Rants

July 02, 2015

Diri saya saat ini terbentuk dari diri saya yang kemarin hingga sekarang. Saya bingung kenapa seorang manusia bisa menumpuk banyak perasaan di hatinya dan banyak pikiran di otaknya, ya? Memang nggak ada batasannya? Contohnya, diri saya saat ini terbentuk dari;

1. Bayangan abstrak tentang bagaimana keadaan jasad nenek saya di kuburnya sekarang.

2. Baru selesai baca buku Dilan (Iya, masih Dilan, bukan Dilan 2) dan jadi banyak yang saya pikirin; ada nggak ya cowok model Dilan jaman sekarang? Kok Milea namanya bagus? Kenapa Milea harus cantik? Milea beruntung sekali. Jangan-jangan Dilan yang selama ini diceritain tuh sebenernya Pidi Baiq? Cowok kalo baca buku Dilan efeknya bakal gimana ya?

3. Mau buka chat Line tapi error terus.

4. Bosaaaan!

5. Kalau udah lulus, kerja jadi apa ya?

6. Besok habis sahur semoga bisa nggak tidur lagi.

7. Tadi siang nyomot flyer formulir kerja di Zara-Stradivarius-Topshop. Bisa part-time. Daftar, nggak, ya?

8. Libur sampai tanggal berapa sih?

Wah segitu aja udah banyak. Nggak apa-apa ya, saya cerita di sini? Ya nggakpapa lah blog blog siapa juga gob-- nggak deng istighfar bulan ramadhan. By the way dengan menuliskan sebagian isi otak, kok berasa agak ringan ya? Agak.

Life Lessons from the Death

July 01, 2015


Dari kematian saya belajar banyak hal.

Saya jadi merasa disadarkan lagi kalau urusan mati tuh bukan di tangan manusia. Mau sepintar apapun kita merencanakan, keputusannya selalu ada di tangan Tuhan. Saya juga jadi merasa bahwa setiap detik yang kita lalui tuh sayang banget kalau cuma diisi dengan hal-hal yang sia-sia (Ok well my love for my bed is still there but let's just continue shall we). Saya juga belajar bahwa kematian bisa sangat berpengaruh pada orang-orang yang masih hidup. Saya sangat, sangat sadar, bahwa kematian memang sudah ada garis waktunya. Jadi bukan kematian yang datang pada kita, tapi kita yang menjemput kematian itu sendiri.

They said 'we can't ever lose anyone because we never own anyone'. Tapi rasa kehilangan memang terlalu abstrak buat didefinisikan, sih. Kalau menurut saya, we indeed never own anyone but we own the memories with them. Kita dihadapkan pada realita bahwa kita nggak bisa membuat memori lagi dengan mereka yang sudah nggak ada, bahwa kita nggak bisa kembali kepada mereka yang sudah nggak ada, dan ya sudah, cuma ada memori-memori lama yang saya takut sekali akan berangsur hilang.

Selain itu, ada tahapan-tahapan yang mungkin hampir kebanyakan orang alami ketika ditinggal pergi oleh orang yang dicintai selama-lamanya. Tahap pertama adalah shock theraphy, tahap dimana kita bingung dengan keadaan, disoriented, merasa bahwa kita sedang bermimpi. Tahap ini yang mungkin sering dijadikan referensi buat sinetron-sinetron. Memanggil nama mereka, seolah-olah dengan seperti itu mereka bisa kembali lagi.

Tahap kedua adalah ketika kita tahu kalau mereka sudah nggak ada dan nggak bisa kembali lagi. Di tahap ini air mata kita kompakan sama pita suara. Nangisnya bukan bercanda. Kadang-kadang susah berhenti, tergantung keikhlasan orang yang ditinggalkan.

Tahap ketiga adalah ketika tangisan-tangisan itu sudah berubah menjadi seserenggukan. Tapi kadang-kadang tangisan itu bisa muncul lagi. Karena di tahap ini kita sudah tau bahwa mereka nggak bisa kembali lagi, dan ditambah dengan 'berarti aku nggak bisa blablabla lagi bareng dia'. We are all just a bunch of selfish human beings, huh?

Tahap selanjutnya adalah tahap move on. Tapi kadang-kadang akan terjadi lagi tahap ketiga, bisa jadi berulang kali, sampai akhirnya bisa benar-benar move on.

Such a depressing post, isn't it? My grandmother passed away last Friday, and I hope she's happy right now because she doesn't need to feel the pain on her left arm and leg. I am thankful for the past two weeks I spent with her. I am thankful for God has given me such a caring grandma who used to be fun, and could teach me life lessons even when she's not with us anymore.

Here's a #notetoself:

"Know that the life of this world is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children - like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris. And in the Hereafter is severe punishment and forgiveness from Allah and approval. And what is the worldly life except the enjoyment of delusion."  QS 57:20

Theme by: Pish and Posh Designs