Things, Scattered

July 04, 2017

1. HAPPY EID.

I spent my eid week mostly with my family, went out for meals, outdoor picnics, and malls. Mostly malls, because it's Jakarta. Yet after almost a week I spent here I didn't think of any place, padahal bisa mengunjungi art galleries or museums. But I'm not sure if they're open, though. Anyway, spending time with family is priceless. My most favorite place of all is Gunung Pancar located in Sentul. THERE ARE LOTS AND LOTS OF PINES uh my favorite. Pine forest kind of remind me of fantasy books. Loving its calming vibes. Padahal di Sentul itu nggak calming-calming banget sih haha panaasss. But it's okay.



2. Being selfish while understanding others

THAT'S JUST one impossible task to comprehend. I used to see it as one paradoxical state of mind, because come on, you cannot possibly being selfish yet still manage to understand people. I think maybe it's because when I am with somebody I love I tend to place myself after them, and after I learned about myself it always naturally happens that way. By doing this I kind of overlook their traits, I thought I knew them but I actually don't. I mean, I think you wouldn't fully understand them when you haven't understand yourself first.

Also I was kind of researching about MBTI character types while ago, to finally found myself astonished at how people could be so, so different. And so I made peace with myself, this kind of a spiritual journey for me lol, but really. Forgiving yourself is never easy. Forgiving self leads to accepting self. Accepting self leads to understanding self. Understanding self leads to understanding others. And that, mate, leads to forgiving others. Really, guys. I'm still in the process of all that, but to make peace with yourself and make peace with whatever emotions people gave you, is such a huge step forward.

And that's what I mean by being selfish. To understand, to accept yourself first before others. And while doing that you will find yourself accepting others, and for me it kind of set clear boundaries, I guess?

I thought of writing a single post about this but naaaaaah so many things going on inside my brain I need to pour them all first.

3. Friends are getting engaged

Yeah, that. If you ask me about when I will reach that stage, I could really write a single post about it because I don't have any straight answer (actually I have. It's: IDK). To be honest, can't see me having that in the near future (but only God knows amirite). Anyway, we won't talk about that.

I want to talk about the feelings those moments gave me. Seeing friends getting engaged here and there makes me realized that in the end the right one will come to you in the right time. Whether you wait for him or not. And we will, I repeat, we will, finally come across someone who has the same lame jokes like us, who understands us, who sees us as we are. And that thought soothes me. These chasing games were so tiring, weren't they? I think we should stop (I'm still trying, pls don't judge me), and you know, just live life to the fullest. So when we meet him we can be a whole piece of bubbly human being, not trying to complete each other, but to both agree to live a life as a partner together. TSAH teorinya mah gitu sih.

Happy for them. I'd love to shop some pairs of baju kondangan.

4. Graduation is coming

I'm so excited yet scared.

-

That's all for now. It's very scattered here inside my brain. Wishing you a wonderful days ahead.

Yours truly.

CTA #2: Yudisium

June 03, 2017










Tahun lalu liat 2012 pada yudisium, ngerasa masih lama bakal sampai ke tahap itu. Terus beberapa minggu yang lalu ternyata saya sampai di titik itu. Mual rasanya haha. Selain mual karena nilai apa yang bakal didapet, mual juga disebabkan karena mikir siapa aja ya yang bakal dateng hari ini untuk aku? Wakakak. Kenapa sih, Ca. Padahal mah biasa aja ya, harusnya. Tapi seneng aja gitu liat temen-temen dateng bawain bunga, milo, balon. Duh, nggak dikasih apa-apa juga seneng, deh, asal dateng.

Foto-foto di atas adalah masa-masa yudisiumku dan yudisium teman-teman jurusan tetangga. Kondisi yudisium tuh overwhelming ternyata. Overwhelming terharunya, bahagianya, dan pusingnya haha karena banyak banget orang haduh! Nggak sempet banyak foto-foto soalnya ribet. Tapi seneng liat orang-orang mukanya kayak abis... abis apa ya... abis nunggu keputusan hasil TA sih, nggak ada perumpamaan lain. Gitu pokoknya mukanya.

Belum sempet bilang makasih sama temen-temen yang dateng, jadi di sini aja ya walaupun nggak banyak yang baca.

Makasih buat temen-temen yang udah menyempatkan hadir, maaf nggak diucapin satu-satu karena takut kelewat dan pasti kelewat. Makasih buat orang-orang yang selalu ada dalam setiap proses per-TA-an ini. Tanpa mereka semua, aku cuma seonggok daging yang mojok di atas kasur tiap hari.

Alhamdulillah, alhamdulillah. Bersyukur dan deg-degan karena nggak yakin abis ini mau ngapain, but oh well. Life goes on.

Defending A Cause or A Mere Internet Persona?

April 25, 2017


Sejujurnya saya udah dua kali bikin draft mengenai pandangan saya tentang perempuan dan perannya untuk pendidikan dan nikah muda. Ya, di antara banyak opini-opini yang bisa kita temukan dengan gampang di Line, saya masih gatel buat ngomongin itu di sini.

Sebenernya postingan ini nggak berkaitan dengan topik itu, karena justru lebih luas lagi.

Begini, sekarang gampang banget buat mengemukakan pendapat perihal apapun di internet, orang-orang juga gampang bacanya. Sejujurnya saya seneng sama fenomena tiba-tiba-banyak-self-made-article-di-Line karena seringkali lewat situ bisa membuka wawasan juga tentang perspektif orang di luar media-media mainstream yang sebenernya nggak kalah gampang buat diakses juga sih. Atau mungkin saya beruntung aja karena berada dalam circle dan lingkungan yang memudahkan akses akan pemikiran-pemikiran kritis orang-orang hebat. Ya, pokoknya saya bersyukur karena bisa berada di lingkungan yang mendorong saya untuk lebih terbuka lagi pikirannya.

Tapi, tapi, sebagaimana ujian dalam aspek kehidupan kita semua (sedhap), artikel yang memuat pemikiran kontroversial ini biasanya jumlah likes, comments, dan sharenya banyak (biasanya yha, kalo di Line kan begitu ya, How to gain an Internet Fame via Line 101). Dan sadar nggak teman-teman, kalau ini adalah juga berupa ujian terhadap ke-humble-an dan niat awal kita?

If you defending a cause, good! It's one of the good method to raise awareness, I must say. Line atau Instagram Story, yang sering kita anggap perannya 'yaudala ya cuma buat share doang' itu sebenernya powerful, lho, menurut saya. Target marketnya jelas, platformnya nggak seserius itu sehingga nggak bikin orang males buat baca. Powerful lah menurut saya mah. Saya juga suka sama orang-orang yang defending a cause, meskipun misalnya bertentangan sama pendapat saya, tapi saya selalu dapet perspektif baru dari situ.

Terus apa hubungannya sama humble dan ujian dari likes bejibun?

Saya sih selama ini mikirnya kalau orang bisa berpendapat sebijak itu sehingga dia bisa defending a cause, berarti dia juga punya kapabilitas untuk memilih dan mencerna konten yang baik atau kredibel, berarti dia open-minded dan siap untuk menerima feedback apapun dari konten yang dia bagi itu. Istilahnya tanggung jawab lah gitu sama kontennya. Misalnya ketika kamu defending a cause on animal abuse, konten yang kamu share juga harus kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan dong? Apa ini berarti kita nggak boleh salah? Padahal kan kita manusia, bisa banget salah kapanpun, mau segimanapun kita mengolah dan mencerna data dari luar.

