Meet: Silmi Sabila

June 20, 2015


Managing a blog is not an easy business. Ever. Saya kagum, deh, sama temen-temen yang konsisten mengisi blognya secara rutin dan masih mengupdatenya sampai sekarang. Dengan adanya Instagram, semua orang jadi gampang berbagi cerita dan bikin self-branding, apalagi sekarang udah banyak aplikasi yang nyediain filter-filter kunst instan yang bikin feeds Instagram jadi kayak semacam galeri foto (well it is a gallery, but you know what I mean).

Two days ago I stumbled upon a blog of my friend, and it was exciting because I can hardly find my friend in real life managing a blog!

Silmi Sabila is one of my classmate. We often take a lunch together, do some karaoke nights, eat ramens, and all. Silmi, salah satu anak hipster Depok ini, suka sekali dengan musik dan eksplorasi band-band dan musisi baru. Dan kali ini saya mau berbagi cerita tentang wawancara saya sama doi! I mean look at her. She's not a regular girl you'll find in a shopping trade, right?

What makes music interesting to you?

Karena musik selalu ada di saat gue membutuhkan teman dan hiburan. Sebenernya sama aja kayak suka baca buku atau nonton film gitu, nggak, sih? Tapi musik lebih mudah buat diakses dan effortnya nggak segede baca buku, haha. Yang seru itu sebenernya eksplorasinya gitu sih, kayak seru aja nemu musik-musik baru yang belum pernah didenger. Ada kesenangan sendiri kalau udah tau duluan sebelum terkenal. Hahah, ya namanya juga anak muda, pengennya tampil berbeda.

Mulai kapan tertarik sama musik?

Kayaknya mulai SMP sih gue tertarik buat lebih ngedengerin musik. Gara-gara temen ngasih tau lagu-lagu bagus, akhirnya jadi tertarik untuk cari tau lebih banyak. Mungkin karena waktu SMP adalah jaman-jaman mulai aktif berinternet ya, jadi lagi seneng-senengnya mencari hal-hal baru lewat internet. Terus waktu kuliah gara-gara 8EH Radio ITB jadi semakin tertarik buat menemukan hidden gems di permusikan Indonesia.

Lagu apa yang pertama kali bikin 'wah kayaknya seru nih kalo nyari yang baru-baru lagi'?

Waktu SMP gue baru mengenal (lagu-lagunya) Gugun Blues Shelter, Andre Harihandoyo and Sonic People, Mocca, White Shoes and the Couples Company, Sore dan semacamnya.

Sejauh ini penemuan apa yang paling mengesankan?

Maladialum, karena langsung ketemu personelnya haha. Dulu gue mesen albumnya yang Alam Raya dalam Harmoni, eh ternyata yang nganterin ke Bandung personelnya langsung!

Kayaknya kamu lebih suka musik Indie. Kenapa harus Indie?

Sebenernya nggak harus indie juga sih, yang penting sesuai aja sama selera. Gue juga suka-suka aja kok lagu-lagunya Raisa atau Peterpan. Tapi mungkin gue lebih banyak mengekspos dan mengeksplor musik-musik indie karena itu tadi, seru aja nyari-nyarinya dan itung-itung bantuin mereka yang masih underrated juga biar bisa lebih diketahui sama orang banyak.

Menurut kamu musik bagus itu musik yang kayak gimana?

Bagus maksudnya liriknya juga lebih berarti, dan musiknya nggak melayu mendayu melulu.

Sejauh ini siapa band atau musisi favorit kamu?

Wah, apa ya? Bingung deh. Kalau lihat dari yang paling banyak diplay dari dulu hingga sekarang; White Shoes and the Couples Company, The Adams, Vampire Weekend, sama The Beatles. Meskipun The Beatles belum hatam dengerin semua lagunya wqwq. (Iya harus ada wqwq-nya)

Apa lagu yang lagi kamu suka sekarang?

Sekarang lagi seneng dengerin band-band indie Indonesia yang udah ada dari jaman dulu, macam Rumahsakit, Sajamacut, Pure Saturday. Ternyata bagus-bagus, haha. Gue baru dengerin sekarang. Musik-musik instrumental yang nggak ada liriknya juga. Enak buat didengerin sambil baca buku. Oh iya, sama lagu-lagu masa kecil kayak Sherina, Tasya, dan lagu-lagu 90an juga selalu gue denger lagi.

Oh ya. Apa, sih, yang bikin beda lagu sekarang sama lagu-lagu tahun 90an?

Yang bikin beda teknologi dan internet, ya, kayaknya. Semakin ke sini jadi semakin beragam eksplorasi permainan musiknya, seperti genre-genre macam vaporwave atau lagu-lagu yang pake glitch. Terus karena internet juga, semangat independent jadi semakin tinggi. Soalnya kalau mau karya kamu didenger orang bisa tinggal dipost lewat Soundcloud, atau lewat Bandcamp. Nggak harus lewat label besar yang prosesnya juga bakalan lebih panjang. Meskipun kekurangannya jadi jarang ada lagu hits yang bener-bener membekas di telinga dan hati, yang bisa menandakan 'wah lagu ini 2004 banget nih' atau '2015 banget nih'. Nggak kaya jaman dulu yang 'wah ini lagu 50an banget nih'.

Do you consider yourself as an independent girl?

(1) : not subject to control by others : self-governing (2) : not affiliated with a larger controlling unit

Kalau artinya itu, ya bisa sih, selain masih dikontrol sama orangtua dan Tuhan. Dan dikontrol oleh kapitalisme, hahaha. Tapi dalam beberapa hal gue sudah terbiasa melakukannya sendiri.

What's the perks of being independent?

Keuntungannya adalah, you can be alone without having to feel lonely. Kan orang Indonesia kebanyakan masih apa-apa harus bareng-bareng, apa-apa harus gotong royong, merasa aneh kalau pergi sendirian, dan lain-lain. Sebenernya lebih bebas kalau bisa sendiri. Bisa melakukan banyak hal sendiri tanpa harus merepotkan orang lain itu menyenangkan sih. Soalnya gue juga nggak terlalu suka direpotin. In the end, lo juga bakal cuma sendiri di alam kubur, hwhwhw. (Iya harus ada hwhwhw-nya)

Do you play music too?

I wish I could. Tapi belum bisa main apa-apa, nih, sampai sekarang. Cuma bisa pianika. Pengen belajar gitar atau ukulele, tapi belum ada kesempatan.

Selain belajar gitar dan ukulele, kalau ada kesempatan mau belajar apa lagi?

Belajar nulis, either in English or Indonesian, soalnya kemampuan menulis gue udah mulai berkarat. Belajar masak, belajar nyetir mobil atau motor, belajar bernyanyi dengan baik dan benar juga, mungkin.

Do you have any random story you want to tell people?

“In ancient time people weren‘t just male or female, but one of three types: male/male, male/female, or female/female. In other words, each person was made out of the components of two people. Everyone was happy with this arrangement and never really gave it much thought. But then God took a knife and cut everybody in half, right down the middle. So after that the world was divided just into male and female, the upshot being that people spend their time running around trying to locate their missing other half.“

Itu aja lah ya, haha. Dari bukunya Haruki Murakami, Kafka On The Shore, yang baru selesai gue baca. Padahal bacanya udah dari kapan huft.


She believes that there's no specific thing when it comes to music. Kalau suka, ya suka aja. Sekarang Silmi adalah Music Director di salah satu radio kampus, 8EH Radio ITB. Thank you for your time, Silmi. We wish you a couple days of free time so you could learn to play ukulele!

Visit these Silmi-ish links:
1. Her 8tracks account
2. Her brand new playlist
3. Her blog

Image credit to: Klodi

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs