Cerita Tingkat Akhir #0

December 29, 2016

Agak bosen sih, sebenernya, karena beberapa blogpost terakhir bercerita tentang perpisahan. Habis gimana, akhir-akhir ini saya dihadapkan sama planning hidup yang udah nggak main-main lagi. Hampir setengah tahun lagi saya lulus kuliah! (Amin). Dan saya harus melanglangbuana ke dunia yang kejam di luar sana huhu. Kalau salah, sudah nggak dimaklumi lagi karena bukan lagi mahasiswa. Kalau gagal, sudah nggak dimaklumi lagi karena bukan lagi mahasiswa. Kalau makan, sudah nggak diskon lagi karena bukan lagi mahasiswa. Ternyata label mahasiswa sangat berarti dan saya baru sadar di akhir-akhir.

Mungkin saya akan memaksimalkan banyak kesalahan di sisa status saya, atau mungkin akan banyak mengunjungi tempat-tempat berdiskon untuk pemegang kartu mahasiswa, atau apapun yang bisa saya lakukan yang hanya boleh mahasiswa lakukan haha.

Jadi mulai sekarang, siapapun yang baca dan mengunjungi blog ini, jangan bosan-bosan dengan topik perpisahan ya! Nggak akan sedih-sedihan, kok. Mungkin melankolis, sedikiiit. Mostly, I will cherish every ups and downs that comes to my life for the next... six months? Or up until I get the degree.

Jadi... apa ya yang saya akan ceritain di Cerita Tingkat Akhir #1?

Daun-daun di Parkiran Sipil

Rogue One & Queen V

December 20, 2016

It's a shame I can write paragraphs here and yet my thesis...

Anyway! I finally got a chance to visit cinema yesterday, at the same time I put my laptop to the service center because it's totally dead I can't turn it on at all. See, life sucks sometimes but thank to that I could watch Rogue One.

Rogue One is cool, man. I don't think there's any boring scene. The pace is just right. And it explains everything you wonder about in Star Wars three, four, five. Shots are beautiful, in a way that if you stop the movie anytime it still looks like a painting. Except the shot on weird creatures, my sister kind of feeling gross watching them moving (sometimes with slime) (it's her first time watching Star Wars).

Stupid, stupid stormtroopers

Impression that still lingers is... I don't know whether this is a spoiler or not but, THERE WAS A SCENE OF YOUNG PRINCESS LEIA??? With no glitch. I mean?? Okay, that's CGI but?? Still shocking???

And every. single. time. Darth Vader enters the scene is so, so beautiful. They certainly put their thought a lot about this one.

Also, my sister was asking me to show her the rest of Star Wars movie. I'm moved.

Really, though, let's discuss the movie.

On a different note, I just finished eight episodes of Victoria. It makes me kind of making a quick research (read: googling) on the real Queen Victoria and her husband, Prince Albert, and as always; totally different looks from what we saw on tv. But it's Tom Hughes who was playing the role of a prince, so we cannot resist, can't we?

I mean, look at this.

The real Queen Victoria & Prince Albert

TV version of Queen Victoria & Prince Albert

K then, those were, I think, the highlights of my week. I will be away till next year to finish things off, so happy new year & have a delightful holiday, y'all!

1 AM

December 19, 2016



Feeling is a form of emotion that is pure. Its beauty should not have been shielded. Embrace sadness. Admit that you are sad. It's okay, people are not always happy. This is not a fairytale. This ironic, ironic world is not a fairytale.

Your heart is broken, and that's okay. Right now there's plenty of hearts that are broken, too. You're not alone. It happens, life happens.

You don't know where this will take you.

Be sad, darling, be sad. Empty your eyes, pick up the pieces.

And then shine. Shine brighter with those blinding lights.

Be brave. Love well like you used to.

Yang Berakhir

December 17, 2016

Hari ini saya siaran di 8eh untuk yang terakhir di semester ini, dan mungkin untuk semester depan. Mungkin bakal ngisi beberapa slot kalau announcernya lagi nggak bisa siaran, tapi sepertinya nggak akan megang program lagi semester depan karena udah banyak kru baru yang masuk dan lebih berhak buat explore berbagai program.

Saya jadi sadar juga ternyata waktu saya di kampus nggak nyampe setengah tahun lagi. Haha iya anaknya optimis Wisuda Juli. Nyesel juga belum banyak explore kampus, belum banyak nambah kenalan baru semester ini, belum banyak yang dikerjakan selama tiga tahun terakhir.



Ini nggak cuma sebatas berhenti siaran atau lulus dari kampus. Semesta punya caranya sendiri buat ngasih tau kalau apapun yang ada di dunia ini nggak kekal. Prinsip ini juga ada di ajaran Islam, banyak ditemui di Al-Quran, tapi kadang kita lupa dan baru inget setelah kita mendekati akhir.

Tapi se-nggak-sukanya saya sama perpisahan, sebuah akhir emang perlu ada. Because life happens. And maybe it's the only reminder for us about how valuable things are.

Segala hal jadi lebih berarti kalau sudah berakhir, ya. Manusia, manusia.

Oh, just being a-kid-these-days

December 11, 2016

I still remember the first time they launched Instagram for Android. Back then only iPhone users can have the access for Instagram. Android was also in their developing years, so when Instagram was launched for that platform, what I know is there was no other photo-editing apps available except that one.

It's amazing how fast technology evolved. I mean not even half of the decade, yet there's already a huge gap between technology now and then. For me who is the type of a fast-learner, to learn and experience something new and fun that technology offers is something that made me who I am today; up to date yet confused.

I finally found myself opening the apps for, like, the 20th time in the same day, when my task remained untouched. Oh it might be such an interesting timeline I had, don't you think? No, apparently it's just like everyone else's. Selfies, group photos, places, some useful information like interior designs, people's babies, etc.

It's nice to know that some people in my age has already married. It's nice to know that our precious Bjorka Dieter has finally reached 9 months of living. The thing is, do I need all of these? Can I live without knowing what she ate for breakfast? Are they that important for me?

-

Not denying how useful instagram sometimes, though. People can earn money, I've got an offer for a job once because I posted my works there, of course it's useful for some cases. My friend told me what matters the most is how we manage the dependency on that platform. Trueeee.

That's why in my case I think I just need a break from these crazy excessive information. If instagram is a platform to showcase your life, I think I want to figure out my life first.

Perhaps I'll be back. But life has been happier without it for now.

Opera Kecoa Ketiga

November 19, 2016

Minggu kemarin saya en de gengs cabs ke jaks (saya dan teman-teman saya, yang baik hati dan hobi bully, pergi ke Jakarta) tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kabur dari kejaran tugas akhir. Iya, liburan sebentar gitu maksudnya. Tujuan utamanya sebenernya bukan buat cabut kok, tapiii buat nonton teater!

Beberapa bulan yang lalu, tiga dari kami nonton teater dari Teater Koma. Udah tau Teater Koma belum? Harus tau! Teater Koma adalah kelompok seni teater yang sudah ada sejak 1977. Karena udah cukup tua, pengalamannya juga banyak dan punya reputasi yang cukup bagus di dunia perteateran Indonesia. Nah, beberapa bulan lalu teman-teman saya nonton pertunjukan Semar Gugat.

Lalu, minggu kemarin Teater Koma menggelar pertunjukan lagi yang ke-146 berjudul Opera Kecoa. Kali ini kami berlima memutuskan buat nonton dengan formasi lengkap. Soalnya di posternya ada tulisan 17+. Hahaha nggak deng. Kami super excited dan sangat menunggu momen nonton teater ini. Motifnya bisa karena nggak sabar nunggu pertunjukannya atau nggak sabar untuk melarikan diri dari tugas-tugas. Bebas lah udah.

Karena harga tiketnya lumayan, jadi kami beli tiket dengan jurus andalan; kartu mahasiswa. Lumayan lho potongan harganya. Jarak dari panggungnya juga lumayan... jauh.

Jauh banget woi


A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

Opera Kecoa bercerita tentang kehidupan masyarakat kecil yang lengkap dengan kenyataan keras yang harus mereka hadapi. Di sini kita bisa lihat kelompok-kelompok seperti PSK, waria, sampai bandit-bandit kelas teri.

Hal yang memikat saya, dan mungkin sebagian besar penonton, dari pertunjukan ini adalah tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, khususnya Julini, seorang waria. Gemass!

Walaupun duduk di bagian paling belakang, segala hal yang terjadi di panggung terlihat cukup jelas, kok. Teknik-teknik dan kualitas peran dari Teater Koma mah nggak usah ditanya deh. Selain dari pemainnya, elemen pendukungnya juga bekerja dengan rapi. Sangat profesional.

Dan ternyata, ini adalah pertunjukan ketiga Teater Koma dengan judul yang sama. Dua pertunjukan Opera Kecoa yang sebelumnya dilangsungkan pada tahun 1985 dan 2003. Plus, Opera Kecoa adalah bagian dari trilogi tentang Julini.

Tiga poster Opera Kecoa (2003 dan 2016)

Julini FTW
Kami berlima sempat berdiskusi tentang tema yang diangkat di pertunjukan kemarin. Ternyata,setelah tiga kali pertunjukan Opera Kecoa pada tahun-tahun yang range waktunya cukup jauh, topik mengenai masyarakat kecil masih relevan hingga sekarang. Persoalan tentang penggusuran rumah, tempat lokalisasi, wewenang pejabat, dan lain-lain belum banyak berubah hingga sekarang.

All in all, di samping beberapa penonton yang datengnya telat sehingga agak mengganggu, saya menikmati pertunjukannya. Will definitely watch another show! Sepertinya kemarin juga merupakan pengalaman pertama saya menonton pertunjukan teater profesional, jadi saya harus tambah pengalaman lagi ini. Terlebih lagi nontonnya bareng temen-temen, jadi bisa ketawa bareng-bareng. Bisa juga ngetawain satu sama lain. Bisa juga ngetawain Dea soalnya dia sok polos, kayaknya dia belum 17+ deh.

What is up

October 26, 2016

Hi it's me again.

Malam ini saya mau curhat dan cerita-cerita. It's been a long time ya! It feels good to be back again. Saya punya blog ini dari jaman masih alay, masih suka curhat tentang hal-hal gak penting. Kalo diinget-inget banyaaak banget hal-hal yang sebenernya bukan untuk konsumsi publik tapi malah di-post di sini.

And that's the point, you know. Saya udah mencapai sebuah poin dimana saya mikir, ah, iya ya, kamu sudah dewasa caakkk! Wkwk (also by the way can someone just help me to stop my 'wkwk' habit please it's getting worse I even almost used it in real life). You're not a fifteen year old girl anymore. Sekarang kamu tau mana yang bisa dipublikasiin dan mana yang nggak. Hebat, hebat. Saya bilang hebat karena dulu saya cerewet banget ngepost di dunia maya.

Tanpa saya sadari ternyata saya sudah berkembang dan melangkah maju lumayan jauh dari saya yang dulu. Perhaps when I'm thirty I will look back reading this post and laugh at it while mumbling "Why does this girl even live.." seperti saya yang kemarin-kemarin ngetawain dan nge-apaan-sih-in status-status facebook saya dari jaman 2009.

Not gonna deny it, super gross. Like, REALLY gross. But by reminiscing those stupid old days, I could see myself growing into a woman, into who I am today. And by that I feel blessed, for going through life's ups and downs, for having to meet people that shaped me until today. I still made a lot of mistakes, though, and will still be. Because despite all the changes I went through, I never really change (I am so wise righttt you can quote me it's okay).

So why didn't you realize it sooner, ca? You're twenty one now, for God's sake! Udah mau Tugas Akhir, udah dapet dosen pembimbing juga, udah mau lulus. Okay let's make a list of why caca doesn't realize it sooner:

- Because time flies!!!
- Because I didn't pay much attention to myself
- Because I'm not aware of my surroundings
- Because I kept my mind busy for present things
- Because f college that's why
- Not really, I love college, it's the main reason why I realized I'm a woman in the first place remember?
- Well just because

Right now I forget what point I was meant to write in this post. You know, growing up sometimes just suck because you forget things, your mind scattered, you just can't focus.

Okay, let's make this sweet and short, shall we?

By realizing that I've improved a lot, I grow up, I've developed my emotional skill; I really feel blessed and I hope you do too. Life offers ice creams and pills, and you have to take them both. Life also offers different kind of people to enter your life timeline, and whatever they do to you, they shaped you.

Perhaps someday I will get used with my life again and forget how far I've moved forward, but I'm sure when I look back I will feel blessed again just like today.

Wasn't I very sentimental.

So,

August 15, 2016

MY INTERNSHIP PERIOD IS OVER!!!! I'm happy, but also sad, but mostly happy because thank God i don't have to replay those rush morning routines anymore. At least for now. Also I think to meet new people in the specified & limited time is the best time to know people because thennn you somehow don't need to deal with their bad traits because, you know, ~~limited time~~

Despite the morning rush that sucks, I lovvvve the people there for they are very funny yet supportive kind of colleagues shooo hu today was quite quiet without them. Plus the experience is something you cannot exchange with even big amount of money, that's why I'm grateful to have a chance spending my internship period at Highstreet Studio.

Now I have a week left to live a slow life before hitting back college, I plan to use it with... exercising. Lol yeah.

Exercising.

I hope she doesn't read this

July 22, 2016


Among this crazy internet phenomenon, the first person that comes up to my mind is my little sister. Me? Let's say I'm old enough to understand what's good and what's not and I can very well maintain my health by putting down phone when I don't really need it (this fails often, still trying). My sister, though. With her age in this world, how can you as a big sis not being concerned about what kind of friends she's making, or which place she's going, or what activities outside home she's doing, when even now youngsters in our country are rooting to a wrong role model? (I mean, hashtag goals.)

It is always ball in her court, but as fussy as a useful big sis that I am, I often share a piece of good writing to her via instant messaging, or just to be less annoying I sometimes give insights in between our jokes so she won't feel like I'm giving her a speech because it will be freaking boring. Apparently she's just being her fifteen year old self, counter-attacking the jokes and all but deep inside I know she understands.

In between my concern as an annoying big sis, I am very grateful to have a sister like my sister, though. I was relieved to see my sister picked her high-school based on its environment. It means she knows what she wants and she doesn't want, and she's sane enough to understand that environment makes a big influence in her life, or whatever it means I still feel grateful.

Nothing saddens me more than a feeling of being a worthless big sis. I hope I can stay longer so I can spend a lot of my time with her. Even though she's annoying sometimes. And, God, such a stubborn teenager she is.

I hope as she grows up she would be as brave as she is now, and if the world is cruel to her, I believe she'd slay whatever it is in front of her. But just if she needs someone to face them, I hope she knows I'll always be there.

For now let's pray she'd get rid of her fear of taking a bath while she's alone at home.

Eid & Life Updates

July 16, 2016

It's been about a week past Hari Raya, everything is running very fast!! Eid vibes cuma kerasa pas lebaran dan hari setelah lebaran aja, ya, huhu sedih. Itu pun karena lebaran tahun ini lagi-lagi dirayakan bareng keluarga besar. Buat yang lebarannya sendirian mungkin abis shalat ied langsung tidur lagi.

I feel very grateful to have a chance spending Eid with my big family, cousins, aunties, uncles, nephews maybe (soon, next Eid I'll have one!). After my grandmother passed away last year, the bond between the family member grows even tighter, I think. I am very grateful of that. I hope she smiles up there.







I hope it isn't too late to say; Happy Eid, everyone! May this year always brings you blessings, I'm sorry for all the mistakes I've made, etc. I didn't really give people this kind of greetings, anyway. Remember the old days when we bother to search for a catchy line for Eid greetings? Good times, indeed.

Also!!! Pokemon Go. I've tried the game, I don't install it on my phone, though. Soalnya belum keluar yang officialnya di Indonesia. Haha even though it's out already I doubt myself to install and play it regularly. Nggak tau, ya, padahal dulu suka-suka aja sama Pokemon. Hanya saja sepertinya kalau main itu kita bakal susah berhenti, terus kayak diperbudak game. Ya hape gak pake game aja udah ketergantungan apalagi diinstall game gituan. But it really is such a hype, I tend to laugh hard on the jokes and news about Pokemon Go, and I love to see people catching pokemon in the middle of the density of a bus. Lol human.

Life updatessss, err... Nothing really exciting is happening. I'm still struggling to wake up and dress up as morning as possible, the hustle bustle busway and Jakarta's traffic jam (not gonna explain this), arriving at home every nine pm, yas basically just living my internship life. Good times!! I challenged myself to not to complain about things but to be more grateful for what I have & what I've been through up till now. I realized life is more colorful that way, don't you think?

Things I Learned

June 25, 2016

Seperti yang pernah saya ceritakan, sebelum saya magang di perusahaan yang sekarang, saya juga pernah magang di salah satu televisi swasta waktu saya masih sekolah. Pengalaman ini cukup bikin saya lebih siap di kegiatan magang yang sekarang, tapi tetep nggak bikin saya terhindar dari shock culture perpindahan dari kuliah ke magang.

Kuliah dan kerja jelas adalah dua kehidupan yang berbeda. Nggak heran banyak temen saya yang juga pengen cepet-cepet selesai magang dan balik ke kampus. Maksudnya balik ke kehidupan kampus yang banyak free time-nya kali ya, haha.

Banyak hal yang saya sadari setelah menjalani dua minggu magang di salah satu perusahaan konsultan desain interior di Jakarta. Dan karena hari ini hari Sabtu, saya sangat sempat untuk akhirnya nulis blog lagi (yeah, one of the good things in your internship period is; no homework!).

You lose so much time
Like, so much. When you work, you work. You have to meet real-life deadlines, because what you design is a real place in a real world. Makanya kalo saya perhatiin para desainer interior setiap jam kerja, ya kerja aja terus. Bukain aplikasi autocad, sketchup, setelah selesai asistensi proyek satu, ngurusin proyek yang satunya lagi. Itu baru jam kerja eight to five, dan untuk pergi-pulang kantor kan nggak cuma tinggal 'tring!' kayak jin. Di jalan pun lama. Sampai rumah cuma bisa mandi dan langsung tidur. Karena kalau tidurnya kemaleman, bisa-bisa besoknya telat.

Set up your priorities, get your shit together
Hari ini proyek apa yang harus selesai? Target apa yang harus dicapai? Revisi berapa kali? Semuanya harus jelas. Get your shit together, no procrastinating, you can't forget anything. Bangun pagi langsung setelah alarm nyala, jangan ditunda-tunda kalau nggak mau terlambat setengah jam dan dimarahin sama bwosh (happened to me once) (not a good thing to be proud of actually).

Effectivity, efficiency
You don't want another hell tomorrow, so you need to finish up your deadlines today. Anyway, setelah magang, saya baru tau kalau revisi layout plan bisa sampai hampir sepuluh kali dan bahkan lebih! Beberapa proyek studio yang pernah saya kerjakan dengan beberapa kali revisi layout ternyata bukan apa-apa. Gila. Dozen of revisions does exist.

Thank God It's Friday
Setelah magang, saya baru merasakan arti sesungguhnya dari TGIF.

Apparently, you're alone
In the middle of a dense busway shelter, or horn-honking cars, my feeling goes like this; it's my own existence and the rest of the world. The world is full of strangers and other people, and you're just you. After you connect with people, like helping people or paying angkot fares, you just go back to yourself. In times like this I often think about my existence and the reason why I'm here. Or it's just because for me the lights of the buildings, and the honking of the cars, and the chaotic jumble of transjakarta, they bring me into my melancholic state. The feeling of loneliness in the middle of the crowd?

Magang Hari Pertama

June 13, 2016


Hai. Jadi setelah postingan sebelumnya tentang Jakarta, akhirnya saya diterima untuk kerja praktik di salah satu konsultan interior di Jakarta. MANTAP. Another battle to win.

Konsultan interior yang saya magangi ini ((magangi)) terletak di Palmerah. Nggak jauh dari halte busway, tinggal jalan beberapa ratus meter. Sebenernya udah enak banget lho transportasinya. Jadi dari rumah uwa tinggal naik angkot, turun di halte busway, naik bus, turun di halte busway tujuan, jalan, nyampe. Ah man, I wish it was as simple as that.

Saya berangkat dari rumah uwa jam setengah enam dan masih lumayan gelap, karena magang di bulan puasa masuknya jam delapan. Setelan udah rapi, muka udah seger, sepatu kinclong, pokoknya saya semangat untuk berangkat magang di hari pertama. Waktu nyegat angkot saya kira angkotnya masih kosong gitu kan soalnya masih gelap gini paling beberapa orang yang naik, eee penuh. Untung saya langsing jadi bisa nyempil.

Perjalanannya lancar dan nggak ada hambatan yang berarti. Di bus, saya depan-depanan sama ibu hamil yang lagi duduk dan tidur setengah bangun. Nggak kebayang sih rempongnya mobilitas seorang ibu hamil. Ibu saya juga pernah cerita, katanya waktu hamil doi sering bolak-balik Sukabumi - Bandung pakai bus sendirian. Ibu-ibu lain juga pasti perjuangannya sama-sama berat. Iyalah, saya aja yang bawa tas isinya laptop udah kayak mau pingsan. Gak deng, lebay. Maksudnya ya gak nyaman aja gitu, sakit punggung, sakit pinggang, pegal linu, encok, kesemutan, banyak lah emang orangnya seneng ngeluh astaghfirullahaladzim.

Ternyata nyampe sana, saya kepagian satu jam.

Hari ini saya punya teman baru dari UI yang juga magang di perusahaan yang sama. Katanya Arsi-Interior UI sebenernya nggak diharuskan untuk magang. Tapi kok malah magang???? Kalo saya sih mendingan nggak usah???? Ea.

Terus kata mbaknya, nyari kegiatan aja mumpung libur. Produktif banget ya. Tapi kalo punya kesempatan magang sebelum terjun ke dunia kerja emang lebih enak kok pasti. Kita jadi udah pernah nyicip medan, sehingga waktu kerja nggak planga-plongo.

Anyway, setelah beberapa menit yang awkward terlewatkan, kita disuruh gabung ke ruang meeting yang di sana udah ngumpul para karyawannya. Ternyata di perusahaan tempat saya magang, tiap pagi ada sesi 'what I feel like expressing', di situ semua orang kebagian dan harus cerita apapun. Seperti cerita tentang weekend ngapain aja, atau cerita di commuter line, atau cerita tentang putus sama pacar. He. Anything you feel like expressing pokoknya. Menurut saya ini cara paling jitu untuk mendekatkan para karyawannya, soalnya masing-masing jadi tau masalah dan pengalaman orang lain.

Hari ini saya juga ketemu orang-orang yang sangat baik hati dan kul.

Hari ini juga saya langsung dikasih kerjaan, dan nggak ada yang namanya gabut-gabut. Kerjaan saya hari ini apa? Nyari referensi interior kafe di internet. Ih enak banget, Ca, gampang! Iya, enak. Soalnya kerjaan saya liat-liatin foto yang memanjakan mata. Tapi nggak gampang, lah. Orang dari pagi sampe sore nyari referensi sesuai brief nggak kelar-kelar.

Siang hari saya sempet ngantuk. Tau nggak sih ngantuk yang sambil megang mouse dan sok-sokan konsentrasi ke layar laptop tapi mata udah nundutan pisan? Iya gitu, tidak tertahankan. Di situ saya baru sadar indahnya masa-masa kuliah, dimana kita bisa tidur siang di meja kelas. Kalo tadi saya tidur siang bisa disiram aer kopi kali.

Sore-hampir maghrib, saya pulang dan caw ke halte busway. Nunggu bus lama banget satu jam, tapi masih pasang muka kalem, walaupun mungkin kalo orang lain yang liat ngiranya muka senggol bacok. I TRIED OK. Akhirnya! Setelah satu jam, muncul juga itu bus. Tapi setelah melewati beberapa halte, eee busnya mogok. Akhirnya ganti bus dengan arah yang berbeda namun tetap satu jua. Aduh ini aku udah ngacapruk pisan udah ngantuk tapi pengen nulis blog.

Nah, udah deh. Gitu. Kantornya enak, adem. Orang-orangnya juga baik. Ada temen magang juga jadi nggak sendirian. Oh iyaa, di kantornya banyak majalah interior parah! Banyak katalog material juga huhuhuhu.

By the way, postingan ini bukan postingan berkelanjutan kok, tenang aja. Mungkin saya akan cerita mengenai kehidupan magang kalau ada yang seru-seru. Selebihnya, biarkanlah menjadi kenangan. Gak deng, menjadi laporan.

Udah ah udah ngacapruk pisan ini. Semoga suatu hari nanti ketika saya sudah dozen steps ahead, saya bisa membaca pengalaman magang di hari pertama ini sambil ketawa dan bilang 'aelah baru juga segitu'.


Follow my blog with Bloglovin

Mau Kabur Aja

June 07, 2016

Akhirnya saya udah bebas dari segala macem perkuliahan semester genap tahun ini. Nggak kerasa kakak tingkat udah pada yudisium aja, dan angkatan saya udah waktunya jadi angkatan tertua versi akademik di kampus. Gila! Waktu cepet banget jalannya. Perasaan dulu masih bengkok-bengkokin kawat buat bikin Nirmana tiga dimensi, sekarang udah nyari tempat Kerja Praktik aja.

To be honest, dari tahun ke tahun kok saya makin bingung, ya, setelah lulus mau ngapain. Kemarin-kemarin saya sempet bolak-balik ke Jakarta buat survey tempat KP. Awalnya saya ngira KP di Jakarta itu biasa aja, gitu. Soalnya saya pernah KP di Jakarta juga waktu di STM. Tapi ternyata banyak temen-temen yang justru nyari tempat KP di Bandung, alasannya beragam sih, ada yang biar nggak terlalu jauh, ada juga biar semester depan nggak usah bingung cari kost di Bandung lagi. Kalo dipikir-pikir beda banget sama kondisi angkatan saya waktu di STM yang anak-anaknya justru lebih antusias untuk KP di Jakarta. Beda bidang, kali, ya. Soalnya stasiun TV swasta yang bagus kan sarangnya di Jakarta semua, sedangkan konsultan interior yang keren mah di Bandung juga banyak.

Setelah saya survey tempat KP dan transportasi di Jakarta, alamaaakk... pusing sendiri saya. Kayaknya kalo tinggal di sana orang-orang bisa gampang banget stres, deh. Kebetulan di Jakarta ada rumah saudara, jadi nggak usah ngekost. Tapi tempat KPnya di Jakarta Barat sedangkan rumahnya ada di Jakarta Timur! Masalah terbesarnya bukan jauhnya, macetnya astaga.

Walaupun Jakarta sekarang punya akses transportasi yang mudah, bus Transjakarta udah banyak, bisa pakai commuter line juga, kalo bingung tinggal pesen Gojek/Uber/Grab, tapi tetep aja mental orang-orangnya gitu-gitu aja. Bikin gemes! Masuk bus sembarangan nggak nunggu orang yang mau keluar dulu, buang sampah tinggal lempar lewat pintu angkot, trotoar dipake buat motor, macet soalnya pada pake kendaraan pribadi, pake kendaraan pribadi soalnya kendaraan umum nggak terawat dan jumlahnya nggak banyak dan fasilitasnya nggak dijaga, ya gitu deh terus kayak lingkaran setan. Saya sampe sempet hopeless dan mikir kalau ini Jakarta udah nggak bisa dibenerin lagi nih kayaknya.

Culture shock, apa ya? Haha padahal jaraknya cuma segitu masa iya culture shock. Abisnya sepanjang hidup saya bolak-balik Jakarta, saya baru menyicipi lagi stresnya berada di jalanan Jakarta. Kebayang nggak sih buat saya yang bawaan lahirnya udah otomatis kritik ini-itu, mikirin ini-itu, dan gampang bete, kalo tiap hari harus tinggal di Jakarta wuah nggak bisa hepi saya. Otaknya abis buat mikirin kenapa jaman sekarang masih aja ada yang buang sampah sembarangan. Waktu yang harusnya bisa untuk mikirin hal-hal yang lebih kreatif malah kebuang buat yang kayak ginian. Salut saya sama orang-orang Jakarta. Two thumbs up! Four deh, sama jari kaki.

Dari situ saya langsung mikir nanti kalau udah lulus mau hidup dimana. Saya harus hijrah, tapi kalau ke Jakarta sanggup nggak ya? Negatif mulu kayaknya bawaannya. Nggak tau juga sih kalau udah terbiasa. Saya mau ke London atau Berlin aja pliiiiiss, ada yang mau bayarin nggak?

To Tell or Not to Tell

May 16, 2016

There are two kinds of people I know. First, those who can tell people what he thinks easily, as if giving out opinion is a daily routine. And second, those who just can't blurt out what he thinks, even though the reason varies. It wasn't divided as simple as that, though. But for some amount of people I've met for these 21 years of my life, I think these two categories generally exist.

I've met numbers of people with strong characters. Most of them are good in giving opinions and never afraid of thinking out loud. This type of people knows what they want and what they don't, what they like and what they don't. Some of them are condescending, even though some of them are giving out opinions just because they think it's necessary.

I have friends with this type of character. It's always fun hanging out with them because they always have things to talk about. As they giving out opinion you can always get new insights and another perspective of life.

What pisses me off is when they don't know where to stop. This type of people doesn't care what people think of them. When in some cases I think this trait is a trait we all need to not to get stressed out about what we should do to make society accepts our existence, but on the other side it seems like the most important thing is what they believe and the rest of people is just a bunch of tiny matchstick that sparks for a while.

I believe not all people like this. It's just that I have that one particular friend that is, and when he starts talking about his life, his job, his opinions, his perspective about everything, I'll be just, okay, all right, my feet are suddenly seems more interesting.

On the other hand, I've also met lots of the second type of people. Most of this type of people suck at critical thinking. I knew because I'm somewhat related with this type of character. People may think I have no problem speaking out my mind (because I write blogs?), but really, I find it hard to give out the exact opinion that crossed my mind. For my case, perhaps it's because I'm an avid overthinker and I'm always too afraid to face the response I'll get from people. I care about what people think of me. I'm worried if I'm not good enough.

Therefore, as I said, the reasons are varied for each person. I often listen to their unspoken opinion to public, and sometimes it's big and exceptional.


Despite all this blabbering and such and such, I believe these two type of character has its own privilege and it's not something we can just choose and then live with it forever. Both of them exist to fill each other. Imagine a world full of people giving out opinions. Freaking loud. It's only a matter of control, isn't it?

Talking is easy, though. In real life all I can do is keeping my mouth shut.

Or whining. I'm good at it.

Tentang Kuliah

May 03, 2016

Saya lagi ada di titik dimana saya mempertanyakan semuanya. Mempertanyakan sebenernya saya lagi ngapain dan buat apa, sih. Why I can't get my shit together, kenapa semuanya keteteran, dan siapa saya sebenernya? Lah tiba-tiba filosofis tapi gimana dong...

Tugas kuliah yang banyak ini kalo dikerjain butuh waktu yang lama. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang saya ikuti. Semuanya jadi numpuk. Mau diberesin satu-satu tapi mikirinnya aja udah pusing. Ya emang bukan dipikirin sih, Ca, dikerjain.