Nah, itu dia maksud saya kenapa dalam berbagi pendapat dalam bentuk apapun, kita harus membarenginya dengan sikap humble. Sadar, kalau kita nggak selamanya benar, kita bisa aja salah, dan ilmu kita terbatas. Hal ini yang kemudian ngebawa kita pada sikap kita dalam menyikapi feedback dari orang-orang. Apa yang bakal kamu lakukan kalo ternyata ada orang lain yang menyodorkan ke kamu data-data yang lebih kredibel dan bertolakbelakang dengan konten yang kamu bagi? Marah? Bete? Ngehapus komen orangnya? Atau, bersikap humble, menerima perbedaan pendapat, dan mengakui kalau kita salah? Mana yang lebih bertanggungjawab?

Terus kenapa saya jadi bawa-bawa fenomena artikel self-made di Line? Karena likes, comments, shares, itu tuh ujian dan godaan buat orang-orang yang pengen kontennya dibaca. Dan sikap orang yang membagi konten dalam menyikapi likes, comments, shares dari orang lain itu tuh bisa nunjukin mana orang yang emang bener-bener pengen defending a cause to raise awareness, dan mana yang cuma pengen artikelnya dishare banyak orang so it can build her/his internet persona. Banyak, banyak banget orang yang ngakunya feminis, open-minded, tapi sekalinya ada komen yang perspektifnya bertentangan sama dia, nggak bisa nerima.

Ya, ini juga pendapat pribadi, dan bisa banget banyak salahnya. Cuma saya dan Tuhan yang tau niat saya bener apa enggak. Tapi saya nggak se-lepas-tanggung-jawab itu buat menghapus komentar feedback orang lain yang misalnya bertentangan atau lebih makes sense dari saya.

Saya mau berbagi, tapi saya juga mau belajar.

Cerita Tingkat Akhir #1: Teman-teman yang Hilang

March 13, 2017

Akhir-akhir ini saya mulai aktif lagi di twitter. Menurut saya instagram sekarang bikin sesak, terlalu adiktif, karena setiap detik akan selalu ada update-an baru dari teman-teman. Plus, di instagram nggak bisa secerewet di twitter. I miss knowing people from their thoughts.

ANYWAY! Not gonna talk about social media (again). Jadi ternyata ada beberapa temen-temen kampus yang juga mulai migrasi ke twitter lagi. Ketika kita mention satu sama lain, jadi berasa kayak reuni! Gila ya, udah berapa lama saya nggak ketemu anak-anak DKV? Atau anak-anak DP? Kalo dulu di gedung lama biasanya ketemu terus karena terpaksa harus pakai tangga, sekarang yailah mampir satu lantai aja males gara-gara udah ada lift.

Jangankan temen yang beda prodi deh, temen-temen satu prodi juga pada ngilang! Kompak banget ngilangnya. Tiap datang ke kelas, isinya cuma seorang dua orang. Penuhnya cuma hari Kamis aja karena memang ada kelas Tugas Akhir. Prodi lain nggak tau deh, tapi DI gitu sih. Anak DP kalo saya liat rame-rame aja. Tapi nggak serame semester-semester kemarin, kaan?

Abis jajan di Bengkok, diajakin foto. (src: Radit)


Cupaaaw! Pameran Koma Tiga Titik TPB FSRD 2013 (src: Reza)

Cirebawns Squaddd
Tibs! (src: Merah)
Ternggakjelas.
Maaf fotonya random.

Ternyata satu hal yang paling berarti dari kehidupan perkuliahan adalah temen-temennya.

Saya rindu dimarahin asdos gara-gara anak-anak waktu TPB kerjaannya tidur di kelas karena malamnya habis ngurusin wisudaan, dan betapa beratnya segumpal tanah liat diangkut ke lantai 3 pake tangga. Belum lagi gipsumnya. Tapi jadi lucu kalo ngangkutnya sambil ngetawain temen. Saya rindu nyempetin turun tangga bareng temen-temen, pergi ke Bang Ed beli kopi, biar pas pelajaran Pak Pri nggak ketiduran.

