, tapi sekarang saya sudah tidak lagi menyalahgunakan karya orang karena saya sudah tahu. Karena yang baca pun sudah tahu, kamu, ya, kamu, jadi nggak ada alasan lagi yaa nyomot gambar dari google seenaknya.

Urusan saya sama mbak pembuat poster juga sudah selesai, dan bukan gambarnya yang saya angkat sebagai topik, tapi izin dan pengetahuan tentang hak cipta. Semoga pemuda-pemudi Indonesia semakin hari semakin pintar ya!

Review: To All The Boys I've Loved Before

September 21, 2015

Yha. Selamat masuk kuliah lagi untuk pemuda-pemudi Indonesia, selamat sibuk lagi, selamat pulang malam lagi, selamat begadang lagi, dan... selamat ketemu gebetan lagi! Wakaka dari berbagai dampak masuk kuliah yang negatif-negatif itu kayaknya kita emang perlu nyari sesuatu yang bikin semangat ya.

By the way, sebenernya ada nggak sih tipe orang yang kalau sibuk malah nyari kegiatan lain dan tambah sibuk, padahal waktu nggak ada kerjaan malah nggak berusaha ngapa-ngapain? Saya gitu sih. Dari semua kegiatan yang membombardir, saya malah jadi aktif baca lagi.
Sebelum baca yang berat-berat, saya sempet pemanasan otak sama novel young adult yang ditulis sama Jenny Han (padahal sebenernya jarang baca yang berat juga sih). Judulnya adalah; To All the Boys I've Loved Before.

Buku ini plotnya ringan sekali dan nggemesin. Kayak novel young adult lainnya, buku ini nggak menghadirkan klimaks yang heboh, tapi tetep bisa bikin pembacanya stick to the last page. Yang saya suka dari buku ini adalah penokohan karakter yang kental banget dan adorable, makanya saya bisa dengan jelas membayangkan tiap adegan di novel. Awalnya ngerasa ending dari novel ini apaan banget, apalagi saya nunggu banget tuh adegan berantem kedua tokoh utamanya yang ternyata kurang greget (I'm such a drama sucker). Tapi tadi habis liat buku Jenny Han yang satu lagi, ternyata P.S. I Still Love You adalah sekuel dari buku ini. Senang sekaliii! Pengen baca Lara Jean x Peter lagi cepet-cepet.

Di To All the Boys I've Loved Before ini juga diceritain hubungan Lara Jean dengan adik, kakak, dan ayahnya yang well-written. Konflik di keluarga Lara Jean juga seru, nggak cuma jadi pelengkap cerita tapi jadi cerita itu sendiri.

Buku ini recommended buat yang suka genre young adult. Saya bacanya aja nggak kerasa, tau-tau udah tamat. Looking forward to read the next book!

Dufan: Know Yourself, Pls

August 05, 2015


Seperti yang sudah dijanjikan, saya dan Dea akhirnya bisa pergi dari atas kasur lagi dan menerjang panasnya Jakarta. Awalnya kita nggak tau mau kemana. Kalo di Bandung banyak tempat rekreasi alam, di Jakarta banyaknya mall dan department store. Jadilah kita memutuskan buat ke Dufan, karena Dufan lagi diskon sampai tanggal 30 Agustus nanti! Hehehe.

Udah lama nggak ke Dufan dan tempat-tempat yang increasing adrenaline, wisata ke Dufan kemarin lebih kayak dua anak SD yang nggak berani naik apa-apa haha. Bahkan anak SD aja lebih berani kali. Tapi kita memberanikan diri buat naik banyak wahana, kok. Iya banyak, kecuali Halilintar, Tornado, dan Histeria. Cemen banget! Di sela-sela antrian kemudian kami berpikir bahwa wisata ke Dufan is not our style. Untung lagi diskon.