Kalo udah keteteran gini suka pengen jadi mahasiswa kupu-kupu aja. Kayaknya enak gitu abis kuliah bisa istirahat dulu, jadi bisa ngerjain tugas dengan kondisi yang fit. Padahal nggak gitu juga, sih. Ada temen saya yang tugasnya lancar, kegiatan organisasinya lancar. Cantik lagi. Istri idaman banget pokoknya.

Saya jadi bertanya-tanya, ikut organisasi buat apa sih? Kenapa ribet banget ngurusin masalah orang? Terlepas dari serunya kenal sama orang-orang baru, tau kepribadian orang yang macem-macem, dan organisasi sebagai distraksi tugas yang kadang mengasyikkan, sebenernya apa, ya, yang saya cari dari kegiatan ini? Atau justru memang alasan-alasan tadi?

Saya sebenernya orang yang seperti apa, sih? Orang yang senang berorganisasi? Nggak, juga. Akademis? Nggak. Saya suka apa? Saya ingin mencapai apa? Saya, saya, saya.

IFEX 2016: "It is Important to Find A New Thing"

April 30, 2016

Kutipan tersebut dilontarkan oleh Mas Budi Pradono di Seminar 'Reimagining Craft and Design in Asia', Sabtu 12 Maret kemarin. Eh, kok Bahasa Indonesia, Ca? Hehe biar gampang nulisnya.

Di postingan ini saya akan melanjutkan pembahasan tentang inspirasi yang saya dapet di seminar kemarin. Basically, semua pembicara yang ada di sana hebat-hebat, terbukti dari peserta seminar yang aktif bertanya dan menjawab.

Selain Mbak Tri Anugrah, di sesi pertama juga ada Mas Budi Pradono dan Mas Golf Jakkapun (sebenernya doi bukan mas-mas tapi mister-mister karena datengnya dari Thailand). Sesi kedua dilanjut sama pembicara yang juga nggak kalah hebatnya. Ada Julian & Felix dari Out for Space, Zhu Xiaojie dari Opal Furniture, dan Alvin Tjitrowirjo dari AlvinT.

Out For Space © Design Milk

Julian dan Felix adalah mas-mas dari Jerman, masih muda dan sepertinya belum kawin. Gak deng, sotoy. Mereka cerita tentang studio mereka yang dikasih nama Out for Space, dibangun lewat pengembangan desain furnitur rotan.

Rattan is kind of a celebrity that day.

They said they love rattan, and they love Indonesia as well. Sempet ada yang nanyain tips dan trik tentang cara mengembangkan usaha rotan di Jogja, dimana daerahnya nggak banyak tanaman rotan seperti di Kalimantan, dan nggak banyak industri pengrajin rotan seperti di Cirebon. Mas Abie yang saat itu jadi moderator bilang, but Julian and Felix came all the way from Germany??? Dang.

Mister Zhu Xiaojie, yang jauh-jauh datang dari Cina, hari itu juga menyampaikan materi presentasinya. Beliau datang ditemani oleh asistennya, karena beliau agak kesulitan memakai bahasa Inggris. Kalau Julian dan Felix memaparkan hal-hal teknis kayak teknik pemasaran dan supply chain, Mister Zhu lebih ke arah filosofis. Saaangat filosofis sampai saya bingung gimana cara menyampaikannya lewat sini. Di seminar kemarin, beliau berbicara tentang bagaimana cara memahami desain orisinil. Beliau juga sangat interaktif, melibatkan peserta seminar buat ikut jawab dan bertanya. Psst, yang jawab dapet buku karya Mister Zhu gratis, lho. Nggak, saya nggak dapet.

Budi Pradono, BPA Studio

Temen-temen di arsitektur pasti udah banyak yang tau tentang Budi Pradono. Karya-karyanya banyak, tersebar dimana-mana. Di seminar kemarin, Mas Budi berbagi mengenai proyek-proyek yang sudah pernah beliau selesaikan.

Proyek pertama yang Mas Budi kasih lihat adalah proyek pameran tanah liatnya. Jadi di pameran itu ada susunan batu bata dari tanah liat yang direkatkan hanya menggunakan air. Pameran ini diselenggarakan sebagai bentuk kritik terhadap arsitektur Indonesia. Ada lagi proyek shelter di Kawah Ijen, Banyuwangi, yang didesain Mas Budi untuk para cyclist.

Karya-karya Mas Budi ini kalau dibeberkan di sini kayaknya bakal panjang banget, deh. Plus, pastinya bisa dicari langsung di google search. Ada dua karya Mas Budi yang saya sukha pake h. Not only because the result are very aesthetic, tapi justru konsep berpikir di balik dua karya tersebut.

Karya pertama yang saya suka adalah Dancing Hotel Bandung. Konsep berpikirnya sesederhana itu (iya, sih, nggak sesederhana itu juga). Jadi, biasanya sebuah bangunan kan punya basic form yang terdiri dari susunan balok-balok. Nah, Mas Budi ini kemudian berpikir, ya udah balok-baloknya digeser aja. Jadi deh. Wow wow wow takjub sayah.

Dari ide yang sederhana tapi brilian ini, Mas Budi juga punya pengetahuan yang mumpuni to make it happen. Kebayang nggak sih, susahnya bikin konstruksi bangunan yang miring-miring gitu di Indonesia? (((Di Indonesia)))

Karya kedua yang sudah terkenal secara worldwide ini adalah Rumah Miring atau Slanted House yang ada di Pondok Indah. There's a story behind that building. Tau lah, ya, orang-orang yang punya rumah di Pondok Indah kalau mau bikin rumah 743297 tingkat juga tinggal bikin. Banyak juga di sana rumah-rumah mirip istana yang pilarnya tinggi dan besar seperti kastil di Eropa. Tapi Mas Budi unik, beliau berusaha mengedukasi klien lewat proyek rumah di Pondok Indah ini; orang kaya nggak perlu nunjukin kalau dirinya kaya lewat bangunan berpilar seperti istana itu. Kurang lebih gitu yang saya tangkep ya, saya agak lupa karena udah lama juga. Lalu muncul lah ide Rumah Miring. And then, boom. It's everywhere.

