21:43

November 16, 2015



Kamu tahu kita sedang berjalan kemana? Aku, ya. Aku tahu jejak-jejaknya akan mengarah kemana. Memikirkannya sudah seperti mau berkeliling dunia dengan daftar oleh-oleh yang lengkap. Tanya aku, sebab aku hafal di luar kepala.

Tapi di sini, di sepatu ini, tak hanya ada sepasang kaki. Ya, 'kan? Ada dua pasang! Entah bagaimana sepasang sepatu bisa dipakai dua orang. Atau aku salah lihat? Mungkin sebenarnya sepatunya ada empat, tapi berjalan beriringan.

Maka dari itu, bayanganku tentang jejak-jejak di depan sana tidak berarti sama sekali. Kamu juga tahu itu. Pula ketika aku mengintip imaji jejak yang mungkin pernah kamu simpan, otakmu seperti diselimuti mantra sehingga aku tidak bisa membacanya sama sekali. Menyenangkan, sih. Tapi bingung!

Lalu bertanya-tanyalah aku padaku sendiri (sebab aku tak tahu apakah kamu pernah bertanya-tanya). Bilakah aku berhenti, kamu pun akan berhenti? Perlukah kita tahu arah mana yang sedang kita tuju?

Mungkin kita tak perlu tahu. Mungkin yang kita perlukan cuma kopi dan gorengan. Mungkin tawamu sudah lebih, lebih, lebih dari cukup.  Karena bahagia yang tak sengaja kamu lempar ke atas kepalaku masih akan terus berada di situ.

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs