Defending A Cause or A Mere Internet Persona?

April 25, 2017


Sejujurnya saya udah dua kali bikin draft mengenai pandangan saya tentang perempuan dan perannya untuk pendidikan dan nikah muda. Ya, di antara banyak opini-opini yang bisa kita temukan dengan gampang di Line, saya masih gatel buat ngomongin itu di sini.

Sebenernya postingan ini nggak berkaitan dengan topik itu, karena justru lebih luas lagi.

Begini, sekarang gampang banget buat mengemukakan pendapat perihal apapun di internet, orang-orang juga gampang bacanya. Sejujurnya saya seneng sama fenomena tiba-tiba-banyak-self-made-article-di-Line karena seringkali lewat situ bisa membuka wawasan juga tentang perspektif orang di luar media-media mainstream yang sebenernya nggak kalah gampang buat diakses juga sih. Atau mungkin saya beruntung aja karena berada dalam circle dan lingkungan yang memudahkan akses akan pemikiran-pemikiran kritis orang-orang hebat. Ya, pokoknya saya bersyukur karena bisa berada di lingkungan yang mendorong saya untuk lebih terbuka lagi pikirannya.

Tapi, tapi, sebagaimana ujian dalam aspek kehidupan kita semua (sedhap), artikel yang memuat pemikiran kontroversial ini biasanya jumlah likes, comments, dan sharenya banyak (biasanya yha, kalo di Line kan begitu ya, How to gain an Internet Fame via Line 101). Dan sadar nggak teman-teman, kalau ini adalah juga berupa ujian terhadap ke-humble-an dan niat awal kita?

If you defending a cause, good! It's one of the good method to raise awareness, I must say. Line atau Instagram Story, yang sering kita anggap perannya 'yaudala ya cuma buat share doang' itu sebenernya powerful, lho, menurut saya. Target marketnya jelas, platformnya nggak seserius itu sehingga nggak bikin orang males buat baca. Powerful lah menurut saya mah. Saya juga suka sama orang-orang yang defending a cause, meskipun misalnya bertentangan sama pendapat saya, tapi saya selalu dapet perspektif baru dari situ.

Terus apa hubungannya sama humble dan ujian dari likes bejibun?

Saya sih selama ini mikirnya kalau orang bisa berpendapat sebijak itu sehingga dia bisa defending a cause, berarti dia juga punya kapabilitas untuk memilih dan mencerna konten yang baik atau kredibel, berarti dia open-minded dan siap untuk menerima feedback apapun dari konten yang dia bagi itu. Istilahnya tanggung jawab lah gitu sama kontennya. Misalnya ketika kamu defending a cause on animal abuse, konten yang kamu share juga harus kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan dong? Apa ini berarti kita nggak boleh salah? Padahal kan kita manusia, bisa banget salah kapanpun, mau segimanapun kita mengolah dan mencerna data dari luar.

Nah, itu dia maksud saya kenapa dalam berbagi pendapat dalam bentuk apapun, kita harus membarenginya dengan sikap humble. Sadar, kalau kita nggak selamanya benar, kita bisa aja salah, dan ilmu kita terbatas. Hal ini yang kemudian ngebawa kita pada sikap kita dalam menyikapi feedback dari orang-orang. Apa yang bakal kamu lakukan kalo ternyata ada orang lain yang menyodorkan ke kamu data-data yang lebih kredibel dan bertolakbelakang dengan konten yang kamu bagi? Marah? Bete? Ngehapus komen orangnya? Atau, bersikap humble, menerima perbedaan pendapat, dan mengakui kalau kita salah? Mana yang lebih bertanggungjawab?

Terus kenapa saya jadi bawa-bawa fenomena artikel self-made di Line? Karena likes, comments, shares, itu tuh ujian dan godaan buat orang-orang yang pengen kontennya dibaca. Dan sikap orang yang membagi konten dalam menyikapi likes, comments, shares dari orang lain itu tuh bisa nunjukin mana orang yang emang bener-bener pengen defending a cause to raise awareness, dan mana yang cuma pengen artikelnya dishare banyak orang so it can build her/his internet persona. Banyak, banyak banget orang yang ngakunya feminis, open-minded, tapi sekalinya ada komen yang perspektifnya bertentangan sama dia, nggak bisa nerima.

Ya, ini juga pendapat pribadi, dan bisa banget banyak salahnya. Cuma saya dan Tuhan yang tau niat saya bener apa enggak. Tapi saya nggak se-lepas-tanggung-jawab itu buat menghapus komentar feedback orang lain yang misalnya bertentangan atau lebih makes sense dari saya.

Saya mau berbagi, tapi saya juga mau belajar.

Theme by: Pish and Posh Designs