© Fernando Gomulya

Mas Budi adalah seorang arsitek yang selalu menyelipkan permasalahan sehari-hari ke dalam desainnya. Salah satu contohnya adalah sebuah kamar mandi yang didesain luas karena Mas Budi berpikir bahwa dewasa ini (tsah) orang-orang banyak menghabiskan waktunya di kamar mandi. Kamar mandinya juga kering, kenapa? Karena dewasa ini (tsah) orang-orang kalau ke kamar mandi suka bawa-bawa smartphone. Ya masa chattingan sambil gayungan.

Kalau saya bilang Mas Budi adalah arsitek yang out of the box, ini sama sekali nggak cliche, karena memang out of the box. Bukan out of the box KW. Seperti kata-kata Mas Budi yang dipakai di judul di atas; "Basically, it is important to find a new thing."

Alvin Tjitrowirjo, Alvin-T Studio

Mas Alvin adalah desainer Indonesia lulusan RMIT University, Australia. Di sesi seminar kemarin Mas Alvin lebih menekankan pada Indonesian mentality which lacks of confident and pride.

There are challenges in Indonesia. First, we have low appreciation in our own design. Some of us are international brand minded, therefore we lack in confidence in local products. This makes majority becomes followers. And, there is yet a protection from plagiarism.

Second, price competition. There is always case like this; price is priority, brand is secondary. There is also many fake furniture designers.

Lalu Mas Alvin berusaha untuk overcome those challenges, sampai akhirnya sekarang Mas Alvin punya brand sendiri bernama Alvin-T.



Soooo, that's quite it. Sebenernya masih banyak banget ilmu yang saya dapet kemarin. Cumaaa, lihat! Sekarang tanggal 30 April, which is like a month has passed. What I have now is my notebook with limited notes, plus it's quite hard to recall the event huhu so sorry.

Maybe that's all. I hope these two posts about IFEX can at least enlighten you! <3

IFEX 2016: Design, Beyond the Artifact

March 15, 2016

The word 'design' and its role in Indonesia today is like a part of an iceberg, floating on the water surface. Some know where to go, some just don't.

Guys, do you know design is kind of a big deal for Indonesia today? Design is always a big deal, but I mean it's going to be taken very seriously for years ahead; because government are now very into it. Remember that time when Jokowi made a statement about creative industry should be a backbone of Indonesian economic? Yeah, a little bit late but hey that's an improvement, don't you think?
img source: setkab

Last Saturday I attended a seminar held by IFEX 2016, titled 'Reimagining Craft and Design in Asia'. There was a man from Bekraf, giving us facts about situation of creative industry in Indonesia. Here are some of them;

1. The growth of Indonesian craft & design economic sector is slow, but it has the highest growth than any other sector in Indonesia
2. Creative industry sector is the second biggest contributor in Indonesian economic
3. Contribution of creative economy to the world is 230% bigger than oil exports (srsly guys stop the war)

Yeah, wow.

Anyway that's just a brief intro in the purpose of waking people up, making sure of it's not just me who thinks that this industry is no joke. (I'm scared though now)

Tri Anugrah, BDA Design

Miss Tri, or Miss Anu, was the first speaker in the first session of the seminar. Her background is graphic design and now she engaged in the world of design trend forecasting.

Sure, she talked about design forecasting in Indonesia in her speech last Saturday. While on 2016/2017 the trend is called 'Resistance', on 2017/2018 the trend goes to 'Grey Zone'. There are four main themes, Archean (the mix of nature & artificial), Cryptic (material experiment), Digitarian (when age doesn't matter), and Vigilant (the mix of manual and digital luxury).
Trend Forecasting 2016/2017

img source: BDA Design

But it wasn't the point.

She talked about how Indonesian, generally Asian, has slow design. In this case, slow design means that we all Asians see and respect the beautiful of design in the making process. Batik, for example. You tint it manually. It goes through a long, delicate journey. There's a story behind the process.

In the topic of local research which includes ideas, artifact, and activity in it, Miss Anu talked about how the situation is now and how the way we Asian think.

For example, in the airport or souvenir area, can you guys spot a mass produce, manually made, wayang key chain? How can we sell a delicate product with a relatively cheap price? Don't you guys think it indirectly degrades the artifact itself?


She also talked about how we often focus only to the artifact and set aside the other aspects. When we know that our traditional design is something like an identity of our country, and when we look back to traditional design, the important thing is we have to look beyond the artifact and see the story behind it. Because basically, artifact is just an object.

The point i got is, you know, trend is one of many aspects that guides you to design. She said trend was made not to be followed. The main focus is not to create the artifact, because the whole point and what made it expensive is the rich story behind it.

Her speech followed by five others speakers. Last Saturday was a big punch on my face, to be honest. I'd like to punch you too, that's why I wrote this. If this post doesn't make a good enough punch, don't worry, I'll be back with another!

So, I hope this post pops a thought inside your brain. And, umm, stay tuned, I guess?

Next speaker: Budi Pradono & Golf Jakkapun

See ya!

Keliling di IFEX 2016

March 13, 2016

Halo, gais! Sabtu kemarin (12/03) saya berkesempatan buat menghadiri salah satu acara pameran furnitur internasional, lho. Hah, furnitur? Internasional??? Iya, furnitur yang sering kalian lupain di rumah atau kamar kost itu juga punya peran besar di hidup manusia, makanya dia punya pameran khusus dan nggak jarang acaranya berskala besar.

Acara yang setiap tahunnya diadain ini namanya IFEX, stands for Indonesia International Furniture Expo. Acara ini berlangsung tiga hari di JIExpo Kemayoran. Karena skalanya besar, tempatnya juga besar. Ini tahun ke dua saya berkunjung ke sini. Tapiiii, kalau tahun kemarin saya cuma datang buat keliling-keliling, tahun ini saya datang untuk ikut seminarnya.

Seminar yang diadakan IFEX tahun ini berjudul 'Reimagining Craft and Design in Asia', diisi sama pembicara-pembicara yang warbyasah. FYI, biaya ikut seminar ini sebesar Rp400,000 untuk umum, dan Rp175,000 untuk students. Tapi saya gratis karena dibayarin kampus. Hehe.

TAPI gara-gara gratis dan diperuntukan untuk beberapa orang aja, saya jadi punya beban moral buat menyebarluaskan ilmu yang udah saya dapet. Wkwk, nggak deng. Pokoknya tunggu aja ya, nanti insyaa Allah saya bakal berbagi di lain post.

