Opera Kecoa Ketiga

November 19, 2016

Minggu kemarin saya en de gengs cabs ke jaks (saya dan teman-teman saya, yang baik hati dan hobi bully, pergi ke Jakarta) tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kabur dari kejaran tugas akhir. Iya, liburan sebentar gitu maksudnya. Tujuan utamanya sebenernya bukan buat cabut kok, tapiii buat nonton teater!

Beberapa bulan yang lalu, tiga dari kami nonton teater dari Teater Koma. Udah tau Teater Koma belum? Harus tau! Teater Koma adalah kelompok seni teater yang sudah ada sejak 1977. Karena udah cukup tua, pengalamannya juga banyak dan punya reputasi yang cukup bagus di dunia perteateran Indonesia. Nah, beberapa bulan lalu teman-teman saya nonton pertunjukan Semar Gugat.

Lalu, minggu kemarin Teater Koma menggelar pertunjukan lagi yang ke-146 berjudul Opera Kecoa. Kali ini kami berlima memutuskan buat nonton dengan formasi lengkap. Soalnya di posternya ada tulisan 17+. Hahaha nggak deng. Kami super excited dan sangat menunggu momen nonton teater ini. Motifnya bisa karena nggak sabar nunggu pertunjukannya atau nggak sabar untuk melarikan diri dari tugas-tugas. Bebas lah udah.

Karena harga tiketnya lumayan, jadi kami beli tiket dengan jurus andalan; kartu mahasiswa. Lumayan lho potongan harganya. Jarak dari panggungnya juga lumayan... jauh.

Jauh banget woi


A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

A photo posted by Teater Koma (@teaterkoma) on

Opera Kecoa bercerita tentang kehidupan masyarakat kecil yang lengkap dengan kenyataan keras yang harus mereka hadapi. Di sini kita bisa lihat kelompok-kelompok seperti PSK, waria, sampai bandit-bandit kelas teri.

Hal yang memikat saya, dan mungkin sebagian besar penonton, dari pertunjukan ini adalah tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, khususnya Julini, seorang waria. Gemass!

Walaupun duduk di bagian paling belakang, segala hal yang terjadi di panggung terlihat cukup jelas, kok. Teknik-teknik dan kualitas peran dari Teater Koma mah nggak usah ditanya deh. Selain dari pemainnya, elemen pendukungnya juga bekerja dengan rapi. Sangat profesional.

Dan ternyata, ini adalah pertunjukan ketiga Teater Koma dengan judul yang sama. Dua pertunjukan Opera Kecoa yang sebelumnya dilangsungkan pada tahun 1985 dan 2003. Plus, Opera Kecoa adalah bagian dari trilogi tentang Julini.

Tiga poster Opera Kecoa (2003 dan 2016)

Julini FTW
Kami berlima sempat berdiskusi tentang tema yang diangkat di pertunjukan kemarin. Ternyata,setelah tiga kali pertunjukan Opera Kecoa pada tahun-tahun yang range waktunya cukup jauh, topik mengenai masyarakat kecil masih relevan hingga sekarang. Persoalan tentang penggusuran rumah, tempat lokalisasi, wewenang pejabat, dan lain-lain belum banyak berubah hingga sekarang.

All in all, di samping beberapa penonton yang datengnya telat sehingga agak mengganggu, saya menikmati pertunjukannya. Will definitely watch another show! Sepertinya kemarin juga merupakan pengalaman pertama saya menonton pertunjukan teater profesional, jadi saya harus tambah pengalaman lagi ini. Terlebih lagi nontonnya bareng temen-temen, jadi bisa ketawa bareng-bareng. Bisa juga ngetawain satu sama lain. Bisa juga ngetawain Dea soalnya dia sok polos, kayaknya dia belum 17+ deh.

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs