Pantai-pantai Malang

January 24, 2017

Januari awal tahun ini adalah waktu-waktu yang menyenangkan untuk saya karena saya berkesempatan untuk mengunjungi Malang bareng teman-teman. Yuhuw, Malang! Malang hingga saat ini adalah kota terjauh yang saya kunjungi di pulau Jawa. Agak aneh, ya, kalau baca judulnya. Biasanya orang kalau ke Malang mau ke gunung, ini mah ke pantai.

Tapi ada pantai di Malang! Di bagian Malang Selatan ada jajaran pantai yang bisa dicapai sekitar dua jam dari Kota Malang. Enaknya lagi, akses menuju semua pantai itu nggak susah sama sekali karena jalannya bagus, mulus. Petunjuk arahnya juga jelas, jadi nggak usah takut kesasar.


Jadi dari pertigaan, sebelum belok kiri dimana tempat pantai-pantai itu berada, ada sign system yang berukuran besar yang isinya daftar nama pantai-pantai yang diurutkan sesuai jaraknya. Enak banget, nggak sih? Setiap pantai juga punya plang nama sendiri di entrance-nya. Ya, karena udah terorganisir seperti itu, masuk pantainya juga jadi bayar. Rata-rata per pantai 5000 atau 10.000 rupiah, jadi siap-siap aja, ya, jangan semuanya didatengin juga haha.

Setiap pantai tentu beda-beda juga keadaannya. Ada yang masih bersih, ada yang udah agak bersampah. Yang agak bersampah mungkin pantai-pantai yang namanya sering disebut dan terkenal ya, kayak Goa Cina misalnya. Tapi secara umum pantai-pantai di Malang masih bersih-bersih, kok.

Kami ke sana juga waktu orang-orang lagi pada masuk sekolah dan kerja, jadi sangat sepiiii. Serasa pantai pribadi, soalnya cuma kami berlima isinya. Nggak enaknya? Nggak ada yang fotoin. Tapi akhirnya setelah ke beberapa pantai yang terkenal, orang-orangnya cukup ramai dan kami jadi bisa minta tolong orang untuk foto.




Bedanya sama pantai-pantai lain, pantai yang kami datangi ini kan termasuk pantai selatan, jadi ombaknya besar-besar. Nggak ada yang berenang atau surfing di sana, kebanyakan memang duduk-duduk di pinggir pantai atau di bawah pohon. Main ombak juga cuma di ujung-ujungnya doang. Setelah ombaknya sampai lutut, kami langsung lari lagi ke belakang hahaha. Takut tiba-tiba nggak sadar udah setinggi dada, kan bahaya ya.

Tapi angin pantainya adem, nggak panas. Pasir-pasirnya juga nggak kotor dan nggak bikin kotor. Maksudnya gampang dibersihin, gitu. Soalnya butir-butir pasirnya terdiri dari pecahan-pecahan karang, jadi memang agak besar dan kasar, sih.


Setelah tiga tahun, kembali ke pantai adalah sesuatu yang cukup menjernihkan pikiran buat saya, apalagi waktu yang dihabiskannya bareng temen-temen. Tiga hari di Malang dengan satu hari yang kami habiskan penuh untuk mengunjungi pantai-pantai itu udah berarti banget. Kadang ada hal-hal rumit yang bersarang lama di kepala kita, dan ternyata untuk melepaskan itu kita cuma butuh liburan bareng temen-temen.

Alhamdulillah masih bisa beach-hopping tahun ini. Semoga kita semua dikasih banyak kesempatan sama Allah buat ngerasain banyak karunia-Nya lagi, ya, tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya! ((((Hashtag Lombok 2018))))

Yok yok semangat LPJ, Sosker, Tugas Akhir! Haha.

On Turning 22

January 17, 2017


"We're happy, free, confused, and lonely at the same time
It's miserable and magical." - 22, Taylor Swift

I was counting days for a day I would sing 22 by Taylor Swift while turning 22, but as always the day you repeat your birthday runs faster than you ever imagine, you didn't realize it's night already.

I don't know, but nothing excites me that much anymore. Like switching calendar into a new year, or turning 22, that's just another normal day for me, I guess? On a birthday, though, things are a bit different because of surprises and cakes and wishes that are reserved only for you. Family, friends, so much to be grateful of.

This post were dedicated for those who made my birthday felt like a day worth to celebrate. Thank you, for the greetings and wishes. While I was trying to pick up the pieces of reason on why I should love myself more, you guys had made it easier.


Thank you for the cakes, presents, and presences. Thank you, Ibu, for everything I didn't ask for but you gave them without asking in return anyway. Thank you, Bapak, Lala, for always being there for me. Thank you, you two people with cake in your hands, you guys never fail to make me laugh. Thank you, Bang, for the mini cakes and err... things (things are complicated but thanks anyway).

Lol why so melancholic.

THANK YOU GUYS!! Lots of surprises ahead and adventure I have yet encountered. I promise me this year I'll love myself more. ;)

2016 is The Year I Felt Alive

January 03, 2017

To be honest, sebenernya saya nggak tertarik untuk bikin blogpost tentang tahun baru. Menurut saya tahun baru itu sama aja, cuma ganti kalender doang. Entah sejak kapan saya berpikir seperti ini, padahal dulu sempat ada masa-masa di mana saya merayakan tahun baru di rooftop memandangi kembang api bareng teman-teman. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sambil flashback ke bulan-bulan ke belakang, saya jadi sadar banyak hal yang saya rasakan di tahun 2016.

Kalau orang-orang bilang tahun 2016 itu seperti roller coaster; iya, memang begitu! Banyak hal yang ingin sekali saya lupakan karena ya... nggak mau diinget-inget aja. Tapi justru karena hal itu saya jadi sadar bahwa banyak hal yang berkecimpung di wilayah perasaan pada tahun 2016 kemarin, nggak seperti satu atau dua tahun sebelumnya di mana naik-turun emosinya cuma sebatas roller coaster versi ulil.


Would you subscribe to (print) magazines?

January 01, 2017

I used to subscribe to some kind of girl magazines back when I was still in my junior high years. It was always fun waiting for an arrival of the postman once a month to finally grab a copy of a new issue, curious what kind of bonus I would get that time. Since I love to read, reading a magazine is kind of a refreshment because it's not only filled with text but also with pictures of pretty girls and dresses, style updates, tips & tricks, et cetera. Being online was a strange idea back then because our access to internet wasn't as simple as today's, right? So there it was, a magazine, a handbook of updates of the world. So exciting.

With today's fast information I wonder how much struggle a print magazine company should bear to catch up and still maintain to be interesting enough for people to buy. I mean, you don't have to wait for a month to know that skinny jeans was not a 'thing' anymore. You can just click here and there, and then voila, 'What Styles are in and out for 2017'. You don't have to wait for the next issue.



I stopped subscribing magazines since God knows when. These past years, too, every time I walk into a bookstore, I skip the magazine area. Even though I finally check out some issues I always think twice to buy any of them. I don't know, I think why would I buy this when I can find the contents online by myself? (I can alter the money for more fantasy books!)

As I write this, my mind goes back to when a magazine could be very engaging. Contents like what to wear for your first day of school, do and don'ts of mixing patterns, psychology topic about a connection between you and your mom, and even short stories; I still remember lots of them! Man, I even still remember the stories' titles.

And so I came to realize that no, even today, digital package of information could not replace print publications, afterall. In print publications, magazines in this case, there's a lot of thoughts people put into. Magazine is going through many processes to finally arrive in our hands as one package. It's not about information as a piece, but a content as a whole. It's about who is putting together the content so that it could be useful and not lacking insights.

So, again. Would you subscribe to print magazines?

Theme by: Pish and Posh Designs