Anyway, setelah seminar yang berlangsung dari pagi sampai sore, saya sama temen-temen lain nyempetin buat keliling-keliling pamerannya. Pamerannya gede banget, serius. Satu komplek JIExpo diisi semua sama stand. Stand-stand ini terdiri dari perusahaan-perusahaan furnitur dan kerajinan dari berbagai daerah. Terus karena udah sore, jadi beberapa stand udah pada tutup ha h a  h   a.
Pameran ini lebih ditujukan buat para buyer, sih, baik lokal maupun internasional, baik ibu rumah tangga maupun pengusaha kaya raya (yeaa sengaja biar kayak sajak). Tapi nggak menutup kemungkinan juga buat mahasiswa dateng ke sini. Kalo buat saya sama temen-temen sih lumayan buat nyari referensi tugas mebel, atau mungkin ada juga yang nanya-nanya kesempatan kerja praktek, karena emang furnitur yang dipamerkan juga macem-macem dan nggak bakalan habis dikelilingi dalam satu hari. Apalagi dua jam. Dua jam aja udah pegel banget.
All in all, karena saya nggak lama berkeliling jadi saya nggak tau perbedaan pamerannya sama tahun lalu. Yang pasti banyak perusahaan yang ikut buka stand lagi di tahun ini. Ada juga mas-mas marketing salah satu stand perusahaan yang saya masih inget tahun kemarin sempet ngobrol bareng, dan ternyata masnya juga inget saya. Sementara itu, seminarnya seruu! Penasaran, nggak? Tunggu tanggal mainnya ya!

About Losing

February 12, 2016

Saya masih ingat, saya pernah ikut lomba mewarnai waktu SD. Tempatnya agak jauh, jadi bapak yang nganter. Pulang-pulang, pas banget ketika ibu buka pintu rumah, saya nggak bisa nahan nangis sambil bilang kalo saya kalah lomba. Padahal saya yakin sih, peserta yang lain baik-baik aja dan nggak nangis ketika pulang ke rumah. Because we all each carried a goodie bag full of snacks.

Saya juga pernah kesel berhari-hari karena ranking saya turun satu peringkat waktu di sekolah tingkat atas. Padahal cuma turun satu tingkat, dan saya dapet ranking dua (I hope we all know that I am not bragging right now).

Saya nggak pernah mau ikut kuis. Kalo ditanya kenapa, biasanya saya bilang 'nggak mau ikut kalo nggak menang'.

I am all about ambitious, perfectionist. I'm not a risk taker. I always want things happen as I had planned. I would never ready to lose, I just couldn't handle the feels. In fact I never want to lose, and I always set a high expectation of myself. It's not like I need to beat everyone, not like that at all. It's always about me, it's just like the feelings of getting everything right, and proving to myself that 'I can do better than this'.

But do I really want to take things easy? Of course. Semakin dewasa saya juga sadar dan mengerti bahwa winning isn't everything. It is nice to see your friends could be so chill losing a match. Tapi--saya yakin banyak orang yang sama seperti saya--no matter how hard you tried to be cool about losing, you just couldn't fool yourself, you know. Kayaknya bawaan orok deh ini?

Tapi tadi malem, saya belajar satu hal baru dari diri saya. Saya bisa dengan bangga bilang kalau saya nggak nangis depan pintu rumah seperti belasan tahun yang lalu! Waw! Serius, saya sebangga itu. Saya nggak merasa ada yang salah dengan kekalahan saya kemarin. Padahal nih, buat orang yang tau saya waktu dulu orangnya kayak apa, I am sure he would never imagine I can amazingly cope up with this. Skala 'kompetisi'nya pun cukup besar to make it OK for the old me crying myself to sleep (I was losing an election).

Things get better on me, I guess. To chill out and watch some Sherlock serials without any worry (not a denial, I've made sure of that) is not a deterioration. It's an improvement. OK, I feel a bit of shame regarding the society (I have a quite high pride, I'm sorry). Just a tiny bit. But it's still an improvement, don't you think? Regardless of how relieved I am because all of this are over now and I don't need to take care of a huge responsibility at all for a future time (fyuh!).

I think it's always about experience, after all.

In the mean time, I really support the winner, the next president of our organization. To think of it again, I think he suits the position more than I do. Perhaps that's the reason why I don't feel upset at all.

OK then. Sorry I was just talking about myself again, but I couldn't help because I really see a big change in me & I wanted to keep it in my track.

Good luck, peeps! This is a pair of cute butts to make you happy.


Findings: Embroidery Artists

January 14, 2016

Have you ever heard of hand-embroidery? Beberapa waktu yang lalu ketika saya lagi buka-buka feeds di instagram, saya nemu hasil embroidery yang apik banget. Biasanya kalo denger kata 'embroidery' yang muncul di kepala adalah kerjaan nini-nini buat sarung bantal atau taplak meja, gambarnya bunga-bunga vintage atau pedesaan. Kalo yang ini beda, karena gambar yang dirajut lebih kerasa modern-vibes-nya, dan makin pengen nyobain gimana sih serunya hand-embroidery itu.

Karya-karya pertama yang saya temukan dan suka banget adalah karyanya Sarah Benning, dan seperti yang ada di bio instagramnya, karya-karyanya cenderung punya nuansa kontemporer. These are her works,



A photo posted by Sarah Benning (@sarahkbenning) on

And through her instagram I found many more embroidery artist and I want to share them with you here! (So excited)

1. @cinderandhoney - flowery, feminine, bright colors




2. @emillieferris - realist, detailed, animals (sick!!!)


3. @adipocere - line art, black-white, dark


4. @happycactusdesigns - bright colors, patterns

A photo posted by Brannon / Happy Cactus Designs (@happycactusdesigns) on

5. @sewandsaunders - light, minimalist


A photo posted by Sew & Saunders (@sewandsaunders) on

6. @stitchyouup - horror, humour, nostalgia (that's the description on her instagram page ok)



7. @baobaphandmade - (you decide the category)


Bisa kita lihat, embroidery art sebenarnya bisa berupa apapun, nggak terbatas dalam satu tema aja. I actually found many more instagram account that published embroidery artworks but it will take a long post to share them here. But you can always search through suggested accounts button from one of seven account I already shared them with you.

I hope you're inspired as much as I am. Because f i n a l l y, I made one too ;)


Theme by: Pish and Posh Designs