Karena kita ke sananya weekday, jadi suasana Dufan juga nggak terlalu ramai. Banyak wahana yang keisi cuma sama satu keluarga. Oh ya, Arung Jeram juga lagi rusak waktu itu. Mungkin ini kali ya alasannya Dufan bikin Girls Month discount bulan ini, pas wahananya lagi dibenerin semua. Serem juga kalo dipikir-pikir.

Mau gimanapun, wisata kita berdua seru banget kok kemarin. Cuma ya, kalo buat orang lain Dufan menghilangkan beban, buat saya Dufan nambah beban. Kalo diajak ke Dufan lagi, kayaknya saya harus mikir dua kali deh hahaha.

Definitely Per Month!

August 01, 2015

The explanation is the opposite, people! Saya ngepost sebulan sekali kali ini huhu. Saya melewatkan post lebaran, jadi minal aidzin wal faidzin-nya di sini aja ya. Saya juga belum cerita liburan-tiga-bulan saya, yang bisa jadi untung kalo nggak cerita karena liburan sekarang saya nggak ngapa-ngapain kecuali diem depan laptop mantengin HIMYM dan drama korea. Prestasi saya: namatin 20 episode dalam dua hari. Ya kan, nggak seru kan.

Tapi Senin kemarin saya pergi ke Kota Tua bareng Dea, sepupu saya. Udah bertahun-tahun liburan di Jakarta, tapi nggak pernah ke situ. Niatnya mah mau pergi ke museum-museum di sana, karena lumayan banyak museum dekat Kota Tua. Ternyata setelah nyampe sana... museumnya pada tutup karena hari Senin. WKWK. Akhirannya malah ke GI lagi.

By the way, Kota Tua emang bagus sih buat jadi objek dan latar foto. Walaupun di sana banyak meriam, tapi jangan cuma foto sama meriam doang kalo bisa. Selebihnya sih, ya udah gitu doang. Bangunan-bangunan lama, sepeda-sepeda jadul, mobil-mobil jadul yang kalo dijadiin latar foto harus bayar tiga puluh ribu, dan jajanan. Nggak berkesempatan ke museumnya sih. Huff bad luck! It was fun tho! We are also planning something for this week. I hope we can take many photos like last Monday.




Rants

July 02, 2015

Diri saya saat ini terbentuk dari diri saya yang kemarin hingga sekarang. Saya bingung kenapa seorang manusia bisa menumpuk banyak perasaan di hatinya dan banyak pikiran di otaknya, ya? Memang nggak ada batasannya? Contohnya, diri saya saat ini terbentuk dari;

1. Bayangan abstrak tentang bagaimana keadaan jasad nenek saya di kuburnya sekarang.

2. Baru selesai baca buku Dilan (Iya, masih Dilan, bukan Dilan 2) dan jadi banyak yang saya pikirin; ada nggak ya cowok model Dilan jaman sekarang? Kok Milea namanya bagus? Kenapa Milea harus cantik? Milea beruntung sekali. Jangan-jangan Dilan yang selama ini diceritain tuh sebenernya Pidi Baiq? Cowok kalo baca buku Dilan efeknya bakal gimana ya?

3. Mau buka chat Line tapi error terus.

4. Bosaaaan!

5. Kalau udah lulus, kerja jadi apa ya?

6. Besok habis sahur semoga bisa nggak tidur lagi.

7. Tadi siang nyomot flyer formulir kerja di Zara-Stradivarius-Topshop. Bisa part-time. Daftar, nggak, ya?

8. Libur sampai tanggal berapa sih?

Wah segitu aja udah banyak. Nggak apa-apa ya, saya cerita di sini? Ya nggakpapa lah blog blog siapa juga gob-- nggak deng istighfar bulan ramadhan. By the way dengan menuliskan sebagian isi otak, kok berasa agak ringan ya? Agak.

Life Lessons from the Death

July 01, 2015


Dari kematian saya belajar banyak hal.

Saya jadi merasa disadarkan lagi kalau urusan mati tuh bukan di tangan manusia. Mau sepintar apapun kita merencanakan, keputusannya selalu ada di tangan Tuhan. Saya juga jadi merasa bahwa setiap detik yang kita lalui tuh sayang banget kalau cuma diisi dengan hal-hal yang sia-sia (Ok well my love for my bed is still there but let's just continue shall we). Saya juga belajar bahwa kematian bisa sangat berpengaruh pada orang-orang yang masih hidup. Saya sangat, sangat sadar, bahwa kematian memang sudah ada garis waktunya. Jadi bukan kematian yang datang pada kita, tapi kita yang menjemput kematian itu sendiri.

They said 'we can't ever lose anyone because we never own anyone'. Tapi rasa kehilangan memang terlalu abstrak buat didefinisikan, sih. Kalau menurut saya, we indeed never own anyone but we own the memories with them. Kita dihadapkan pada realita bahwa kita nggak bisa membuat memori lagi dengan mereka yang sudah nggak ada, bahwa kita nggak bisa kembali kepada mereka yang sudah nggak ada, dan ya sudah, cuma ada memori-memori lama yang saya takut sekali akan berangsur hilang.

Selain itu, ada tahapan-tahapan yang mungkin hampir kebanyakan orang alami ketika ditinggal pergi oleh orang yang dicintai selama-lamanya. Tahap pertama adalah shock theraphy, tahap dimana kita bingung dengan keadaan, disoriented, merasa bahwa kita sedang bermimpi. Tahap ini yang mungkin sering dijadikan referensi buat sinetron-sinetron. Memanggil nama mereka, seolah-olah dengan seperti itu mereka bisa kembali lagi.

Tahap kedua adalah ketika kita tahu kalau mereka sudah nggak ada dan nggak bisa kembali lagi. Di tahap ini air mata kita kompakan sama pita suara. Nangisnya bukan bercanda. Kadang-kadang susah berhenti, tergantung keikhlasan orang yang ditinggalkan.

Tahap ketiga adalah ketika tangisan-tangisan itu sudah berubah menjadi seserenggukan. Tapi kadang-kadang tangisan itu bisa muncul lagi. Karena di tahap ini kita sudah tau bahwa mereka nggak bisa kembali lagi, dan ditambah dengan 'berarti aku nggak bisa blablabla lagi bareng dia'. We are all just a bunch of selfish human beings, huh?

Tahap selanjutnya adalah tahap move on. Tapi kadang-kadang akan terjadi lagi tahap ketiga, bisa jadi berulang kali, sampai akhirnya bisa benar-benar move on.

Such a depressing post, isn't it? My grandmother passed away last Friday, and I hope she's happy right now because she doesn't need to feel the pain on her left arm and leg. I am thankful for the past two weeks I spent with her. I am thankful for God has given me such a caring grandma who used to be fun, and could teach me life lessons even when she's not with us anymore.

Here's a #notetoself:

"Know that the life of this world is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children - like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris. And in the Hereafter is severe punishment and forgiveness from Allah and approval. And what is the worldly life except the enjoyment of delusion."  QS 57:20

FINDINGS

June 22, 2015


This weeks findings are:

1. Jeanne Round Sunglasses: super cute! Framenya tipis, It has dark leopard pattern so it doesn't look too much.
2. Socal Max Wanger Print: musim kemarau di bulan puasa jadi berasa kayak di South California (belom ngerasain sih) (tapi) (yaudah)
3. Potto Mikku Red Perplexed Ceramics Planter: this one is owned by my seniors! I love its white and clean concept.
4. Topshop Mom Jeans: baru-baru ini lagi ngikutin korean drama yang judulnya The Producers. Di situ si pemeran Ye Jin-nya seneng banget pakai mom jeans. Bagus banget (in spite of her super slim body).
5. Mi-Pac Classic Backpack with All Black: MY MOST FAVORITE!!!!

Meet: Silmi Sabila

June 20, 2015


Managing a blog is not an easy business. Ever. Saya kagum, deh, sama temen-temen yang konsisten mengisi blognya secara rutin dan masih mengupdatenya sampai sekarang. Dengan adanya Instagram, semua orang jadi gampang berbagi cerita dan bikin self-branding, apalagi sekarang udah banyak aplikasi yang nyediain filter-filter kunst instan yang bikin feeds Instagram jadi kayak semacam galeri foto (well it is a gallery, but you know what I mean).

Two days ago I stumbled upon a blog of my friend, and it was exciting because I can hardly find my friend in real life managing a blog!

Silmi Sabila is one of my classmate. We often take a lunch together, do some karaoke nights, eat ramens, and all. Silmi, salah satu anak hipster Depok ini, suka sekali dengan musik dan eksplorasi band-band dan musisi baru. Dan kali ini saya mau berbagi cerita tentang wawancara saya sama doi! I mean look at her. She's not a regular girl you'll find in a shopping trade, right?

What makes music interesting to you?

Karena musik selalu ada di saat gue membutuhkan teman dan hiburan. Sebenernya sama aja kayak suka baca buku atau nonton film gitu, nggak, sih? Tapi musik lebih mudah buat diakses dan effortnya nggak segede baca buku, haha. Yang seru itu sebenernya eksplorasinya gitu sih, kayak seru aja nemu musik-musik baru yang belum pernah didenger. Ada kesenangan sendiri kalau udah tau duluan sebelum terkenal. Hahah, ya namanya juga anak muda, pengennya tampil berbeda.

Mulai kapan tertarik sama musik?

Kayaknya mulai SMP sih gue tertarik buat lebih ngedengerin musik. Gara-gara temen ngasih tau lagu-lagu bagus, akhirnya jadi tertarik untuk cari tau lebih banyak. Mungkin karena waktu SMP adalah jaman-jaman mulai aktif berinternet ya, jadi lagi seneng-senengnya mencari hal-hal baru lewat internet. Terus waktu kuliah gara-gara 8EH Radio ITB jadi semakin tertarik buat menemukan hidden gems di permusikan Indonesia.

Lagu apa yang pertama kali bikin 'wah kayaknya seru nih kalo nyari yang baru-baru lagi'?

Waktu SMP gue baru mengenal (lagu-lagunya) Gugun Blues Shelter, Andre Harihandoyo and Sonic People, Mocca, White Shoes and the Couples Company, Sore dan semacamnya.

Sejauh ini penemuan apa yang paling mengesankan?

Maladialum, karena langsung ketemu personelnya haha. Dulu gue mesen albumnya yang Alam Raya dalam Harmoni, eh ternyata yang nganterin ke Bandung personelnya langsung!

Kayaknya kamu lebih suka musik Indie. Kenapa harus Indie?

Sebenernya nggak harus indie juga sih, yang penting sesuai aja sama selera. Gue juga suka-suka aja kok lagu-lagunya Raisa atau Peterpan. Tapi mungkin gue lebih banyak mengekspos dan mengeksplor musik-musik indie karena itu tadi, seru aja nyari-nyarinya dan itung-itung bantuin mereka yang masih underrated juga biar bisa lebih diketahui sama orang banyak.

Menurut kamu musik bagus itu musik yang kayak gimana?

Bagus maksudnya liriknya juga lebih berarti, dan musiknya nggak melayu mendayu melulu.

Sejauh ini siapa band atau musisi favorit kamu?

Wah, apa ya? Bingung deh. Kalau lihat dari yang paling banyak diplay dari dulu hingga sekarang; White Shoes and the Couples Company, The Adams, Vampire Weekend, sama The Beatles. Meskipun The Beatles belum hatam dengerin semua lagunya wqwq. (Iya harus ada wqwq-nya)

Apa lagu yang lagi kamu suka sekarang?