Kemana, ya, orang-orang ini sekarang? Ketika baru menyadari sepinya hari-hari di kampus tanpa ngejailin mereka, atau rebutan penggaris, atau jajan gehu bareng; ternyata kita sudah terlalu sibuk sendiri. Ngurusin TA, padahal itu TA dilirik juga enggak.

Eksistensi kita di kampus tinggal menghitung bulan. Di balik keinginan untuk cepat lulus, sedih juga mikirin waktu kita bareng-bareng yang cuma tinggal seuprit itu.

Bae-bae ya, kalian semua.

Kurindu.

-

Mood Uplifting

March 11, 2017



TERNYATA! Olahraga itu menyenangkan ya, guys. Selama ini saya nggak mau olahraga, kecuali berenang, karena nggak mau capek. Rasa capek dari olahraga itu nyebelin buat saya. Padahal sepertinya citra olahraga yang nempel di otak saya cuma lari, makanya nyebelin.

Beberapa minggu terakhir saya dan teman-teman mulai merealisasikan niat olahraga. Kami ikut kelas-kelas di salah satu fitness center di Cihampelas, dan sampai saat ini saya baru coba Zumba dan Salsation. Seru banget, ya, ternyata! Pakai metode itu tau-tau udah mandi keringet aja tanpa sadar, nggak senyebelin lari. Duh, kenapa nggak dari dulu-dulu sih? Haha.

Lala sempet nyeletuk, "Kakak ngapain sih ikut-ikut gituan, nanti abis atuh badannya?" Yha. Badan saya emang kurusss, dan susah naiknya. Kalau sehari naik sekilo, besoknya turun lagi sekilo, jadi ya gitu terjebak di sebuah angka. Tapi siapa tau dari olahraga ini nafsu makan saya nambah! Atau nggak usah muluk-muluk deh, yang penting sehat, segar, dan nggak loyo.

Satu hal lagi yang saya notice setelah ikut beberapa kali kelas, it is true that sport is a mood uplifter! Cocok sih, buat yang lagi sedih-sedih, depresi-depresi TA. Mungkin exercise ini sebenernya jadi upaya saya untuk denial dari Tugas Akhir, wkwk, but well, either way it uplifts my mood so nothing to lose. Good choice, girls, you might want to try! (This method might mend a broken heart.)

Oh ya, buat ciwi-ciwi yang males kalo olahraga nggak bebas dari mata mata yang bikin risih, coba cari fitness center yang khusus perempuan. Kan banyak tuh sekarang. Saya sendiri ikut kelas di fitness center khusus muslimah di daerah Cihampelas. Enak tuh, bebas. Yang cowok-cowok juga, hati-hati kalo fitness yak, konsentrasi ke barbel aja gak usah lirik-lirik.

Good luck!

Wow, never thought I'd write about exercising.

Tentang Hijrah

March 08, 2017

Hari ini saya senang karena betapa Allah ngasih saya rezeki berupa teman-teman yang baik! Di waktu yang sama ketika saya lagi membiasakan diri untuk memakai pakaian yang sesuai perintah-Nya, perlahan-lahan sahabat dekat saya juga ternyata punya struggle yang sama. Saya jadi nggak pernah ngerasa sendiri untuk berhijrah.

Temen-temen yang biasa lihat saya setiap hari mungkin menyadari ada yang berubah dari saya. Yang paling mencolok mah pasti penampilan. Banyak yang nyeletuk, eh nggak banyak sih da bukan artis, "Lah, Ca, pake rok?" "Wih pake kaus kaki." "Caca mulai pake kerudung yang panjang-panjang gitu ya?"

Pernah dibilang kayak orang hamil juga waktu pake dress, tp gpp. Wkwk.

Sebenernya kalau dari penampilan mah pada komen tiga hal itu doang sih, soalnya emang itu yang kelihatan perubahannya. Dulu saya malesssss banget pake rok. Ribet. Saya orangnya suka loncat-loncat gak jelas gitu soalnya. Dulu saya juga pantang pakai kaus kaki kecuali pada keadaan-keadaan tertentu seperti menghindari lecet dari sepatu baru. Soalnya nggak biasa. Aneh. Gak keren. Hahaha. Saya juga dulu kerudungnya yang model lempar ke belakang itu, biar keren. Serius alasannya itu. Biar nggak kayak ukhti-ukhti. Astaghfirullahaladzim padahal mah sama aja, nyampe keren level 1 juga nggak.

-


Pengalaman hijrah tiap orang pasti beda-beda, tapi saya nggak mau bahas itu sekarang. Karena kalau saya cerita malah jadi curhat. Meskipun diri saya yang sekarang masih jauh sekali dari kata baik, jauh sekali dari citra seorang muslimah, tapi saya sedang mencoba berjalan sedikit-sedikit, soalnya saya yakin Allah Maha Pengampun dan mau menerima perubahan saya.

Meskipun perubahan saya cuma seupil, saya yakin sebuah perubahan perlu dibagi sama orang-orang. Bukan dengan tujuan berbangga diri, ya, tapi begitu besarnya pengaruh sebuah keputusan hijrah pada orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.

Beberapa minggu setelah memutuskan untuk nggak melempar ujung kerudung ke belakang, saya ngerasa saya kok kayak riya banget gini ya, sok alim, posting-posting ayat atau ceramah pendek. Sungguh, terlepas dari niat sebenarnya, saya takut saya riya. Padahal saya cuma pengen temen-temen terdekat saya ngerasain nikmat yang sama ketika kamu menyadari ternyata Allah selama ini nggak kemana-mana, dan selalu nungguin kita kembali pada-Nya meski berapapun dosa yang kita lakukan. Saya cuma pengen temen-temen nggak dapet musibah dulu baru kemudian menyadari sinyal-sinyal hidayah Allah. Padahal sebenernya hidayah Allah bisa didapat cuma dengan satu klik dari ujung jempol tangan.

Tapi hari ini saya yakin, seberapa besarpun ragu-ragu yang kita rasain, keputusan hijrah dan prosesnya memang penting untuk dibagikan.

Hal itu diperkuat oleh kisah Umar bin Khattab (ra) ketika beliau baru masuk islam. Tau kan ya. Gitu la pokoknya panjang dan seru. Dan! Dan dan dan dan dan... sadar nggak sih ternyata, mungkin, akan ada orang-orang di sekitar kamu yang terinspirasi dan encouraged dari proses kamu berhijrah itu?

-

Saya seneng bukan main waktu di-chat sama seseorang yang kemudian cerita kalau dia juga pengen hijrah. Terus akhirnya dia mulai beli-beli kaus kaki. Dan besoknya saya di-chat lagi "Hari ini aku pake kaus kaki looohhh!!!"

Itu. Dia bilang salah satunya karena di-trigger sama postingan instagram saya yang foto kaki pake sepatu dan kaus kaki bintik-bintik emesh itu.

Ngerti gak? Ngerti kan betapa besar dampak yang kamu kasih cuma gara-gara berbagi proses hijrah???!! (Histeris) Duh saya seneng banget lah, belah dada saya kalo nggak percaya. Itu baru prosesnya, lho. Gimana kalau yang dibagi tuh kontennya lebih mantap lagi, kayak ilmu-ilmu agama, hadits Nabi (saw), bahkan ayat-ayat Al-Quran.

Kemudian saya juga jadi inget, perubahan saya ini datengnya dari mana lagi kalau bukan hidayah yang Allah titipin lewat proses hijrah temen-temen yang ada di sekitar saya? Dan sekarang banyak temen-temen yang suka ngingetin lewat postingan ayat, atau potongan ceramah, langsung ke saya. Beruntungnya saya ada di lingkungan ini.

Dari situ seharusnya kita sadar, setiap hal yang kita lakukan itu nggak terlepas dari pandangan dan isi hati orang lain. Selama apa yang kita sampaikan benar (Al-Quran udah teruji kebenarannya bahkan, dijamin sama Allah), dan dengan niat yang baik pula, nggak usah takut dibilang sok alim lah. Da emang kewajiban kita beribadah mah. Dari situ juga seharusnya kita sadar, karena apa yang kita lakukan akan selalu punya dampak untuk orang lain, maka kita harus mikir dua kali dulu kalau mau melakukan sesuatu. Bermanfaat gak ya ini? Outcome-nya apa, nih? Walaupun saya juga masih perlu diingatkan.

-

Pada akhirnya, ini juga jadi pelajaran buat saya untuk lebih memperbaiki diri. Kita nggak tau aja, mungkin di luar sana, atau salah satu follower instagram kita, ternyata terinspirasi dari kita. Dan inget nggak apa kata rasulullah (saw)?

“Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

MasyaaAllah.

Semoga semua urusanmu dilancarkan, ya, teman-temins!

Setahun di Kongres KM ITB

March 05, 2017



Seringkali kita baru merasa 'belong' sedetik sebelum melepaskan. Hal ini juga yang saya rasakan ketika menghadiri agenda terakhir, agenda penutupan Kongres KM ITB 2016/2017. Hari itu saya merasakan betapa bersyukurnya saya selama setahun ke belakang mempunyai wadah yang isinya teman-teman yang mendukung penuh satu sama lain, wadah untuk sekadar memikirkan persoalan mengenai kampus dan Indonesia. Udah enak banget kan, udah dapet wadahnya, tinggal berkecimpung aja di situ. Jadi nyesel aja sekarang, banyak bolos agendanya.

Tapi dari setahun ke belakang itu saya banyak dapet pelajaran, tentang teman-teman, sistematika, manajemen waktu, negara. Tentang teman-teman dan pemikirannya, sih, mostly. Biarpun sering kejadian pergesekan pola pikir karena saya dan Jipa dan Aziz anak SR, dan sisanya anak teknik semua, jadi emang suka nggak nyambung, tapi saya nggak menyesal 'terjebak' di organisasi legislatif ini. Meskipun ibarat makan mah, cuma nyicip doang.

Terima kasih, ya, teman-teman Kongres! I can see bright future in front of you guys. Hati hati kalian yang memperjuangkan kebenaran akan selalu jadi panutan saya. Tsah mantap. See you on top!

Ar Rahiim

February 18, 2017

Pernah punya turning point dimana kamu merasa sadar kalau ngejar dunia nggak ada habisnya? Saya baru mengalami, dan alhamdulillah Allah ngizinin saya untuk mengalaminya. Turning point ini cuma disebabkan karena saya sadar sama satu hal, yang sering kita denger, sering kita ucapin tiap hari, tapi sering kita lupa buat memaknainya:

Allah Maha Penyayang.

Udah itu aja. Allah sesayang itu, gais, percaya nggak sih. Nggak habis pikir saya, sebesar apa rasa sayangNya sama makhlukNya. Nggak habis pikir saya, saya yang dosanya nggak bisa diitung lagi ini, masih Allah kasih sentilan biar melek lagi.

Gila ya, surga tuh seluas itu. Dan Allah selalu mau makhlukNya punya istana di sana, tapi kadang malah kitanya yang nggak mau. AmpunanNya sebesar itu, tapi kadang malah kitanya yang nggak balik-balik ke arah Dia. HidayahNya datang sesering itu, tapi kitanya suka sok sibuk sama urusan dunia, padahal nggak ada yang bisa dibawa ke kuburan pas kita mati.

Gais, Allah teh sesayang itu sama kita.


Pantai-pantai Malang

January 24, 2017

Januari awal tahun ini adalah waktu-waktu yang menyenangkan untuk saya karena saya berkesempatan untuk mengunjungi Malang bareng teman-teman. Yuhuw, Malang! Malang hingga saat ini adalah kota terjauh yang saya kunjungi di pulau Jawa. Agak aneh, ya, kalau baca judulnya. Biasanya orang kalau ke Malang mau ke gunung, ini mah ke pantai.

Tapi ada pantai di Malang! Di bagian Malang Selatan ada jajaran pantai yang bisa dicapai sekitar dua jam dari Kota Malang. Enaknya lagi, akses menuju semua pantai itu nggak susah sama sekali karena jalannya bagus, mulus. Petunjuk arahnya juga jelas, jadi nggak usah takut kesasar.


Jadi dari pertigaan, sebelum belok kiri dimana tempat pantai-pantai itu berada, ada sign system yang berukuran besar yang isinya daftar nama pantai-pantai yang diurutkan sesuai jaraknya. Enak banget, nggak sih? Setiap pantai juga punya plang nama sendiri di entrance-nya. Ya, karena udah terorganisir seperti itu, masuk pantainya juga jadi bayar. Rata-rata per pantai 5000 atau 10.000 rupiah, jadi siap-siap aja, ya, jangan semuanya didatengin juga haha.

Setiap pantai tentu beda-beda juga keadaannya. Ada yang masih bersih, ada yang udah agak bersampah. Yang agak bersampah mungkin pantai-pantai yang namanya sering disebut dan terkenal ya, kayak Goa Cina misalnya. Tapi secara umum pantai-pantai di Malang masih bersih-bersih, kok.

Kami ke sana juga waktu orang-orang lagi pada masuk sekolah dan kerja, jadi sangat sepiiii. Serasa pantai pribadi, soalnya cuma kami berlima isinya. Nggak enaknya? Nggak ada yang fotoin. Tapi akhirnya setelah ke beberapa pantai yang terkenal, orang-orangnya cukup ramai dan kami jadi bisa minta tolong orang untuk foto.




Bedanya sama pantai-pantai lain, pantai yang kami datangi ini kan termasuk pantai selatan, jadi ombaknya besar-besar. Nggak ada yang berenang atau surfing di sana, kebanyakan memang duduk-duduk di pinggir pantai atau di bawah pohon. Main ombak juga cuma di ujung-ujungnya doang. Setelah ombaknya sampai lutut, kami langsung lari lagi ke belakang hahaha. Takut tiba-tiba nggak sadar udah setinggi dada, kan bahaya ya.

Tapi angin pantainya adem, nggak panas. Pasir-pasirnya juga nggak kotor dan nggak bikin kotor. Maksudnya gampang dibersihin, gitu. Soalnya butir-butir pasirnya terdiri dari pecahan-pecahan karang, jadi memang agak besar dan kasar, sih.


Setelah tiga tahun, kembali ke pantai adalah sesuatu yang cukup menjernihkan pikiran buat saya, apalagi waktu yang dihabiskannya bareng temen-temen. Tiga hari di Malang dengan satu hari yang kami habiskan penuh untuk mengunjungi pantai-pantai itu udah berarti banget. Kadang ada hal-hal rumit yang bersarang lama di kepala kita, dan ternyata untuk melepaskan itu kita cuma butuh liburan bareng temen-temen.

Alhamdulillah masih bisa beach-hopping tahun ini. Semoga kita semua dikasih banyak kesempatan sama Allah buat ngerasain banyak karunia-Nya lagi, ya, tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya! ((((Hashtag Lombok 2018))))

Yok yok semangat LPJ, Sosker, Tugas Akhir! Haha.

On Turning 22

January 17, 2017


"We're happy, free, confused, and lonely at the same time
It's miserable and magical." - 22, Taylor Swift

I was counting days for a day I would sing 22 by Taylor Swift while turning 22, but as always the day you repeat your birthday runs faster than you ever imagine, you didn't realize it's night already.

I don't know, but nothing excites me that much anymore. Like switching calendar into a new year, or turning 22, that's just another normal day for me, I guess? On a birthday, though, things are a bit different because of surprises and cakes and wishes that are reserved only for you. Family, friends, so much to be grateful of.

This post were dedicated for those who made my birthday felt like a day worth to celebrate. Thank you, for the greetings and wishes. While I was trying to pick up the pieces of reason on why I should love myself more, you guys had made it easier.


Thank you for the cakes, presents, and presences. Thank you, Ibu, for everything I didn't ask for but you gave them without asking in return anyway. Thank you, Bapak, Lala, for always being there for me. Thank you, you two people with cake in your hands, you guys never fail to make me laugh. Thank you, Bang, for the mini cakes and err... things (things are complicated but thanks anyway).

Lol why so melancholic.

THANK YOU GUYS!! Lots of surprises ahead and adventure I have yet encountered. I promise me this year I'll love myself more. ;)

2016 is The Year I Felt Alive

January 03, 2017

To be honest, sebenernya saya nggak tertarik untuk bikin blogpost tentang tahun baru. Menurut saya tahun baru itu sama aja, cuma ganti kalender doang. Entah sejak kapan saya berpikir seperti ini, padahal dulu sempat ada masa-masa di mana saya merayakan tahun baru di rooftop memandangi kembang api bareng teman-teman. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sambil flashback ke bulan-bulan ke belakang, saya jadi sadar banyak hal yang saya rasakan di tahun 2016.

Kalau orang-orang bilang tahun 2016 itu seperti roller coaster; iya, memang begitu! Banyak hal yang ingin sekali saya lupakan karena ya... nggak mau diinget-inget aja. Tapi justru karena hal itu saya jadi sadar bahwa banyak hal yang berkecimpung di wilayah perasaan pada tahun 2016 kemarin, nggak seperti satu atau dua tahun sebelumnya di mana naik-turun emosinya cuma sebatas roller coaster versi ulil.


Would you subscribe to (print) magazines?

January 01, 2017

I used to subscribe to some kind of girl magazines back when I was still in my junior high years. It was always fun waiting for an arrival of the postman once a month to finally grab a copy of a new issue, curious what kind of bonus I would get that time. Since I love to read, reading a magazine is kind of a refreshment because it's not only filled with text but also with pictures of pretty girls and dresses, style updates, tips & tricks, et cetera. Being online was a strange idea back then because our access to internet wasn't as simple as today's, right? So there it was, a magazine, a handbook of updates of the world. So exciting.

With today's fast information I wonder how much struggle a print magazine company should bear to catch up and still maintain to be interesting enough for people to buy. I mean, you don't have to wait for a month to know that skinny jeans was not a 'thing' anymore. You can just click here and there, and then voila, 'What Styles are in and out for 2017'. You don't have to wait for the next issue.



I stopped subscribing magazines since God knows when. These past years, too, every time I walk into a bookstore, I skip the magazine area. Even though I finally check out some issues I always think twice to buy any of them. I don't know, I think why would I buy this when I can find the contents online by myself? (I can alter the money for more fantasy books!)

As I write this, my mind goes back to when a magazine could be very engaging. Contents like what to wear for your first day of school, do and don'ts of mixing patterns, psychology topic about a connection between you and your mom, and even short stories; I still remember lots of them! Man, I even still remember the stories' titles.

And so I came to realize that no, even today, digital package of information could not replace print publications, afterall. In print publications, magazines in this case, there's a lot of thoughts people put into. Magazine is going through many processes to finally arrive in our hands as one package. It's not about information as a piece, but a content as a whole. It's about who is putting together the content so that it could be useful and not lacking insights.

So, again. Would you subscribe to print magazines?

Theme by: Pish and Posh Designs