Tentang Hijrah

March 08, 2017

Hari ini saya senang karena betapa Allah ngasih saya rezeki berupa teman-teman yang baik! Di waktu yang sama ketika saya lagi membiasakan diri untuk memakai pakaian yang sesuai perintah-Nya, perlahan-lahan sahabat dekat saya juga ternyata punya struggle yang sama. Saya jadi nggak pernah ngerasa sendiri untuk berhijrah.

Temen-temen yang biasa lihat saya setiap hari mungkin menyadari ada yang berubah dari saya. Yang paling mencolok mah pasti penampilan. Banyak yang nyeletuk, eh nggak banyak sih da bukan artis, "Lah, Ca, pake rok?" "Wih pake kaus kaki." "Caca mulai pake kerudung yang panjang-panjang gitu ya?"

Pernah dibilang kayak orang hamil juga waktu pake dress, tp gpp. Wkwk.

Sebenernya kalau dari penampilan mah pada komen tiga hal itu doang sih, soalnya emang itu yang kelihatan perubahannya. Dulu saya malesssss banget pake rok. Ribet. Saya orangnya suka loncat-loncat gak jelas gitu soalnya. Dulu saya juga pantang pakai kaus kaki kecuali pada keadaan-keadaan tertentu seperti menghindari lecet dari sepatu baru. Soalnya nggak biasa. Aneh. Gak keren. Hahaha. Saya juga dulu kerudungnya yang model lempar ke belakang itu, biar keren. Serius alasannya itu. Biar nggak kayak ukhti-ukhti. Astaghfirullahaladzim padahal mah sama aja, nyampe keren level 1 juga nggak.

-


Pengalaman hijrah tiap orang pasti beda-beda, tapi saya nggak mau bahas itu sekarang. Karena kalau saya cerita malah jadi curhat. Meskipun diri saya yang sekarang masih jauh sekali dari kata baik, jauh sekali dari citra seorang muslimah, tapi saya sedang mencoba berjalan sedikit-sedikit, soalnya saya yakin Allah Maha Pengampun dan mau menerima perubahan saya.

Meskipun perubahan saya cuma seupil, saya yakin sebuah perubahan perlu dibagi sama orang-orang. Bukan dengan tujuan berbangga diri, ya, tapi begitu besarnya pengaruh sebuah keputusan hijrah pada orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.

Beberapa minggu setelah memutuskan untuk nggak melempar ujung kerudung ke belakang, saya ngerasa saya kok kayak riya banget gini ya, sok alim, posting-posting ayat atau ceramah pendek. Sungguh, terlepas dari niat sebenarnya, saya takut saya riya. Padahal saya cuma pengen temen-temen terdekat saya ngerasain nikmat yang sama ketika kamu menyadari ternyata Allah selama ini nggak kemana-mana, dan selalu nungguin kita kembali pada-Nya meski berapapun dosa yang kita lakukan. Saya cuma pengen temen-temen nggak dapet musibah dulu baru kemudian menyadari sinyal-sinyal hidayah Allah. Padahal sebenernya hidayah Allah bisa didapat cuma dengan satu klik dari ujung jempol tangan.

Tapi hari ini saya yakin, seberapa besarpun ragu-ragu yang kita rasain, keputusan hijrah dan prosesnya memang penting untuk dibagikan.

Hal itu diperkuat oleh kisah Umar bin Khattab (ra) ketika beliau baru masuk islam. Tau kan ya. Gitu la pokoknya panjang dan seru. Dan! Dan dan dan dan dan... sadar nggak sih ternyata, mungkin, akan ada orang-orang di sekitar kamu yang terinspirasi dan encouraged dari proses kamu berhijrah itu?

-

Saya seneng bukan main waktu di-chat sama seseorang yang kemudian cerita kalau dia juga pengen hijrah. Terus akhirnya dia mulai beli-beli kaus kaki. Dan besoknya saya di-chat lagi "Hari ini aku pake kaus kaki looohhh!!!"

Itu. Dia bilang salah satunya karena di-trigger sama postingan instagram saya yang foto kaki pake sepatu dan kaus kaki bintik-bintik emesh itu.

Ngerti gak? Ngerti kan betapa besar dampak yang kamu kasih cuma gara-gara berbagi proses hijrah???!! (Histeris) Duh saya seneng banget lah, belah dada saya kalo nggak percaya. Itu baru prosesnya, lho. Gimana kalau yang dibagi tuh kontennya lebih mantap lagi, kayak ilmu-ilmu agama, hadits Nabi (saw), bahkan ayat-ayat Al-Quran.

Kemudian saya juga jadi inget, perubahan saya ini datengnya dari mana lagi kalau bukan hidayah yang Allah titipin lewat proses hijrah temen-temen yang ada di sekitar saya? Dan sekarang banyak temen-temen yang suka ngingetin lewat postingan ayat, atau potongan ceramah, langsung ke saya. Beruntungnya saya ada di lingkungan ini.

Dari situ seharusnya kita sadar, setiap hal yang kita lakukan itu nggak terlepas dari pandangan dan isi hati orang lain. Selama apa yang kita sampaikan benar (Al-Quran udah teruji kebenarannya bahkan, dijamin sama Allah), dan dengan niat yang baik pula, nggak usah takut dibilang sok alim lah. Da emang kewajiban kita beribadah mah. Dari situ juga seharusnya kita sadar, karena apa yang kita lakukan akan selalu punya dampak untuk orang lain, maka kita harus mikir dua kali dulu kalau mau melakukan sesuatu. Bermanfaat gak ya ini? Outcome-nya apa, nih? Walaupun saya juga masih perlu diingatkan.

-

Pada akhirnya, ini juga jadi pelajaran buat saya untuk lebih memperbaiki diri. Kita nggak tau aja, mungkin di luar sana, atau salah satu follower instagram kita, ternyata terinspirasi dari kita. Dan inget nggak apa kata rasulullah (saw)?

“Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

MasyaaAllah.

Semoga semua urusanmu dilancarkan, ya, teman-temins!

No comments :

Post a Comment

Theme by: Pish and Posh Designs