Sekarang lagi seneng dengerin band-band indie Indonesia yang udah ada dari jaman dulu, macam Rumahsakit, Sajamacut, Pure Saturday. Ternyata bagus-bagus, haha. Gue baru dengerin sekarang. Musik-musik instrumental yang nggak ada liriknya juga. Enak buat didengerin sambil baca buku. Oh iya, sama lagu-lagu masa kecil kayak Sherina, Tasya, dan lagu-lagu 90an juga selalu gue denger lagi.

Oh ya. Apa, sih, yang bikin beda lagu sekarang sama lagu-lagu tahun 90an?

Yang bikin beda teknologi dan internet, ya, kayaknya. Semakin ke sini jadi semakin beragam eksplorasi permainan musiknya, seperti genre-genre macam vaporwave atau lagu-lagu yang pake glitch. Terus karena internet juga, semangat independent jadi semakin tinggi. Soalnya kalau mau karya kamu didenger orang bisa tinggal dipost lewat Soundcloud, atau lewat Bandcamp. Nggak harus lewat label besar yang prosesnya juga bakalan lebih panjang. Meskipun kekurangannya jadi jarang ada lagu hits yang bener-bener membekas di telinga dan hati, yang bisa menandakan 'wah lagu ini 2004 banget nih' atau '2015 banget nih'. Nggak kaya jaman dulu yang 'wah ini lagu 50an banget nih'.

Do you consider yourself as an independent girl?

(1) : not subject to control by others : self-governing (2) : not affiliated with a larger controlling unit

Kalau artinya itu, ya bisa sih, selain masih dikontrol sama orangtua dan Tuhan. Dan dikontrol oleh kapitalisme, hahaha. Tapi dalam beberapa hal gue sudah terbiasa melakukannya sendiri.

What's the perks of being independent?

Keuntungannya adalah, you can be alone without having to feel lonely. Kan orang Indonesia kebanyakan masih apa-apa harus bareng-bareng, apa-apa harus gotong royong, merasa aneh kalau pergi sendirian, dan lain-lain. Sebenernya lebih bebas kalau bisa sendiri. Bisa melakukan banyak hal sendiri tanpa harus merepotkan orang lain itu menyenangkan sih. Soalnya gue juga nggak terlalu suka direpotin. In the end, lo juga bakal cuma sendiri di alam kubur, hwhwhw. (Iya harus ada hwhwhw-nya)

Do you play music too?

I wish I could. Tapi belum bisa main apa-apa, nih, sampai sekarang. Cuma bisa pianika. Pengen belajar gitar atau ukulele, tapi belum ada kesempatan.

Selain belajar gitar dan ukulele, kalau ada kesempatan mau belajar apa lagi?

Belajar nulis, either in English or Indonesian, soalnya kemampuan menulis gue udah mulai berkarat. Belajar masak, belajar nyetir mobil atau motor, belajar bernyanyi dengan baik dan benar juga, mungkin.

Do you have any random story you want to tell people?

“In ancient time people weren‘t just male or female, but one of three types: male/male, male/female, or female/female. In other words, each person was made out of the components of two people. Everyone was happy with this arrangement and never really gave it much thought. But then God took a knife and cut everybody in half, right down the middle. So after that the world was divided just into male and female, the upshot being that people spend their time running around trying to locate their missing other half.“

Itu aja lah ya, haha. Dari bukunya Haruki Murakami, Kafka On The Shore, yang baru selesai gue baca. Padahal bacanya udah dari kapan huft.


She believes that there's no specific thing when it comes to music. Kalau suka, ya suka aja. Sekarang Silmi adalah Music Director di salah satu radio kampus, 8EH Radio ITB. Thank you for your time, Silmi. We wish you a couple days of free time so you could learn to play ukulele!

Visit these Silmi-ish links:
1. Her 8tracks account
2. Her brand new playlist
3. Her blog

Image credit to: Klodi

FAQ: SBMPTN ITB 2013

June 18, 2015

Yang pernah mampir ke blog ini mungkin pernah tau postingan saya mengenai SBMPTN 2013 dan cerita saya sampai bisa masuk ITB. Postingan itu adalah salah satu postingan yang paling banyak pageview-nya, lho. Tapi sudah saya unpublish karena saya malu hehehe.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya di ITB dan tentunya akan sangat basi kalau saya cerita tentang hal itu. Tapi karena banyak yang pengen tau tentang SBMPTN yang sempat saya jalani, terutama tes keterampilan FSRD ITB, di sini saya mau coba berbagi dengan jawaban yang sudah diringkas ya!

TES KETERAMPILAN FSRD ITB SOALNYA KAYAK GIMANA?

Dulu saya ngerjain tiga jenis soal. Di soal pertama saya diminta untuk menggambar objek yang ada di depan saya, atau nama kerennya live drawing. Saya diminta untuk menggambar gerabah dan buah melon yang diletakkan di atas kardus. Di soal kedua saya diminta untuk menggambar gambar suasana. Untuk gambar ini kalian nggak perlu pusing-pusing mikirin suasana apa yang mau digambar, nggak perlu berimajinasi tentang liburan ke pantai atau belanja di pasar yang sedang terjadi kecopetan, karena waktu itu saya dikasih soal deskripsi detail tentang objek yang harus saya gambar. Saya tinggal pilih satu suasana di antara tiga yang disediakan, lalu langsung digambar. Soal ketiga berupa tes psikologi. Waktu itu saya diminta untuk meneruskan garis abstrak yang sudah tersedia menjadi sebuah gambar objek utuh. Tiga soal tadi adalah soal yang saya kerjain tahun 2013. Mungkin akan ada perubahan soal setiap tahunnya.

PERSIAPAN APA YANG KAMU LAKUIN SEBELUM TES SBMPTN?

Saya cuma latihan pakai buku soal dan persiapan SBMPTN yang biasa dijual di toko buku. Saya sempat ikut les, tapi itu setahun sebelum saya ikut SBMPTN, waktu saya masih persiapan UN (anak SMK sekolahnya 4 tahun).

KOK BISA ANAK SMK MASUK ITB?

Ya bisa. Banyak kok dari teman saya yang dulunya anak SMK dan sekarang kuliah di ITB.

ADA NGGAK TIPS DAN TRIK LOLOS SBMPTN & TES KETERAMPILAN?

Latihan! Jangan cuma latihan mepet sebelum tes, tapi harus jauh sebelum itu. Biasain gambar kalau kamu emang suka gambar. Dengerin penjelasan gurunya instead of belajar semaleman sebelum tes. Dan berdoa, I guess? The most powerful factor yet some people sometimes forget. There's no tips and tricks, you know, because you yourself are the only one who knows what you need to prepare.

APA KRITERIA KEBERHASILAN TES KETERAMPILAN SBMPTN?

Nggak tau. Saya bukan tim penilai. Saya pernah denger bahwa gambar yang diloloskan adalah gambar yang kelihatannya potensinya bisa dikembangkan. Tapi itu bukan dari sumber yang valid, jadi yang penting kerjain dan percaya diri aja.

SAYA NGGAK MENYELESAIKAN GAMBAR SAYA, MASIH ADA PELUANG MASUK NGGAK YA?

Gambar suasana saya juga waktu itu nggak selesai. Tapi saya masuk. (SENGA) (MAAP)

Well I hope this helps out. Good luck!

Batas

January 29, 2015

Endah: Charlie Hebdo heboh banget ya.
Aku: Iya, dan jadi overrated.
Endah: Kok kalo aku liat di koran tadi si kartunisnya mencurigakan gitu. Jadi biased. Keturunan Yahudi. Gak tau ya.
Aku: Woh. Parah sih anjir kesel banget, freedom of speech freedom of speech bangkai.
Endah: Gak tau loh cuma spekulasi.
Endah: Pada akhirnya, limit itu yang paling manusiawi. Peraturan itu ada untuk mencegah sesuatu yang buruk.

Temen aku keren-keren gini ya.

Label

Suatu sore ketika sedang bikin dekorasi.

Nanda: Aku bingung deh, Ca, sama yang introvert gitu.
Aku: Lah? Kan aku juga introvert. Emang nggak keliatan?
Nanda: Hah? Masa? Bukannya ekstrovert? Liat aja kamu lagi dimana dan lagi ngapain sekarang.
Aku: Iya, sih. Tapi, Nan, yang ekstrovert tuh contohnya kayak (nyebut nama beberapa temen), gitu-gitu deh.
Nanda: Yee, bisa aja mereka juga introvert. Cuma massanya aja lebih banyak.

ˈprejədəs/

January 27, 2015

"Tolerance isn't stupid," Claire said in a schoolmarmish tone. "Prejudice is."
(The Submission, by Amy Waldman)

I was startled back then. The search of you turned out to be a show of my stupidity. I thought I might get more, but I only got a glimpse where prejudice lingers. The image of you went blur, way more blur than ever.

But then again, maybe I’m the one who prejudiced. Maybe my version of you was only a reflection of my ego.

Maybe you’re not exist at all.

I'm 20 NOW, PEEPSSSS!

January 16, 2015

Apa yang akan dihilangkan dan diubah tahun ini? Nggak tau. Kayaknya saya lagi pada posisi males nyusun rencana. By the way, waktu umur 18 tahun saya sempet nulis surat untuk saya yang 20 tahun ini. Kemarin baru dibaca ulang. Tadinya mau dipost di sini, tapi nggak jadi deh. Malu. Sok dewasa gitu, kesel bacanya. Pokoknya di situ ada pertanyaan gini, "Sekarang kuliah di mana, Ca? Aku yakin kamu pasti lagi kuliah di institut terbaik bangsa." God, can you believe it?! I think I have the potential to be the next Madam Lauren. Such a self-centered human being huh.

Makin sini ulang tahun makin nggak berasa buncahan-buncahan rasa kesenangannya, ya? Kayak biasa aja. Emang biasa aja sih harusnya. Dikira film apa. Tapiiiii, what good in birthday iiiissss I received artworks from my fellow friendssss! Gonna make this post to thank them instead.

 This one was made by @eky09.
Makasih, kiiii! Bagus banget kusuka sekaliiiiii!


 Yang ini bikinannya @novinrn.
Sangat terharu karena terlihat lebih muda. YAIYALAH.
ORANG ITU FOTO JAMAN 17 TAHUN.
Ini bikinannya @rcrdostwn.
Iya walaupun calangap gitu tapi bagusssss. Kusuka.

Thank you guys so much!!! Tell ya, this is what happened when you live in this field. Gotta make arts and design as the next possible major on your list, you know.

Interested? Follow their instagram and ask away because they won't bite.

Also, thank you for the birthday wishes, everyone! I was overwhelmed yesterday I might reconsider my fondness over birthday again hihi. See ya, peeps! Have a wonderful and joyous year ahead.

xx

INTERNET PERSONA

January 14, 2015

BEWARE OF THAT, YOU GUYS.

Blur

January 12, 2015

Jika kemarin malam adalah bias,
maka kuingin hadir sekali lagi.
Melebur dengan udara,
menguap, tinggi, tinggi.

Semu.
Kupikir aku bahagia.
Tapi aku hanya bodoh.

Kamu tidak akan pernah bisa
memfokuskan refraksimu
untuk melihat
aku.

Tetapi hangatlah,
hangatlah seperti udara
yang menjejali tanah airmu.

Sebab di sanalah eksistensiku.
Berdiri, tidak berlari.
Menunggu,
dan mati berulang kali.

Theme by: Pish and Posh Designs